Ngopi Bareng,Tradisi Sore Menyatukan Hati Di Sekretariat Pendidikan Al-Zaytun Indramayu
INDRAMAYU-JAYA NEWS COM – Menjelang Maghrib, suasana kantor Sekretariat Pendidikan Al Zaytun di lantai 1 Blok B Gedung Abu Bakar terasa berbeda. Di sana, para personil Sekretariat Pendidikan Al-Zaytun berkumpul di pantry kantor. Bukan untuk diskusi kerja, bukan pula agenda formal—melainkan untuk menjalankan sebuah tradisi yang telah berjalan lebih dari enam tahun,yaitu “ngopi bareng”.
Tradisi ini berawal dari masa sulit, saat pandemi COVID-19 melanda pada 2019. Ketika seluruh civitas Mahad harus menjalani lockdown total—tidak bisa keluar, tak ada yang bisa masuk—ngopi bareng menjadi pelipur lara.
Sebelumnya, kegiatan serupa memang sudah dilakukan, tetapi hanya sesekali. Baru saat masa krisis itulah ngopi bareng menjadi rutinitas harian yang dinantikan.
Di tengah keterbatasan, kopi dan cemilan menjadi pemersatu. Secara sukarela, setiap orang menyumbang yang mereka punya—oleh-oleh dari rumah, masakan sederhana, atau sekadar cemilan ringan. Namun yang dibagikan bukan sekadar makanan dan minuman, melainkan juga cerita, canda, dan rasa saling memahami. Tidak ada lagi batas antara atasan dan staf. Yang tercipta adalah keluarga—hangat dan saling merawat.
Dari Pantry ke Hati: Rumah Kedua Bernama Sekretariat
Ritual ngopi bareng ini lebih dari sekadar mengisi perut.
Menurut Wiena Safitri, ST., M.Kom., Kepala Sekretariat Pendidikan, ngopi bareng bersama, bukan hanya untuk menghilangkan rasa lapar, tapi menghidupkan kembali energi kebersamaan, menguatkan empati, dan menyuburkan komunikasi.
” Dari meja pantry sederhana itulah lahir sinergi yang luar biasa,” ujar Wiena kepada Jaya-News.com,Jumat 27 Juni 2025.
Tambahnya,tradisi ini juga menyentuh aspek psikologis yang tak tampak kasat mata. Ia membantu meredakan stres akibat tekanan kerja, memulihkan semangat, dan menjalin kelekatan antarpersonil. Suasana kerja pun menjadi lebih cair, kolaboratif, dan penuh tawa.
Bagi Marlinda, S.Pd., MAP., sekretariat pendidikan bukan sekadar tempat kerja.
“Sekretariat pendidikan adalah rumah pertama saya. Rumah pribadi malah jadi rumah kedua,” ungkapnya. Baginya, tiga perempat hidup dijalani di kantor. Tak heran jika sebelum berangkat dari rumah, yang terlintas di benaknya adalah, “Apa ya yang bisa saya bawa untuk dimakan bersama di sekretariat?” Sehingga tidak heran kalau mendapat julukan, “Emaknya orang sekre”—sebuah ungkapan yang menggambarkan keunikan, keakraban, dan semangat kekeluargaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang pernah merasakannya.
Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I ME, yang kini menjabat Ketua Majelis Pengendali Asrama (MPAP) pun masih menyempatkan sesekali datang hanya untuk melepas rindu.
“Ngopi Bareng di sekretariat itu ngangenin,” katanya. Pun demikian dengan Ustadzah Lela Nurlela, S.Pd., MP., yang kini bertugas sebagai guru ekstrakurikuler pertanian di Gedung Tansri. Baginya, tradisi ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan kerja dan kehidupan sosial di lingkungan Al-Zaytun.
Epilog: Meja Pantry, Meja Peradaban
Dalam hiruk-pikuk dunia kerja yang sering kaku dan birokratis, Sekretariat Pendidikan Al-Zaytun menemukan satu celah untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan—melalui tradisi ngopi bareng. Meja pantry menjadi simbol, bukan hanya tempat berbagi makanan dan minuman, tetapi juga tempat menumbuhkan kasih sayang, kepercayaan, dan kesetiaan dalam bekerja.
Maka tak berlebihan jika dikatakan, tradisi makan bersama di Sekretariat Pendidikan Al-Zaytun bukan sekadar kegiatan rutin—ia adalah ruh, denyut nadi, dan fondasi emosional yang memperkuat bangunan pendidikan itu sendiri. Sebuah kebiasaan sederhana yang ternyata mampu menciptakan peradaban kerja yang sehat, hangat, dan penuh makna.**
Ali Aminulloh
Kontributor
—
![]()
