Harmoni di Awal Tahun Hijrah: Merajut Kebangsaan dari Mahad Al-Zaytun
(Mengenal tradisi tradisi di Al Zaytun)
Oleh Ali Aminulloh
Kontributor Jaya News.com
Bagi sebagian besar masyarakat, peringatan 1 Muharram mungkin dianggap sebagai peristiwa biasa, tak semeriah gemuruh perayaan Tahun Baru Masehi pada 1 Januari. Media arus utama pun kerap larut dalam euforia pesta pora menyambut pergantian tahun. Namun, di balik keramaian itu, ada sebuah tradisi istimewa yang tumbuh dan berkembang di Mahad Al-Zaytun, Indramayu. Di sini, 1 Muharram atau 1 Syuro bukan sekadar penanda tahun baru hijriah, melainkan momentum yang penuh makna, merangkum nilai-nilai agamis dan kebangsaan secara mendalam.
Ketika Spirit Kebangsaan Bersemi di Awal Tahun
Sejak berdirinya Mahad Al-Zaytun pada tahun 1999, peringatan 1 Muharram telah menjadi agenda yang dinanti-nantikan. Momentum ini tidak hanya sarat dengan nuansa religius, tetapi juga kental dengan semangat kebangsaan. Ini adalah waktu di mana berbagai tokoh nasional berkumpul, berbagi gagasan, dan merumuskan langkah-langkah strategis demi kemajuan bangsa. Dari tahun ke tahun, cakupan partisipan semakin meluas, merangkul tokoh lintas agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga pimpinan pesantren. Kehadiran mereka menegaskan bahwa semangat kebangsaan adalah milik bersama, melampaui sekat-sekat perbedaan.
Puncak dari perhelatan ini kerap dipusatkan di Masjid Rahmatan Lil Alamin, sebuah nama yang mengandung makna rahmat bagi semesta alam. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga “titik kumpul” dan “titik temu” bagi para pemikir lintas agama. Pendeta, romo, pastor, biksu, tokoh aliran kepercayaan, tokoh Khonghucu, bahkan pegiat agama Yahudi, semuanya berbaur dalam satu tujuan: membicarakan kemajuan Indonesia. Suasana akrab dan dialogis ini seringkali menyisakan kesan mendalam. Tak jarang, beberapa pemuka lintas agama mengungkapkan pengalamannya, “Seumur-umur baru berpidato di masjid.” Pernyataan ini menunjukkan betapa kuatnya energi persatuan yang terpancar dari Mahad Al-Zaytun.
Melampaui Toleransi Menuju Kesetaraan
Fenomena ini menjadikan popularitas peringatan 1 Muharram di Al-Zaytun tidak lagi terbatas di kalangan umat Islam semata, tetapi telah merambah ke seluruh umat beragama. Momentum ini menjelma menjadi magnet bagi mereka yang merindukan harmoni, toleransi, dan perdamaian sejati. Seperti yang diungkapkan oleh Syaykh Al-Zaytun, makna dari kebersamaan ini harus melampaui sekadar toleransi. Toleransi, dalam pandangan beliau, masih menyiratkan adanya perbedaan, “Aku dan Kamu beda, namun Aku menghargai Kamu.” Syaykh Al-Zaytun mengajak semua pihak untuk membangun kesetaraan. “Aku dan Kamu adalah sama. Sama-sama manusia ciptaan Tuhan, sama-sama bangsa Indonesia.” Filosofi ini menjadi landasan kuat untuk secara bersama-sama membangun negeri ini dengan semangat harmoni. Sungguh indah jika gagasan kesetaraan ini dapat meresap menjadi jiwa bangsa.
Untuk memperkuat ikatan kebersamaan, setiap pertemuan selalu diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah doa kebangsaan yang mengikat hati sanubari, disusul dengan lagu-lagu nasional lainnya untuk membangkitkan asa dan semangat membangun negeri. Dari civitas Al-Zaytun sendiri, para santri, tenaga pendidik dan kependidikan, orang tua santri, serta para pemangku kepentingan Al-Zaytun turut hadir. Kehadiran mereka memberikan pendidikan nyata kepada para pelajar dan mahasiswa tentang bagaimana persatuan bangsa harus dirawat dan dijaga. Ini selaras dengan nama masjidnya, Rahmatan Lil Alamin, dan juga merupakan perwujudan dari moto Al-Zaytun: “Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.”
Epilog
Dalam riuhnya hiruk pikuk dunia modern, Mahad Al-Zaytun hadir sebagai oase, menawarkan perspektif baru tentang bagaimana merayakan awal tahun dengan cara yang lebih bermakna. Lebih dari sekadar perayaan tahun baru, 1 Muharram di Al-Zaytun adalah manifestasi nyata dari cita-cita persatuan, toleransi, dan kesetaraan yang bersemi di tanah air. Ini adalah bukti bahwa di tengah keberagaman, kita bisa bersatu, berdialog, dan berkarya demi Indonesia yang lebih baik, mengukir harmoni di setiap denyut nadi kebangsaan.**
Indramayu, 23 Juni 2025
—
![]()
