Harmoni Tiga Stanza: Mengukir Jiwa Bangsa Dalam Simfoni Indonesia Raya
(Mengenal Tradisi-Tradisi Di Al Zaytun)
Oleh Ali Aminulloh
Kontributor Jaya-Newsmcom
Di tengah hiruk-pikuk modernitas, ada sebuah melodi yang terus bergaung, tak hanya sebagai lagu, melainkan sebagai doa kebangsaan dan ruh jiwa bangsa. Ia adalah “Indonesia Raya”, sebuah mahakarya yang lahir dari gundah gulana penjajahan dan menjadi pemantik asa. Namun, berapa banyak dari kita yang benar-benar mengenal dan menghayati ketiga stanzanya? Kisah inspiratif dari sebuah lembaga pendidikan, Al Zaytun, bukan hanya sekadar merawat tradisi, tetapi juga berupaya membangkitkan kembali semangat kebangsaan yang utuh melalui nyanyian lengkap “Indonesia Raya” setiap hari. Ini bukan hanya tentang musik; ini tentang mengukir kembali jati diri bangsa dalam setiap getaran nada dan lirik.
1. Gema Pagi di Al Zaytun: Tradisi Kebangsaan yang Menginspirasi Gerakan Nasional
Setiap pagi pukul 06.45, suasana di Al Zaytun diselimuti oleh alunan syahdu lagu Indonesia Raya tiga stanza. Dari siswa PAUD hingga mahasiswa perguruan tinggi, termasuk para karyawan yang sedang mengikuti briefing pagi, semuanya bersatu dalam melodi kebangsaan ini. Tradisi yang dimulai sejak tahun 2016 ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah penanaman karakter kebangsaan yang mendalam, sebuah ikhtiar untuk mencintai negeri ini dengan sepenuh hati.
Inisiatif ini kemudian disosialisasikan lebih luas oleh Syaykh Al Zaytun dan keluarga besarnya melalui program fenomenal “Sepeda Sehat Keliling Jawa” pada Juni 2017. Sebanyak 405 peserta mengayuh sepeda sport sejauh 2.727 km selama 23 hari, menyusuri jalan Pantura. Lebih dari sekadar mewujudkan masyarakat sehat, ekspedisi ini membawa misi kebangsaan yang luhur: mensosialisasikan lagu Indonesia Raya 3 stanza. Para peserta menyanyikannya setidaknya dua kali sehari—saat keberangkatan dan setibanya di kota peristirahatan.
Momen-momen ini menjadi ajang penting untuk berinteraksi dengan tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan setempat, termasuk bupati, kapolres, dandim, tokoh pendidikan, agama, dan pemuda. Pada setiap pertemuan, Syaykh memperkenalkan lagu Indonesia Raya 3 stanza secara lengkap. Reaksi yang muncul kerap mengejutkan: mayoritas, bahkan hampir seluruhnya, belum pernah menyanyikan Indonesia Raya secara lengkap. Ada yang bahkan bertanya, “Maaf, lagu stanza ke-2 dan ke-3 itu karangan Syaykh?” Pertanyaan ini, yang muncul berulang kali di berbagai kota, menyoroti jurang pemahaman yang dalam tentang lagu kebangsaan kita sendiri.
2. Mengukuhkan Doa Kebangsaan: Perjalanan Legislasi dan Pengakuan Resmi
Gerakan masif yang diinisiasi oleh Al Zaytun ini tampaknya memiliki gaung yang signifikan. Entah kebetulan atau memang terinspirasi, pada tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2018 tentang tata cara upacara bendera yang mewajibkan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza pada upacara resmi. Kebetulan ini bisa jadi bukan kebetulan semata.
Pada etape ke-20 perjalanan “Sepeda Sehat”, rombongan Al Zaytun mampir ke Gedung DPR/MPR dan diterima langsung oleh Ketua MPR saat itu, Bapak Zulkifli Hasan. Pada momen itulah Syaykh Al Zaytun secara langsung mengajak bangsa Indonesia untuk membudayakan “doa kebangsaan” melalui nyanyian Indonesia Raya 3 stanza. Ini adalah upaya untuk mendorong pengakuan resmi dan pengimplementasian lagu kebangsaan secara utuh. Sejatinya, lagu Indonesia Raya 3 stanza ini sudah diundangkan sebagai lagu kebangsaan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Pengesahan ini akan menjadi payung hukum yang kuat untuk memastikan bahwa keseluruhan lirik dan melodi yang diciptakan WR Supratman benar-benar menjadi jiwa bangsa.
3. Melacak Ruh dan Jiwa: Genealogi Indonesia Raya dan Efek Menenangkan Nyanyian
Untuk memahami mengapa Indonesia Raya 3 stanza harus dihayati, kita perlu melihat kembali genealogi kelahirannya. Lagu ini diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman pada tahun 1924 dalam suasana kebatinan bangsa yang sedang terjajah. Di masa itu, banyak masyarakat, bahkan sebagian elit negeri, merasa putus asa dan memilih jalur aman dengan berkonspirasi dengan penjajah. Namun, WR Supratman memilih jalan cerdas: menciptakan lagu yang membangkitkan asa bangsa untuk hidup terhormat, bebas dari belenggu penjajahan. Lagu ini menjadi inspirasi dan peniup semangat kebangkitan.
Pada tahun 1926, notasinya dilengkapi dengan biola sebagai pengiring. Puncak dari perjuangan WR Supratman adalah saat lagu ini pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 28 Oktober 1928, dinyanyikan dalam Kongres Pemuda. Dari sanalah lahir tekad bulat para pemuda yang kemudian tertuang dalam Sumpah Pemuda. Lagu ini kemudian dikukuhkan sebagai lagu kebangsaan melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009.
Menurut Syaykh AS Panji Gumilang, lagu Indonesia Raya 3 stanza bukan sekadar nyanyian; ia adalah “doa kebangsaan, ruh, dan jiwa bangsa”. Oleh karena itu, sudah seyogianya untuk dihadapi secara mendalam. Perubahan besar selalu bermula dari jiwa. Sebagaimana firman Allah: “Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga ia merubah nafs (jiwanya).” Upaya Al Zaytun yang mewajibkan seluruh elemen menyanyikan Indonesia Raya setiap hari dan di setiap acara adalah bagian dari ikhtiar menanamkan karakter kebangsaan, agar cinta tanah air meresap ke relung-relung jiwa anak bangsa. Nyanyian memiliki efek “calming”, di mana pesan kebangsaan akan tersampaikan melalui getaran jiwa dari lagu yang dinyanyikan secara khidmat. Ini adalah cara yang kuat untuk membentuk identitas nasional dan menjaga kobaran semangat persatuan.
Epilog
Setiap nada yang kita lantunkan dari “Indonesia Raya”, setiap lirik yang kita resapi, adalah jembatan menuju masa lalu, jembatan menuju masa depan. Ia adalah warisan tak ternilai dari para pendahulu yang berjuang demi kemerdekaan. Dalam harmoni tiga stanza, kita bukan hanya mengenang perjuangan, tetapi juga meneguhkan janji untuk menjaga Indonesia tetap abadi. Mari jadikan nyanyian ini lebih dari sekadar melodi, tetapi denyut nadi kebangsaan yang senantiasa berdetak dalam jiwa kita. Karena dari jiwa yang kuat, lahirlah bangsa yang besar, bersatu, dan tak tergoyahkan. Bravo Al Zaytun, Bravo Indonesia Raya, Bravo Indonesia!**
Gantar Indramayu,22 Juni 2025
—
![]()
