Prof.Dr.Sutrisna Wibawa,M.Pd: Pendidikan Adalah Jalan Menuju Indonesia Emas

Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.: Pendidikan Adalah Jalan Menuju Indonesia Emas


GANTAR,INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Pelatihan Pelaku Didik Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama,yang digagas oleh Al-Zaytun dilaksanakan pada Minggu 1 Juni 2025,di Komplek Al-Zaytun,Gantar Indramayu Jawa Barat.

Diisi oleh pemaparan inspiratif dari Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., guru besar dan mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY),berjudul Pendidikan Adalah Jalan
Menuju Indonesia Emas.

Dengan penuh semangat, Prof. Sutrisna membuka dengan pekikan “Merdeka!” dan disambut dengan yel-yel: “Al-Zaytun! Maju terus! Belajar terus! Bersatu!”

Ia menguraikan, bahwa dunia saat ini tengah memasuki era Society 5.0, yang ditandai dengan pergeseran besar dalam cara manusia bekerja, belajar, dan hidup. Kecerdasan buatan, Internet of Things, dan disrupsi digital bukan lagi masa depan, tetapi kenyataan yang harus dihadapi. Karena itu, sistem pendidikan Indonesia harus bertransformasi total.

Prof. Sutrisna memetakan empat revolusi pendidikan—dari masyarakat lisan, tulis, cetak, hingga era digital—dan menekankan pentingnya menyesuaikan pendidikan dengan kodrat zaman dan kodrat alam, sebagaimana diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Ia menyampaikan, bahwa Indonesia memerlukan sistem wajib belajar 15 tahun, pendidikan berasrama yang membentuk Jalmo Kang Utomo—manusia utama yang cerdas, adaptif, dan bermoral. Ia juga memaparkan pentingnya mengubah cara berpikir masyarakat dari fixed mindset menjadi growth mindset, dan membangun budaya inovasi serta kewirausahaan sejak dini.

Mengakhiri presentasinya, Prof. Sutrisna mengajak seluruh peserta dan rakyat Indonesia untuk berkomitmen membangun negeri.

“Dari Al-Zaytun kita wujudkan Indonesia Emas, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur,” serunya, disambut tepuk tangan panjang.

Penutup Syaykh: Dari Tembang Jawa ke Lumbung Peradaban

Pelatihan ditutup kembali oleh Syaykh AS Panji Gumilang, yang menyampaikan aksentuasi penutup melalui tembang masa kecil berbahasa Jawa: “Duh prokonco, kangudi kawruh utomo, mojo lali mring pambudi ning bongso, jalmo utomo.”

Syair ini, kata beliau, adalah penanda arah pendidikan—yakni mencetak manusia utama demi kemaslahatan bangsa.
Beliau menyampaikan bahwa nilai-nilai budaya lokal mengandung inti peradaban yang harus diangkat kembali ke permukaan. Ia menekankan konsep L-STEAM (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) sebagai fondasi kurikulum masa depan: perpaduan antara hukum, sains, teknologi, seni, dan nilai-nilai kultural.
Syaykh juga mengingatkan pentingnya dokumentasi manual—dengan pena dan kertas—sebagai cara menjaga daya pikir dan menghormati ilmu.

Ia menyampaikan, bahwa sistem pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan anggaran, tapi harus dibangun dari kemandirian pangan, ketertiban sosial, dan keberanian membangun dari bawah.

Dengan suara yang jernih dan dalam, ia mengajak seluruh rakyat untuk tidak berhenti belajar, dan menjadikan pendidikan sebagai bagian dari hidup itu sendiri.

“Belajar bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk pambudi ning bongso—pengabdian kepada bangsa,” ujarnya menutup pelatihan dengan penuh wibawa.

Dari Simposium ke Gerakan, Dari Al-Zaytun Menuju Indonesia Masa Depan

Apa yang terjadi di Al-Zaytun bukanlah pelatihan biasa. Ia adalah bibit perubahan yang ditanam dalam semangat gotong royong, ditumbuhkan oleh nilai, dan diarahkan menuju peradaban. Pendidikan tidak lagi diletakkan di atas bangku birokrasi, tetapi di atas ladang semangat dan nilai-nilai kebangsaan yang menyala.
Gagasan Transformasi Revolusioner Pendidikan Abad 21 adalah pemikiran penting dari ikhtiar ini yang telah didokumentasikan menjadi sebuah buku. Ia memuat narasi-narasi jujur, ide-ide besar, dan praktik nyata dari sebuah sistem pendidikan alternatif yang bisa ditiru, dikritisi, dan dikembangkan bersama. Jika Anda ingin tahu bagaimana pendidikan bisa membentuk karakter, membangun negara, dan menyelamatkan peradaban—maka bacalah buku ini.
Dan dari Al-Zaytun, jalan itu telah dibuka.***


(Ali Aminulloh)

—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!