Oleh : Jacob Ereste
Spiritual ditegakkan oleh etika, moral sebagai penyangga akhlak manusia yang diberkahi Tuhan sebagai khalifatullah fil ardhi di muka bumi. Tanpa spiritual, manusia hanya akan menjadi makhluk yang culas dan songong, mengumbar egosentrisitas dan ambisi pribadi tanpa mengindahkan orang lain yang mungkin terganggu atau dirugikan oleh ulahnya.
Karena itu manusia harus tahu diri sehingga dapat mengenal Tuhan. Begitulah keyakinan kaum sufi: _Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu_. Kenallah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu.
Dari kesadaran mengenal diri itulah lahir tiga pilar utama peradaban: Ta’adul, Jawara, dan Ulama.
*Ta’adul: Keseimbangan*
Ta’adul artinya seimbang. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Tidak ekstrem ke kanan, tidak ekstrem ke kiri.
Seimbang antara dunia dan akhirat. Seimbang antara hak dan kewajiban. Seimbang antara akal dan hati. Seimbang antara jasmani dan rohani. Seimbang antara kepentingan diri dan kepentingan masyarakat.
Manusia yang ta’adul tidak akan mabuk dunia sampai lupa Tuhan, dan tidak akan meninggalkan dunia seolah dunia itu haram. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi ibadahnya tetap jalan. Ia mengejar rezeki, tapi tidak dengan cara korupsi, menipu, dan merampas hak orang lain.
Ta’adul inilah yang menjadi fondasi etika. Tanpa ta’adul, manusia akan jatuh pada _ifrath_ (berlebihan) dan _tafrit_ (meremehkan). Dari situlah lahir korupsi yang merajalela, pendidikan yang dikomersialkan, haji yang dijadikan tambang duit, dan agama yang dijadikan casing untuk mengelabui orang banyak.
*Jawara: Penjaga Kebenaran*
Jawara bukan preman. Jawara bukan jagoan yang ditakuti.
Jawara sejati dalam tradisi Banten adalah _Jaga Wara_, menjaga diri dari yang haram. Berani karena benar, takut karena salah.
Jawara adalah santri sekaligus pendekar. Paginya mengaji, sorenya berlatih silat dan debus, malamnya tirakat dan dzikir. Badannya kuat, tapi hatinya lembut. Ilmunya tinggi, tapi adabnya lebih tinggi.
Ciri Jawara sejati adalah jujur, berani, amanah, rela berkorban, dan asih kepada sesama. Ia tidak menjual nama, tidak menjadi centeng kekuasaan, tidak memalak yang lemah.
Jawara yang palsu adalah jawara-jawaraan: sombong, songong, mau menang sendiri. Ia bukan pelindung, tapi penakut bagi rakyatnya sendiri.
Jawara yang ta’adul akan menjadi pelindung negeri. Ia berdiri di depan ketika kebenaran diinjak-injak, dan ia mundur ketika nafsunya hendak menguasai dirinya.
*Ulama: Pewaris Nabi*
Ulama bukan sekedar orang yang pandai berceramah atau bergelar tinggi. Esensi ulama adalah rasa takutnya kepada Allah.
_Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama_. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.
Ulama adalah _waratsatul anbiya_, pewaris para Nabi. Tugasnya bukan mencari duit, bukan mencari jabatan, bukan mencari panggung. Tugasnya menyampaikan kebenaran, membela yang lemah, dan mengingatkan penguasa yang zalim.
Ulama yang sejati itu zuhud, tidak silau dunia. Wara’, hati-hati menjaga diri. Tawadhu’, rendah hati, tidak songong. Istiqomah, konsisten, tidak berubah karena pesanan.
Jika ulama rusak, maka jawara akan menjadi preman, dan umara akan menjadi koruptor. Maka hancurlah negeri.
Tetapi jika ulama lurus, jawara tegak, dan umara adil, dan ketiganya berdiri dalam ta’adul, maka negeri itu akan menjadi _Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur_. Negeri yang baik, subur, aman, makmur, dan Tuhan yang Maha Pengampun.
Itulah cita-cita Indonesia. Bukan hanya kaya sumber daya alam, bukan hanya besar jumlah penduduk, tetapi kaya spiritual, kaya etika, kaya moral.
Pada saatnya, gerakan kebangkitan kesadaran spiritual harus menjadi mata pelajaran wajib dari setiap kelas hingga perguruan tinggi. Harus menjadi landasan dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan. Agar Ta’adul, Jawara, dan Ulama tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi kenyataan hari ini.
Jika itu terjadi, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang besar, tetapi akan menjadi mercusuar yang menerangi dunia. Pelopor dan pusat gerakan spiritual yang bersifat global dan universal. Tampak jelas tiga pilar filosofis suku bangsa Banten menjadi amalan Kapolri Suyudi Ario Seto memulihkan marwah Polri dengan muatan nilai spiritual yang luar biasa dengan cara yang paling sederhana, kembali bersama rakyat.
Banten, 7 November 2026
—-
![]()
