Oleh: Dr. H. Masduki Duryat, M.Pd.I., CLA., CFLS
( Rektor Institut Studi Islam Al-Amin Indramayu dan Dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon )
Dunia Pendidikan
Dunia pendidikan adalah dunia yang amat kompleks, menantang, dan mulia.
– Kompleks, karena spektrumnya sangat luas.
– Menantang, karena menentukan masa depan bangsa.
– Mulia, karena memanusiakan manusia.
Mutu Pendidikan Nasional dalam Komparasi Internasional
Mutu pendidikan Indonesia secara internasional masih tergolong rendah.
Berdasarkan hasil PISA 2022, Indonesia berada di peringkat 67 dari 81 negara untuk kemampuan matematika, literasi, dan sains.
Di tingkat ASEAN, Indonesia menempati posisi ke-6 dalam peringkat PISA.
Mutu Guru di Indonesia
Mutu guru di Indonesia dari sisi input masih rendah.
Data Balitbang Depdiknas, sebagaimana dikutip oleh Kusnandar (2007:41), menunjukkan bahwa dari peserta tes calon guru PNS, setelah dilakukan tes bidang studi, rata-rata skor seleksinya masih sangat rendah.
– 6.164 calon guru Biologi: rata-rata skor 44,96
– 396 calon guru Kimia: rata-rata skor 43,55
– 7.558 calon guru Bahasa Inggris: rata-rata skor 37,57
– 7.863 calon guru Matematika: rata-rata skor 27,67
– 1.164 calon guru Fisika: rata-rata skor 27,35
Kondisi Mutu Guru
– Hasil UKG dengan nilai minimal 80 tidak lebih dari 30%.
– 70% dari total kepala sekolah juga belum memiliki kompetensi standar.
– Tahun 2015, nilai guru rata-rata nasional:
– Guru TK: 43,74 poin
– Guru SD: 40,14 poin
– Guru SMP: 44,14 poin
– Guru SMA: 45,38 poin
– Sampai tahun 2017, nilai rata-rata belum mencapai 70 poin.
– Persentase guru yang memenuhi standar kualifikasi akademik nasional meningkat menjadi 97,33% pada tahun ajaran 2023/2024.
– Jumlah guru di Indonesia pada tahun ajaran 2025/2026 mencapai 3,47 juta orang.
– Rasio nasional murid-guru sudah mencapai kondisi ideal pada tahun ajaran 2024/2025, dengan rata-rata 15 siswa per guru di SD, 14 di SMP, dan 20 di SMA.
Guru-guru yang kompeten memang banyak, tetapi jauh lebih dominan guru yang belum kompeten.
Rapor Merah Pendidikan
Menurut Prof. Hafid Abbas, terdapat paradoks dalam pengelolaan pendidikan.
Anggaran pendidikan terus meningkat, yaitu:
– Rp444 triliun pada APBN 2018
– Rp508 triliun pada APBN 2020
– Rp769,09 triliun dalam APBN 2026
Namun, PISA Indonesia justru mengalami penurunan.
Menurut World Bank, kualitas pendidikan Indonesia termasuk yang terendah di ASEAN. Disebutkan bahwa 55% anak usia 15 tahun buta huruf, sedangkan Vietnam kurang dari 10%.
Sertifikasi guru belum berbanding lurus dengan mutu, kecuali dalam menurunkan jumlah guru yang bekerja rangkap dari 33% menjadi 7%.
Selain itu, Indonesia mengalami surplus jumlah guru. Menurut Prof. Hafid Abbas, diperlukan standarisasi dan pendidikan tidak seharusnya hanya diarahkan untuk kepentingan praktis.
Penyebab Rendahnya Mutu Guru
Menurut Dudung Nurullah Koswara, Ketua PB PGRI, beberapa penyebabnya adalah:
1. Rendahnya minat belajar, membaca, menulis, dan menghasilkan karya media pembelajaran.
2. Malas mengikuti organisasi sehingga guru teralinasi dari dunianya.
3. Banyak guru yang belum tersentuh pelatihan.
4. Kesejahteraan yang masih kurang.
5. Berada di zona nyaman dan zona lugu serta tidak menyukai tantangan atau memiliki daya berontak untuk berubah.
Paradoks Guru
Permasalahan guru dapat dilihat dari tiga sisi:
– Surplus jumlah guru
– Defisit kualitas
– Distribusi tidak merata
Akar Masalah
Akar masalah pendidikan antara lain:
1. Pembelajaran hafalan.
2. Minim budaya literasi.
3. Evaluasi tidak kritis.
Kondisi yang Dihadapi
– SDM rendah.
– Ekonomi agraris.
– Pendidikan belum menjadi alat mobilitas.
– Anggaran tersedia.
– Masalah governance.
Solusi
Beberapa solusi yang ditawarkan:
1. Fokus pada literasi dan numerasi.
2. Reformasi guru.
3. Evaluasi berbasis hasil.
Kasus Indramayu
Indramayu: Literasi dan Numerasi
Indramayu menunjukkan kinerja literasi yang cukup baik dibandingkan daerah lain di Jawa Barat. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) mencapai 84,6 pada tahun 2024.
Nilai tersebut menempatkan Indramayu di atas beberapa kabupaten tetangga, seperti:
– Subang: 58,29
– Karawang: 63,06
Meskipun IPLM mencapai 84,6, tingkat kegemaran membaca masyarakat berada pada angka 75,58.
Dalam hal numerasi, secara umum di Jawa Barat rata-rata kemampuan literasi numerasi siswa masih berada dalam kategori “cukup”. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang kurang kontekstual dan rendahnya kesiapan pendidik.
Rekomendasi Daerah
Beberapa rekomendasi yang diberikan adalah:
1. Program Literasi Desa
2. Pelatihan Guru
3. Intervensi Siswa Lemah
Penutup
Anggaran ada—jika tidak ada efisiensi, masalah terdapat pada persoalan implementasi dan profesionalisme guru/manusia.
SDM lemah = ekonomi stagnan.
Indramayu, 22 Agustus 2026
Catatan Redaksi
Tulisan tersebut merupakan materi pada Rapat Kerja dan Rapat Koordinasi Komisi, Lembaga, dan MUI Kecamatan di Hotel Istana Bumi Jagat (IBL) Balongan yang diselenggarakan MUI Kabupaten Indramayu.
——-
![]()
