Keluarga Besar PKBM Al Zaytun dan Hangatnya Lebaran yang Tak Pernah Usai
Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
Lebaran boleh saja berlalu hitungan hari, tetapi kehangatan yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar pergi. Di sudut-sudut kampung, di ruang tamu yang masih menyisakan toples kue, hingga dalam jabat tangan yang tulus, Idul Fitri terus hidup, terutama di tengah keluarga besar PKBM Al Zaytun.
Hari itu, Sabtu, 21 Maret 2026, bertepatan dengan 1 Syawal 1447 H, langit tampak cerah seolah turut menyambut kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan. Seusai melaksanakan shalat Idul Fitri, suasana berubah menjadi penuh suka cita. Hidangan khas seperti ketupat, opor, rendang, serta aneka kue tersaji rapi di meja-meja rumah, siap menyambut siapa saja yang datang bersilaturahmi.

Begitu pula dengan warga belajar, alumni, dan tutor PKBM Al Zaytun. Meski sebagian tidak mudik, mereka tetap melaksanakan shalat Id di lingkungan masing-masing, bahkan ada yang memilih beribadah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Ma’had Al Zaytun. Namun, esensi Lebaran tidak berhenti di sajadah. Ia berlanjut dalam langkah kaki yang saling mengunjungi, menyapa, dan menguatkan ikatan persaudaraan
Memasuki hari keenam pasca-Lebaran, tepatnya Kamis, 26 Maret 2026, suasana Idul Fitri masih terasa kuat di wilayah Blok Gabel, Gantar, dan sekitarnya. Jalanan kampung masih ramai, pakaian baru masih dikenakan, dan rumah-rumah tetap terbuka bagi tamu. Toples-toples kue memang mulai berkurang isinya, tetapi semangat silaturahmi justru semakin terasa.
Di tengah suasana itu, kalimat-kalimat penuh makna terus terucap: “Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” disambut dengan “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Sebuah tradisi sederhana, namun sarat nilai. Memaafkan dengan tulus dan membuka lembaran baru dengan hati yang lapang.
Bagi para perantau di Indramayu, termasuk keluarga besar PKBM Al Zaytun, momen ini menghadirkan kehangatan tersendiri. Meski jauh dari kampung halaman, rasa kekeluargaan tetap tumbuh kuat. Solidaritas antara tutor, warga belajar, dan alumni menjadikan mereka tidak sekadar komunitas belajar, melainkan keluarga yang saling menguatkan.
Tradisi halal bihalal pun menjadi puncak dari kebersamaan ini. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi simbol rekonsiliasi sosial, yaitu ruang untuk saling memaafkan, mempererat hubungan, dan memperkuat rasa persaudaraan. Nilai ini sejalan dengan pesan dalam QS. Ali ‘Imran: 159 yang mengajarkan kelembutan hati, saling memaafkan, dan bertawakal kepada Allah.
Dalam praktiknya, halal bihalal hadir dalam berbagai bentuk: kunjungan dari yang muda kepada yang tua, dari murid kepada guru, dari warga belajar kepada tutor, hingga antar sesama rekan kerja dan komunitas. Semua larut dalam suasana penuh hormat dan kasih.
Seperti yang tampak dalam kunjungan hangat ke rumah tutor Sri Wahyuni. Warga belajar seperti Karsini, Imas Mastini, dan Sukarti datang bersilaturahmi. Disusul para alumni seperti Maetun dan keluarga, Puji dan keluarga, Wiji Lestari dan keluarga, Indrawati dan keluarga, serta Lia Samirah. Tak ketinggalan, sesama tutor seperti Nur Rohmah dan Siti Rohmah juga hadir bersama keluarga, mempererat jalinan kebersamaan.
Semua pertemuan itu menyiratkan satu hal: hubungan di PKBM Al Zaytun bukan sekadar hubungan akademik, tetapi hubungan hati. Halal bihalal menjadi jembatan yang menghubungkan bukan hanya individu, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan persatuan.
Lebaran pun menemukan maknanya yang sejati, yaitu bukan hanya tentang kembali suci secara pribadi, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. Di PKBM Al Zaytun, Idul Fitri menjelma menjadi energi baru untuk melangkah bersama, memperkuat harmoni antara tutor, warga belajar, dan alumni.
Karena pada akhirnya, yang membuat Lebaran tetap hidup bukanlah tanggalnya, melainkan rasa yang terus dijaga: rasa memiliki, rasa memaafkan, dan rasa menjadi satu keluarga besar.
Indramayu, 26 Maret 2026
—–
![]()
