Jangan Tunggu Hutan Tinggal Cerita


JANGAN TUNGGU HUTAN TINGGAL CERITA

(Hari Hutan Indonesia dan Alarm bagi Peradaban)

Oleh Ali Aminulloh

Pohon-pohon tumbang tanpa suara. Bukit-bukit kehilangan hijaunya. Mata air perlahan mengecil. Sungai membawa lumpur. Udara terasa makin panas. Lalu ketika hujan turun dengan deras, manusia terkejut melihat air datang membawa kayu, tanah, batu, bahkan menghanyutkan rumah dan kehidupan.

Kita menyebutnya bencana.

Padahal, boleh jadi sebagian dari bencana itu adalah pesan yang terlalu lama kita abaikan.

Hutan sedang terluka. Dan ketika hutan terluka, manusia sesungguhnya sedang melukai masa depannya sendiri.

Setiap 7 Agustus, Indonesia memperingati Hari Hutan Indonesia. Peringatan ini bukan sekadar perayaan terhadap hamparan hijau yang masih tersisa. Ia seharusnya menjadi momentum untuk bercermin: sudah seberapa jauh manusia menjaga bumi yang menjadi tempat hidupnya?

Hari Hutan Indonesia lahir dari gerakan masyarakat sipil Hutan Itu Indonesia. Gagasan ini mulai diperjuangkan sejak 2017 melalui petisi publik, kemudian diperingati secara luas untuk pertama kalinya pada 7 Agustus 2020 dengan melibatkan berbagai organisasi, komunitas, anak muda, akademisi, masyarakat adat, dan pegiat lingkungan.

Tanggal 7 Agustus dipilih pada bulan kemerdekaan Indonesia. Pilihan itu mengandung pesan penting: kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan manusia terhadap manusia. Kemerdekaan juga harus memberi ruang kepada generasi mendatang untuk menikmati udara bersih, air yang cukup, tanah yang subur, dan hutan yang tetap hidup.

Pada 2026, semangat Hari Hutan Indonesia dirangkum dalam tema “Pulihkan Hutan, Pulihkan Kehidupan.”

Sebuah kalimat sederhana yang menyimpan pesan besar.

Sebab yang kita pulihkan sesungguhnya bukan hanya pohon.

Yang kita pulihkan adalah kehidupan.

Hutan Kita Luas, tetapi Terus Terluka

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia. Sekitar 95,5 juta hektare daratan Indonesia masih berhutan.

Angka itu membanggakan.

Tetapi jangan buru-buru merasa aman.

Di balik hamparan hijau itu, kehilangan hutan masih berlangsung dalam skala besar. Data pemerintah menunjukkan deforestasi netto pada 2024 mencapai sekitar 175 ribu hektare. Sementara sejumlah pemantauan independen dengan metode berbeda menunjukkan kehilangan tutupan hutan dapat mencapai ratusan ribu hektare dalam satu tahun.

Ratusan ribu hektare.

Angka itu mudah dibaca di atas kertas. Tetapi bayangkan bentang alam yang sesungguhnya.

Di dalamnya terdapat jutaan pohon.

Ada sarang burung.

Ada tempat satwa berkembang biak.

Ada tumbuhan obat.

Ada mata air.

Ada tanah yang menyimpan air.

Ada masyarakat yang menggantungkan kehidupannya kepada hutan.

Lalu suatu hari kawasan itu terbuka.

Pohon hilang.

Tanah tersingkap.

Air kehilangan tempat berdiam.

Dan ketika hujan datang, bumi tidak lagi mempunyai kemampuan yang sama untuk menahannya.

Ketika Hutan Pergi, Air Menjadi Murka

Hutan adalah bendungan alam yang luar biasa.

Akar pohon mengikat tanah.

Dedaunan memperlambat jatuhnya hujan.

Lapisan serasah menyerap air.

Tanah hutan menyimpan air dan melepaskannya perlahan-lahan ke sungai.

Ketika hutan menghilang, sebagian mekanisme alami itu ikut menghilang.

Air hujan yang seharusnya masuk ke dalam tanah berubah menjadi aliran permukaan. Sungai menerima debit air dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Lalu kita melihat banjir.

Di daerah berbukit, tanah yang kehilangan vegetasi menjadi lebih rentan terhadap erosi dan longsor.

Lebih ironis lagi, wilayah yang kebanjiran pada musim hujan dapat mengalami kekurangan air pada musim kemarau.

Mengapa?

Karena air tidak lagi disimpan dengan baik oleh hutan.

Air datang dengan cepat.

Pergi dengan cepat.

Dan manusia tertinggal menghadapi banjir ketika hujan serta kekeringan ketika kemarau.

Jangan Selalu Menyalahkan Hujan

Setiap kali banjir terjadi, sering kali hujan menjadi tertuduh pertama.

“Hujannya terlalu besar.”

“Hujannya terlalu lama.”

Padahal hujan telah turun di bumi jauh sebelum jalan raya, pertambangan, perkebunan, dan kota-kota modern dibangun.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang terjadi pada tanah tempat hujan itu jatuh?

Apakah hutannya masih ada?

Apakah daerah resapannya masih terjaga?

Apakah sungainya masih mempunyai ruang?

Apakah bukitnya masih dipenuhi pepohonan?

Ataukah tanah itu telah menjadi beton, tambang, kawasan terbuka, atau bentang monokultur?

Tentu saja tidak semua banjir dan longsor disebabkan oleh kerusakan hutan. Hujan ekstrem, perubahan iklim, karakter tanah, kondisi geologi, drainase, dan tata ruang mempunyai pengaruh besar.

Namun kerusakan hutan membuat bentang alam semakin rentan.

Ia menjadi pengganda risiko.

Hujan mungkin datang dari langit.

Tetapi bencana sering kali diperbesar oleh keputusan manusia di bumi.

Ketika Hutan Hilang, Udara Menjadi Lebih Panas

Pepohonan bukan sekadar penghias lanskap.

Hutan menyerap karbon dioksida, menyimpan karbon, menjaga kelembapan, dan membantu mengatur siklus air.

Ketika pohon ditebang atau dibakar, sebagian karbon kembali dilepaskan ke atmosfer.

Ketika tutupan hutan berkurang, permukaan tanah menerima lebih banyak panas matahari secara langsung.

Kawasan menjadi lebih panas.

Udara menjadi lebih kering.

Siklus air berubah.

Dalam skala luas, perubahan tutupan hutan dapat ikut memengaruhi pola hujan dan memperkuat dampak perubahan iklim.

Karena itu pertanyaan masyarakat hari ini sangat relevan:

Mengapa udara semakin panas?

Mengapa musim semakin sulit diprediksi?

Mengapa hujan ekstrem terasa semakin sering?

Mengapa kekeringan datang lebih panjang?

Jawabannya tentu tidak hanya satu.

Tetapi kita tidak boleh menutup mata bahwa kerusakan hutan ikut membuat bumi kehilangan salah satu sistem pendingin dan penyangga kehidupannya.

Kesadaran Filosofis: Manusia Itu Siapa?

Di tengah persoalan tersebut, gagasan Syaykh Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang mengenai Trilogi Kesadaran menemukan relevansinya: kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.

Pertama, kesadaran filosofis.

Kesadaran ini mengajak manusia bertanya kepada dirinya sendiri:

Untuk apa manusia hadir di muka bumi?

Apakah manusia sekadar makhluk yang datang untuk mengambil?

Mengambil kayu.

Mengambil mineral.

Mengambil tanah.

Mengambil air.

Mengambil sebanyak-banyaknya.

Lalu meninggalkan kerusakan kepada anak cucu?

Ataukah manusia hadir untuk membangun kehidupan?

Kesadaran filosofis membuat manusia memahami bahwa dirinya bukan pemilik mutlak bumi.

Manusia hanyalah satu generasi dalam perjalanan panjang kehidupan.

Ada generasi sebelum kita.

Dan akan ada generasi setelah kita.

Karena itu bumi tidak boleh dihabiskan dalam satu zaman.

Kesadaran Ekologis: Kita Adalah Bagian dari Alam

Kedua, kesadaran ekologis.

Kesadaran ini menempatkan manusia bukan di luar alam, melainkan sebagai bagian dari alam.

Hutan bukan sekadar objek ekonomi.

Sungai bukan sekadar saluran air.

Tanah bukan sekadar komoditas.

Semua adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung.

Jika hutan sehat, air terjaga.

Jika air terjaga, pertanian hidup.

Jika tanah subur, pangan tersedia.

Jika udara bersih, manusia sehat.

Sebaliknya, apabila hutan rusak, manusia pula yang akhirnya menerima akibatnya.

Karena itu menjaga hutan bukan romantisme.

Menanam pohon bukan seremoni.

Memulihkan mata air bukan kegiatan kecil.

Semua adalah pekerjaan besar untuk mempertahankan peradaban.

Menanam pohon pun tidak cukup sekadar menancapkan bibit, mengambil foto, lalu pulang.

Bibit harus dirawat.

Ekosistem harus dipulihkan.

Hutan alam yang masih tersisa harus dilindungi.

Sebab hutan yang tumbuh selama ratusan tahun tidak dapat diganti hanya dengan menanam pohon beberapa musim.

Kesadaran Sosial: Kerusakan Alam Selalu Ada yang Membayar

Ketiga, kesadaran sosial.

Kerusakan lingkungan hampir tidak pernah berhenti pada orang yang melakukan kerusakan.

Ketika hutan di hulu dibuka, masyarakat di hilir dapat kebanjiran.

Ketika mata air rusak, warga desa kehilangan air.

Ketika gambut terbakar, asapnya dihirup jutaan manusia.

Ketika lingkungan tercemar, anak-anak ikut menerima dampaknya.

Artinya, persoalan hutan adalah persoalan keadilan sosial.

Ada orang yang memperoleh keuntungan.

Tetapi sering kali masyarakat lain yang harus membayar biaya kerusakannya.

Karena itu pengelolaan hutan harus dilakukan dengan prinsip tanggung jawab, keadilan, dan keberlanjutan.

Masyarakat adat serta komunitas lokal yang selama generasi menjaga kawasan hutan harus dilibatkan dan dihormati.

Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton ketika keputusan tentang tanah tempat mereka hidup dibuat dari meja yang jauh.

Hutan Tidak Membutuhkan Seremoni

Hari Hutan Indonesia seharusnya melahirkan gerakan nyata.

Pemerintah harus tegas terhadap pembalakan liar, tambang ilegal, pembakaran hutan, dan penyalahgunaan tata ruang.

Dunia usaha harus memahami bahwa keuntungan ekonomi tidak boleh dibangun di atas kehancuran ekologis.

Perguruan tinggi harus melahirkan ilmu pengetahuan yang membantu menjaga bumi.

Sekolah harus menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

Masyarakat dapat memulai dari hal yang tampak kecil: merawat pohon, menjaga sumber air, tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi pemborosan kertas, mendukung produk yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, serta berani melaporkan perusakan alam.

Tetapi lebih dari semuanya, kita membutuhkan perubahan cara berpikir.

Kita harus berhenti melihat hutan hanya dari berapa nilai kayunya.

Lihatlah hutan dari berapa banyak kehidupan yang dijaganya.

Jangan Sampai Anak Cucu Bertanya

Bayangkan puluhan tahun mendatang.

Seorang anak membuka buku sejarah.

Ia melihat foto hutan tropis Indonesia yang sangat lebat.

Ia melihat orangutan bergelantungan di pepohonan.

Ia melihat harimau, burung, sungai jernih, dan pegunungan hijau.

Lalu ia bertanya:

“Benarkah dulu Indonesia punya hutan seluas ini?”

Pertanyaan sederhana itu akan menjadi sangat menyakitkan jika generasi kita gagal menjaganya.

Jangan sampai kita mewariskan kepada mereka foto hutan, tetapi bukan hutannya.

Jangan sampai kita mewariskan cerita tentang mata air, tetapi mata airnya telah mengering.

Jangan sampai kita mengajarkan nama-nama satwa melalui buku karena habitatnya telah hilang.

Hari Hutan Indonesia, 7 Agustus 2026, karena itu bukan sekadar hari untuk mengenang hutan.

Ia adalah panggilan untuk menentukan sikap.

Bangun kesadaran filosofis agar manusia memahami untuk apa dirinya hidup. Bangun kesadaran ekologis agar manusia memahami bahwa dirinya bagian dari alam. Dan bangun kesadaran sosial agar manusia memahami bahwa bumi bukan milik satu orang, satu kelompok, atau satu generasi.

Hutan mungkin tidak mampu berbicara.

Tetapi banjir, longsor, kekeringan, udara panas, hilangnya mata air, dan punahnya satwa adalah bahasa alam yang semestinya dapat kita pahami.

Jangan tunggu bahasa itu berubah menjadi jeritan.

Jangan tunggu hutan Indonesia tinggal cerita.


Indonesia, 7 Agustus 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!