*Catatan Dari Diskusi ForJis/aPI Skenario Anomali Kerusuhan Agustus 2026 Dalam Beragam Pertanyaan*
Oleh : Jacob Ereste
Suasana memanas pada bulan Agustus 2026 sebagai kelanjutan dari aksi besar pada Agustus 2025 silam — kata Nur Lapong saat membuka acara dialog ba’da Jum ‘at di Coffe Mas Miskun, 7 Agustus 2026, gejalanya terkesan menyasar Presiden Prabowo Subianto, Purbaya Yudhie Sadewa dan Syafri Syamsudin.
Inilah isu politik nasional yang berkembang sampai hari ini, sehingga perlu disikapi, sekuranya peristiwa reformasi 1998 kembali berulang di negeri kita.
Benz Johs Sastranegara pertanyaan yang lebih penting bukan siapa dalang dari rencana kerusuhan, tapi siapa yang kelak diuntungkan, kata Benz Jons Sastranegara. Karena Indonesia pun lahir diantara banyak skandal, seperti hilangnya Piagam Jakarta dari institusi negara kita, tandas Benz Jons Sastranegara.
Amir Hamzah, melihat isu kerusuhan Agustus 2026 justru sangat mungkin dilakukan dalam pemerintah sendiri, seperti viral tentang ancaman terhadap Kapolri, hendak menangguk di air keruh.
Analisis Amir Hamzah, pun meluas kepada hutang luar negeri Indonesia, bisa jadi uang yang dihutang itu adalah milik kita sendiri, kata Amir Hamzah dalam situasi yang anomali sekarang ini. Seperti program MBG bisa diberikan dalam bentuk kupon. sehingga masyarakat miskin yang layak menerima bantuan MBG itu bisa mengambil jatahnya di setiap warung makan terdekat. Atau, langsung diberi uang langsung, seperti yang diusulkan Menteri Keuangan, imbuh Nur Lapong.
Jadi kita memerlukan komitmen dan konsistensi mendukung program yang baik dan bagus dari Presiden Prabowo Subianto dengan menstimulan rakyat memahami dan memberi dukungan pada program yang baik dari pemerintah untuk rakyat, sebangun dengan sikap kritis aktivis mencermati sekaligus kritis mengawasi kesalahan dan penyimpangan program yang bisa merugikan rakyat.
Agung Marsudi, diantar oleh Nur Lapong untuk mencermati hasrat yang ingin untuk melengserkan Prabowo Subianto, menghantar, sebab tidak ada pengganti yang terbilang ideal melebihi kualitas dan kapabilitas sebaik Prabowo Subianto.
Skenario kerusuhan Agustus 2026, tidak bisa dipercaya akan terjadi, sebab realitasnya “semua sudah kumpul kebo” karena semua sudah kebagian jatah, yang tetap tinggal di luar, tampaknya kata Agus Marsudi hanya PKS (Partai Kesejahteraan Sosial). Jadi riak-riak kerusuhan ini dimunculkan, karena para taipan atau oligarki sedang kegerahan karena sedang dihajar oleh Prabowo Subianto.
Padahal yang benar mau bertarung pada 2029 adalah hanya Manuk, Gajah dan Banteng yang bisa dihinggapi oleh cengkeraman Manuk. Sementara oposisi yang ada dan dikakukan di Indonesia bukan oposisi politik, karena hanya sebatas oposisi sosial saja, tandas Agung Marsudi menyimpulkan.
Begitulah uraian narasi tentang koalisi inklusif yang terjadi dan memainkan peran politik di Indonesia, pungkas Agung Marsudi yang dominan menarasikan uraiannya secara metafora. Sementara Muslim Arbi flash back melihat masa lalu Indonesia hingga sekarang masih ada 120 juta rakyat miskin di negeri yang kaya raya ini, seakan semua kekayaan negera Indonesia diwakafkan untuk bangsa asing.
intinya, apa yang hendak dikatakan Muslim Arbi, kata Nur Lapong menyimpulkan, aktivis pergerakan tetap perlu melakukan kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo Subianto, tapi jangan sampai mengganggu kinerja pemerintah untuk menjalankan program terbaiknya pemerintah.**
Paseban, 7 Agustus 2026
——-
![]()
