*MILAD SYECH MA’HAD AL ZAYTUN KE-80, THE MELTING POT INTEGRASI KEISLAMAN DAN KEINDONESIAAN*
Oleh : Adlan Daie
(Analis Politik dan Sosial Keagamaan)
Indramayu, 3 Agustus 2026
Milad atau Hari Ulang Tahun Syech Panji Gumilang, seorang “muassis” atau pendiri Ma’had Al Zaytun Indramayu ke 80, Kamis, 30 Juli 2026 berlangsung meriah dan menarik di Aula Masjid Rahmatan Lil Alamin, sebuah masjid “Iconic” di kompleks Ma’had Al Zaytun.
Meriah dihadiri para tokoh Nasional seperti Prof. Connie Rahakundini, Prof.Ermaya Suradinata, Gita Wiryawan, mantan menteri perdagangan dan sejumlah tokoh nasional lainnya.
Dan tentu menarik karena kehadiran para tokoh nasional tersebut llntas profesi, lintas agama, lintas suku, lintas generasi dan lintas disiplin ilmu.
Karena itu, secara simbolik Syech Panji Gumilang dan Ma’had Al Zaytun yang didirikannya, semacam “melting pot”, sebuah “titik kumpul” keragaman keindonesiaan dalam integrasi keislaman dan kebangsaan bagi masa depan Indonesia yang toleran dan damai.
Tulisan ini sebuah perspektif singkat penulis memahami Syech Panji Gumilang, melengkapi testimoni Prof. Connie, Prof Ermaya dan Gita Wiryawan yang begitu menarik tentang Syech Panji Gumilang dan Ma’had Al Zaytun dalam momentum milad beliau ke 80.
Testimoni mereka telah ditulis cukup baik oleh Dr. Ali Aminullah (Dosen Pengajar di Ma’had Al Zaytun) di media “Jayanews”, 1 Agustus 2026 – juga dapat diakses melalui kanal YouTube “Lognews TV”, testimoni yang inspiratif dan “meaningfull” – sarat pesan dan makna.
Perspektif penulis tentang Syech Panji Gumilang dan Ma’had Al Zaytun kali ini semacam imajinasi yang mengingatkan penulis tentang “Pidato Kebudayaan” Nurcholish Madjid, seorang intelektual muslim, berjudul “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam di Indonesia”, di Taman Ismail Marzuki 30 Oktober 1972 – 54 tahun silam.
Pidato tersebut berdiri di atas dua pilihan sebagaimana tulisan Nurcholis Madjid berikutnya berjudul “Keharusan Pembaharuan Islam dan Integrasi Umat (1973), dua pilihan dengan resiko tantangan “integrasi umat”, atau membiarkan pemahaman Islam tetap “jumud” atas nama “integrasi ” – tak lain adalah “kebekuan” dan “kejumudan”.
Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid, memilih jalan “Menyegarkan Pembaharuan pemikiran Islam” dengan segala resiko, dalam bahasa kekinian di era media sosial, “dibully”, dihakimi lewat mimbar mimbar khotbah Jum at saat itu tapi ia tak bergeming. Baginya hanya dengan pembaharuan itulah Islam akan mampu menjadi jalan peradaban masa depan.
Dalam konteks jaman yang berbeda Syech Panji Gumilang dalam perspektif penulis mengambil jalan resiko yang sama dengan Cak Nur, sama sama rentan “disalah pahami”, lalu “dibully”, di caci maki, difitnah bahkan disesatkan dan “dikafirkan”.
Bedanya Cak Nur bergerak di bidang pembaharuan pemikiran Islam, sedangkan Syech Panji Gumilang di bidang pembaharuan pendidikan Ma’had tetapi entry pointnya sama, yakni membumikan Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin, Rahmat untuk kemanusiaan.
Di era demokrasi, sebuah sistem yang menuntut warganya bisa membaca, bertanya dan membandingkan mana yang faktual dan mana yang “hoax” justru sistem tersebut problematis, bahkan berbahaya ketika warganya kosong literasi.
Akibatnya, gagasan tentang pembaharuan untuk jalan peradaban mudah “tersungkur” oleh narasi “hoax” yang diupload “satu detik” dalam platform media sosial “tiktok”.
Ketika kepentingan pragmatisme politik dibungkus dengan “jubah” aliran keagamaan sebagaimana kekhawatiran Gus Baha ia rentan menjadi sebuah “identitas” politik, menjadi “alat pukul” bagi kelompok keagamaan yang berbeda.
Dalam konteks sosial inilah, penulis membaca keteguhan Syech Panji Gumilang, mengepakkan sayap “revolusioner” di bidang pendidikan. Tidak mudah, potensial “disalahpahami”, oleh kepentingan politik yang berjubah perbedaan “aliran” keagamaan.
Inilah resiko sebuah perjuangan, selalu ada ruang dan waktu di mana kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Itulah harga paling mahal yang dimiliki Syech Panji Gumilang dalam mendrive Ma’had Al Zaytun, yakni keteguhan batin.
Penulis meletakkan Syekh Panji Gumilang dan kehadiran Ma’had Al Zaytun di Indramayu dalam perspektif di atas. Mungkin ia berbeda sistem dan methode dibanding sistem pendidikan Islam lain tetapi tetap teguh dalam prinsip “rukun Iman”, “rukun islam” dan prinsip prinsip negara Pancasila
Karena keteguhan itulah, ada maqolah arab yang layak disematkan kepada Syech Panji Gumilang, “Al Fadlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadi”, keutamaan hanya milik perintis meskipun kelak penerusnya berkreasi lebih baik.
Selamat Milad Syech Panji Gumilang ke 80. Usia bisa dilipat waktu tapi “legacy” maslahat melintasi jaman – kata Ibnu Khaldun. **
Wassalam.
——
![]()
