Ketika Tahu Memberi Tahu Dunia tentang Kesederhanaan
Oleh: Ali Aminulloh
Bandung, 26 Juli 2026
Ketika berkunjung ke Sumedang, yang terbayang bukan hanya jalan yang membelah perbukitan atau udara sejuk yang menyambut perjalanan. Ada satu makanan yang seolah telah menyatu dengan nama daerah itu: tahu. Kotak-kotak kecil berwarna kecokelatan, berkulit renyah, berongga lembut, disajikan hangat dalam bongsang bambu bersama cabai rawit.
Begitu pula ketika memasuki kawasan Cibuntu di Bandung. Aroma kedelai rebus dan kepulan uap dari rumah-rumah produksi memberi tanda bahwa di tempat itu, tahu bukan sekadar makanan. Tahu adalah pekerjaan, penghasilan, tradisi, dan kehidupan yang terus bergerak sejak dini hari.
Di tangan masyarakat, kedelai yang sederhana berubah menjadi makanan yang dikenal hampir di seluruh dunia. Tahu dapat digoreng, direbus, dikukus, ditumis, dipepes, dimasukkan ke dalam sup, bahkan dikreasikan menjadi hidangan modern. Ia mudah menerima berbagai bumbu, tetapi tetap mempertahankan wataknya yang sederhana.
Setiap tanggal 26 Juli, masyarakat di berbagai negara memperingati Hari Tahu Sedunia atau World Tofu Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk melihat tahu bukan hanya sebagai lauk murah, melainkan sebagai bagian penting dari sejarah pangan, kesehatan, ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
Dari Asia Menjelajah Dunia
Tahu memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Makanan ini berakar dari tradisi kuliner Tiongkok, kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia seperti Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Dalam perjalanan waktu, setiap masyarakat mengolahnya sesuai dengan rasa, budaya, dan kebiasaannya sendiri.
Di Indonesia, tahu menemukan rumah yang sangat luas. Hampir setiap daerah memiliki hidangan berbahan tahu. Ada tahu Sumedang, tahu gejrot Cirebon, kupat tahu, tahu campur, tahu tek, tahu isi, batagor, tahu petis, hingga semur tahu yang akrab di meja makan keluarga.
Tahu mampu menembus batas geografis dan sosial. Ia dapat ditemukan di warung pinggir jalan, pasar tradisional, meja makan keluarga, restoran, hingga hotel berbintang. Makanan ini dapat dinikmati siapa saja tanpa harus dibatasi status ekonomi.
Itulah kekuatan tahu. Ia tidak berusaha tampil mewah, tetapi selalu dibutuhkan. Ia tidak banyak menuntut, tetapi mudah dipadukan dengan hampir semua jenis masakan.
Mengapa Tahu Begitu Penting?
Tahu merupakan salah satu sumber protein berbasis tumbuhan yang telah lama dikonsumsi masyarakat. Selain protein, tahu juga dapat mengandung lemak tidak jenuh, mineral, dan berbagai zat gizi yang berasal dari kedelai.
Bagi banyak keluarga, tahu menjadi pilihan pangan yang relatif mudah diperoleh dan diolah. Ketika harga daging atau bahan pangan lain meningkat, tahu tetap hadir sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan lauk sehari-hari.
Namun, arti penting tahu tidak hanya terletak pada kandungan gizinya. Di balik setiap potong tahu terdapat mata rantai ekonomi yang panjang. Ada petani kedelai, pedagang bahan baku, pekerja penggilingan, pembuat tahu, pengemudi pengangkut, pedagang pasar, penjual gorengan, pemilik warung, dan pelaku usaha kuliner.
Karena itu, tahu bukan sekadar makanan. Ia adalah sumber kehidupan bagi banyak keluarga.
Di Sumedang, tahu telah berkembang menjadi identitas daerah. Orang dapat menyebut Sumedang hanya dengan membayangkan tahu yang hangat dan renyah. Sementara itu, Cibuntu dikenal sebagai salah satu kawasan produksi tahu di Bandung yang aktivitas industrinya telah menghidupi masyarakat dari generasi ke generasi.
Dari tempat-tempat seperti inilah kita memahami bahwa makanan tradisional dapat menjadi kekuatan ekonomi. Sebuah produk yang tampak sederhana dapat membuka lapangan pekerjaan, membangun jaringan perdagangan, dan memperkuat kebanggaan suatu daerah.
Lahir dari Kepedulian
Hari Tahu Sedunia mulai diperingati pada 2014. Peringatan ini digagas oleh organisasi perlindungan hewan di Kanada yang ingin mengenalkan tahu sebagai makanan berbasis tumbuhan yang bergizi, serbaguna, dan dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Peringatan pertamanya berlangsung di Montreal, Kanada. Kegiatan tersebut diisi dengan acara kuliner berbasis tumbuhan dan berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung.
Gagasan itu kemudian menyebar ke berbagai negara melalui komunitas vegetarian, pelaku usaha pangan, restoran, organisasi lingkungan, serta masyarakat yang tertarik pada pola konsumsi berbasis tumbuhan.
Pemicu peringatan ini adalah tumbuhnya perhatian terhadap persoalan pangan, kesejahteraan hewan, kesehatan, dan dampak lingkungan dari pola konsumsi manusia. Tahu dipilih karena mampu mewakili sebuah pilihan makanan yang sederhana, fleksibel, dan dapat dikembangkan dalam berbagai tradisi kuliner.
Hari Tahu Sedunia bukanlah hari internasional yang ditetapkan melalui resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia tumbuh dari gerakan masyarakat sipil. Namun justru dari sanalah kekuatannya muncul. Peringatan ini bergerak dari dapur, komunitas, rumah makan, pasar, dan sentra-sentra produksi.
Ia lahir bukan dari kemegahan ruang sidang, melainkan dari kesadaran bahwa pilihan makanan sehari-hari dapat membawa pengaruh bagi kehidupan yang lebih luas.
Pangan, Lingkungan, dan Masa Depan
Di tengah tantangan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan kebutuhan pangan dunia, tahu memperoleh makna yang semakin penting. Sumber protein berbasis tumbuhan umumnya membutuhkan sumber daya yang berbeda dibandingkan produksi pangan hewani.
Mengonsumsi tahu bukan berarti setiap orang harus meninggalkan seluruh makanan yang selama ini dikonsumsinya. Pesannya lebih sederhana: manusia dapat memperluas pilihan makanan, menyeimbangkan konsumsi, dan mulai mempertimbangkan dampak dari apa yang dimakan.
Satu atau dua kali mengganti lauk dengan tahu, tempe, atau kacang-kacangan mungkin tampak sebagai langkah kecil. Namun, perubahan besar sering kali memang dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Tahu mengajarkan bahwa pola hidup berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang mahal. Ia dapat dimulai dari pasar tradisional, dari dapur keluarga, dari piring makan siang, atau dari keputusan membeli produk perajin setempat.
Merayakan Tahu, Menghargai Kehidupan
Hari Tahu Sedunia dapat diperingati dalam berbagai bentuk. Masyarakat dapat mengadakan festival kuliner, bazar UMKM, lomba memasak, pelatihan pengolahan tahu, kunjungan ke sentra produksi, atau makan bersama dengan menu berbahan dasar tahu.
Sekolah dapat memperkenalkan kepada peserta didik proses perubahan kedelai menjadi tahu. Perguruan tinggi dapat mengkaji nilai gizi, ekonomi, teknologi produksi, dan keberlanjutan industri tahu. Pemerintah daerah dapat membantu perajin melalui pelatihan, pemasaran, penguatan sanitasi, dan penggunaan teknologi produksi yang lebih bersih.
Restoran dan rumah makan dapat menciptakan menu baru. Keluarga dapat memperingatinya dengan memasak bersama. Masyarakat juga dapat memberi dukungan nyata dengan membeli tahu dari perajin lokal.
Perayaan terbaik bukan hanya dengan mengunggah gambar makanan di media sosial. Peringatan ini seharusnya menjadi kesempatan untuk menghargai kerja keras orang-orang di baliknya.
Ada tangan-tangan yang merendam kedelai ketika sebagian orang masih terlelap. Ada pekerja yang berdiri di dekat tungku panas. Ada pedagang yang membawa tahu ke pasar sebelum matahari terbit. Ada keluarga yang menggantungkan kebutuhan hidupnya pada setiap cetakan tahu yang berhasil dijual.
Ketika kita menikmati sepotong tahu, sesungguhnya kita sedang menikmati hasil dari perjalanan panjang kerja manusia.
Kesederhanaan yang Menghidupi
Tahu tidak pernah meminta panggung yang besar. Ia hadir diam-diam di meja makan, tetapi jasanya tidak kecil. Ia menyediakan makanan, menggerakkan ekonomi rakyat, menjaga tradisi, dan membuka kemungkinan menuju pola konsumsi yang lebih beragam.
Dari Sumedang, Cibuntu, hingga berbagai kota di dunia, tahu memperlihatkan bahwa kesederhanaan bukanlah kelemahan. Justru dari sesuatu yang sederhana, manusia dapat membangun kehidupan, kreativitas, dan kebersamaan.
Tahu juga mengajarkan nilai penghormatan. Menghormati makanan berarti tidak membuangnya. Menghormati perajin berarti menghargai produknya. Menghormati alam berarti menggunakan sumber daya dengan penuh kesadaran.
Pada akhirnya, tahu mungkin tidak pernah berbicara. Namun, keberadaannya telah memberi tahu dunia tentang banyak hal.
Ia memberi tahu bahwa makanan rakyat dapat memiliki nilai global. Ia memberi tahu bahwa usaha kecil dapat menjadi penyangga ekonomi keluarga. Ia memberi tahu bahwa kesehatan dan keberlanjutan dapat dimulai dari pilihan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dan dari sepotong tahu yang hangat, kita belajar bahwa sesuatu tidak harus mahal untuk menjadi berharga, tidak harus mewah untuk menghidupi, dan tidak harus besar untuk memberi manfaat kepada dunia.**
——
![]()
