PKBM Al Zaytun: Dari Mimpi yang Tertunda Menuju Kampus, Kisah Inspiratif Bu Maryati Menembus Batas Usia
Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
“Pendidikan tidak pernah mengenal kata terlambat.” Kalimat itu seakan hidup dalam sosok Maryati, seorang perempuan sederhana yang pernah mengubur mimpinya untuk bersekolah karena keterbatasan ekonomi. Bertahun-tahun kemudian, di usia yang tidak lagi muda, ia justru membuktikan bahwa semangat belajar mampu menembus batas usia, waktu, bahkan keadaan.
Senin pagi, 2 Juni 2026, suasana di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, tampak lebih ramai dari biasanya. Ribuan peserta telah memenuhi ruang utama masjid untuk mengikuti sebuah kongres pendidikan. Bahkan sejak pukul 08.30 WIB, hampir seluruh area telah dipadati hadirin, sementara acara belum dimulai.
Waktu menunggu itu dimanfaatkan peserta untuk saling berbincang. Di antara kerumunan tersebut tampak sejumlah warga belajar PKBM Al Zaytun. Sebagian mengenakan kerudung biru, penanda kelas B, sementara lainnya mengenakan kerudung merah. Menariknya, terlihat pula beberapa perempuan berkerudung abu-abu yang ternyata merupakan alumni PKBM Al Zaytun yang baru lulus beberapa bulan lalu.
“Wah, sekarang seragamnya beda ya,” sapa Sri Wahyuni, salah satu tutor PKBM Al Zaytun, sambil tersenyum hangat.
“Iya, Ustadzah,” jawab mereka seraya tertawa.

Meski telah menyelesaikan pendidikan, para alumni itu tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan dan program PKBM Al Zaytun. Semangat belajar mereka tidak berhenti saat ijazah diterima.
Di sela perbincangan tersebut, Sri Wahyuni berbincang cukup lama dengan salah seorang alumni, Maryati, lulusan kelas C3 yang kini melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam (IAI) Al Aziz.
Perempuan itu kemudian membuka lembaran kisah hidupnya.
“Dulu saya tidak melanjutkan sekolah karena berasal dari keluarga yang kurang mampu. Jadi belum berkesempatan sekolah, baik tingkat Sanawiyah maupun Aliyah,” tuturnya.
Keterbatasan ekonomi membuat mimpinya tertunda selama bertahun-tahun. Namun hasrat untuk belajar ternyata tidak pernah padam.
Ketika mendengar informasi tentang PKBM Al Zaytun, ia melihat secercah harapan yang selama ini dicarinya.
“Walaupun usia sudah tidak muda lagi, semangat sekolah saya sangat tinggi,” ujarnya.
Maryati mengaku memiliki motivasi besar untuk menambah ilmu, memperluas wawasan, dan meningkatkan rasa percaya diri dalam kehidupan sosial.
Ia juga teringat pesan almarhum ayahnya yang selalu membekas dalam ingatan.
“Orang tua saya, terutama bapak, selalu berpesan bahwa jika ada kesempatan, lanjutkan sekolah bagaimana pun caranya dan di mana pun tempatnya. Beliau selalu mendukung saya untuk sekolah setinggi-tingginya. Pesan itu yang selalu saya ingat.”

Suara Maryati terdengar bergetar saat mengenang sosok ayahnya.
“Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan melanjutkan sekolah di PKBM Al Zaytun. Dalam hati saya sering berkata, Ya Allah, seandainya bapak masih hidup, pasti beliau sangat bahagia melihat saya bisa melanjutkan sekolah.”
Baginya, PKBM Al Zaytun bukan sekadar tempat belajar, tetapi jembatan yang menghubungkan kembali mimpi yang pernah tertunda.
“Terima kasih kepada Syaykh yang telah menyediakan sarana belajar untuk kami,” ungkapnya penuh haru.
Selama menempuh pendidikan di PKBM Al Zaytun, Maryati mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Ia bahkan memiliki kenangan tersendiri saat mengikuti pelajaran yang dianggap sulit oleh banyak orang.
“Pengalaman yang paling menarik adalah ketika mendapat soal Matematika atau Bahasa Inggris dan bisa menjawab dengan benar. Itu membuat saya semakin semangat belajar.”
Kebanggaan tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar.
Kini, setelah lulus dari PKBM Al Zaytun, Maryati melangkah lebih jauh dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Ketika ditanya apa yang mendorongnya untuk kuliah, jawabannya sederhana tetapi sangat kuat.
“Saya ingin membawa nama baik orang tua dan keluarga. Walaupun kami berasal dari keluarga kurang mampu, tetapi urusan pendidikan tetap kami utamakan. Biaya bukanlah kendala.”
Di tengah kesibukannya sebagai produsen aneka kue dan jajanan pasar yang memasok kebutuhan pabrik di wilayah Subang, Maryati tetap menyisihkan waktu untuk belajar.
Baginya, pendidikan adalah sarana memperbaiki diri.
“Saya ingin memperbaiki kekurangan diri, bisa berkomunikasi dengan siapa saja, mendidik anak-anak dengan lebih baik, serta menjadi contoh dalam kebaikan.”
Perubahan itu kini ia rasakan secara nyata.
“Alhamdulillah, saya tidak minder lagi dalam bergaul. Saya lebih mampu mengendalikan pikiran-pikiran buruk, lebih berhati-hati dalam berbicara, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.”
Di balik keberhasilannya, terdapat sosok yang selalu memberikan dukungan penuh, yakni sang suami, Ustadz Sutar, S.Pd., yang juga merupakan tutor PKBM Al Zaytun dan alumni IAI Al Aziz.
Keluarga ini bahkan menjadi contoh nyata budaya belajar sepanjang hayat. Anak pertama mereka telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan melanjutkan studi magister, sedangkan anak kedua saat ini masih menempuh kuliah semester dua di IAI Al Aziz.
“Alhamdulillah, suami sangat mendukung dan memberikan kesempatan seluas-luasnya. Untuk biaya pendidikan pun kami tanggung bersama. Kami bekerja sama demi mewujudkan kesuksesan keluarga,” jelasnya.
Menjelang berakhirnya perbincangan, Maryati menyampaikan pesan yang menyentuh kepada para tutor dan almamaternya.
“Terima kasih kepada Ustadz dan Ustadzah yang telah membimbing kami dengan penuh kesabaran. Terima kasih telah memberikan kesempatan belajar di PKBM Al Zaytun. Saya mohon maaf apabila selama belajar terkadang kurang fokus. Semoga PKBM Al Zaytun semakin sukses.”
Mendengar ungkapan tulus tersebut, Sri Wahyuni mengaku merasa bangga dan bersyukur. Baginya, keberhasilan para alumni merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para pendidik.
Tak terasa waktu terus berjalan. Tepat pukul 09.00 WIB, kongres pendidikan resmi dimulai. Sebelum kembali ke tempat duduk masing-masing, mereka menyempatkan diri mengabadikan momen dengan foto bersama.
Hingga acara berakhir pada pukul 12.30 WIB, seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian. Berbagai gagasan dan harapan tentang kemajuan pendidikan Indonesia mengalir dari para narasumber.
Para hadirin pun meninggalkan masjid dengan hati yang gembira. Mereka membawa pulang ilmu, inspirasi, dan optimisme baru.
Kisah Maryati menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan sejatinya bukan tentang usia, melainkan tentang keberanian untuk memulai. Dari PKBM Al Zaytun, mimpi yang pernah tertunda menemukan jalannya kembali. Dan dari sana pula lahir semangat baru untuk terus belajar, mengabdi, serta berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik.**
Indramayu, 4 Mei 2026
——-
![]()
