Al Zaytun dan Ikhtiar Melahirkan Generasi Penjaga Indonesia
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. (Dosen IAI Al-Azis)
Di tengah dunia yang bergerak cepat oleh arus globalisasi, kecerdasan buatan, perang informasi, dan krisis nilai kemanusiaan, pendidikan tidak lagi cukup hanya melahirkan generasi yang pandai berbicara tentang masa depan. Pendidikan harus mampu menghadirkan manusia-manusia yang sanggup menjaga bangsa, menjaga kemanusiaan, dan menjaga arah Indonesia. Dari ruang-ruang pendidikan berasrama di Ma’had Al Zaytun, ikhtiar itu tampak terus dinyalakan.
Sejak 1 Juni 2025 hingga sekarang, setiap hari Ahad, Al Zaytun secara konsisten menyelenggarakan Pelatihan Pelaku Didik sebagai bagian dari proses membangun generasi masa depan Indonesia yang berkarakter, berkesadaran, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Pada Ahad, 10 Mei 2026, pelatihan tersebut memasuki sesi ke-44 dengan mengusung tema “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Pendidikan Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia.”

Forum ilmiah dan reflektif itu menghadirkan Prof. Dr. H. Ermaya Suradinata, SH., MH., MS., tokoh nasional yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang pemerintahan, ketahanan nasional, dan pembangunan karakter bangsa.
Di hadapan lebih dari 2700 peserta yang berasal dari santri, mahasiswa, guru, dosen, pelatih, pengasuh, serta pelaku didik Al Zaytun, Prof. Ermaya hadir bukan hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Sosial Politik Departemen Dalam Negeri, Direktur Jenderal Kesbang dan Linmas Departemen Dalam Negeri, Gubernur Lemhannas RI periode 2001–2005, Pembina Utama Lemhannas RI, Rektor Universitas Presiden, Rektor IPDN, Ketua Dewan Pembina Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia, serta Anggota Dewan Pakar BPIP RI sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Dalam suasana yang hangat namun penuh pemikiran mendalam, Prof. Ermaya mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan Al Zaytun. Menurutnya, apa yang dibangun di lingkungan tersebut bukan sekadar lembaga pendidikan biasa, melainkan sebuah model peradaban pendidikan yang memadukan disiplin, spiritualitas, kebangsaan, dan kemandirian.
Beliau mengaku terkesan melihat suasana pendidikan yang hidup dan tertata, terutama ketika menyaksikan langsung semangat belajar para pelajar Al Zaytun. Baginya, para santri dan pelaku didik di Al Zaytun memiliki keberanian berpikir, kemampuan berdialog, dan kesadaran sosial yang kuat. Hal itu terlihat jelas dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis dan penuh antusiasme.
“Ini luar biasa. Anak-anak muda di sini memiliki keberanian bertanya dan cara berpikir yang baik. Mereka tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar memahami bangsa dan masa depan,” ungkapnya penuh apresiasi.
Beliau bahkan menyebut bahwa kualitas pelajar Al Zaytun memperlihatkan potensi besar lahirnya generasi pemimpin Indonesia masa depan. Menurutnya, pendidikan yang mampu melatih keberanian berbicara, berpikir kritis, dan kesadaran sosial seperti yang diterapkan di Al Zaytun merupakan modal penting dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
“Presiden Republik Indonesia bisa lahir dari sini,” ujarnya penuh keyakinan.
Pernyataan tersebut lahir dari pengamatannya terhadap sistem pendidikan terpadu yang dijalankan Al Zaytun. Menurutnya, pendidikan yang baik harus mampu membangun nation character building atau pembangunan karakter bangsa. Generasi muda Indonesia, khususnya usia 12 hingga 27 tahun, dipandang sebagai generasi strategis yang akan menentukan arah Indonesia Emas 2045 dan menyongsong satu abad kemerdekaan Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Ermaya menggambarkan dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Konflik Ukraina-Rusia, perang Gaza, ketegangan Iran-Israel dan Amerika Serikat menjadi gambaran bahwa dunia sedang mengalami pertarungan geopolitik yang kompleks. Karena itu, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki ketahanan mental, kesadaran kebangsaan, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Ia memperkenalkan konsep ASOKA yang terdiri dari Ability, Strong, Opportunity, Culture, dan Agility sebagai pendekatan baru menghadapi tantangan era digital. Menurutnya, generasi muda harus memiliki kemampuan berpikir adaptif dan tidak mudah terseret arus informasi yang bergerak begitu cepat.
Prof. Ermaya juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang dapat digunakan untuk manipulasi informasi, pemalsuan identitas, hingga pembentukan opini yang menyesatkan. Oleh sebab itu, para pelajar diminta untuk lebih kritis, hati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Sesi tanya jawab kemudian menjadi salah satu bagian yang paling menarik dalam pelatihan tersebut. Rafa Ardiansyah Ariski bin Adam Harloreski selaku Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al Zaytun mengajukan pertanyaan mengenai peran pelajar dalam mempertahankan ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI di tengah arus globalisasi yang memengaruhi budaya, teknologi, dan pola hidup generasi muda.
Pertanyaan itu dijawab Prof. Ermaya dengan penekanan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan generasi muda menjaga karakter bangsa di tengah perubahan zaman. Menurutnya, pelajar harus mampu mengubah tantangan global menjadi peluang kemajuan bangsa melalui pendidikan, kedisiplinan, dan kesadaran kebangsaan.
Pada sesi berikutnya, Alvan Wibisono bin Sobari Wicaksono dari kelas 10 R05 yang juga mengikuti Capas Kibra 2026 menanyakan bagaimana cara menumbuhkan kesadaran disiplin di kalangan teman sebaya tanpa terkesan menggurui.
Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. Ermaya menegaskan bahwa disiplin sejati lahir dari keteladanan dan keikhlasan, bukan dari tekanan. Ia mengingatkan bahwa seorang pelajar harus mampu menjadi “urup” atau cahaya bagi lingkungannya, menghadirkan semangat, keteladanan, dan manfaat bagi sesama.
Menurutnya, seorang pelajar tidak cukup hanya menjadi pintar untuk dirinya sendiri, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain, memberi semangat, dan menjadi penerang di tengah kehidupan masyarakat.
Namun pelatihan tersebut tidak hanya membahas persoalan teknologi dan geopolitik. Forum itu juga dipenuhi pesan-pesan spiritual dan kemanusiaan yang mendalam. Prof. Ermaya menegaskan bahwa pendidikan sejati harus memadukan syariat, tasawuf, dan ma’rifah agar melahirkan manusia yang utuh.
Menurutnya, keikhlasan merupakan inti dari seluruh aktivitas manusia. Belajar, mengajar, memimpin, bahkan menjaga kebersihan lingkungan dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar. Ia menekankan pentingnya hubungan hablum minallah dan hablum minannas sebagai fondasi kehidupan sosial dan pendidikan.
Pesan tersebut terasa selaras dengan kehidupan pendidikan berasrama di Al Zaytun yang selama ini menanamkan disiplin melalui keteladanan. Kebersihan lingkungan, penghormatan kepada guru dan orang tua, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap sesama menjadi bagian dari proses pembentukan karakter para pelaku didik.
Di penghujung acara, Prof. Ermaya mengajak seluruh peserta untuk kembali merenungkan hubungan manusia dengan alam semesta. Ia berbicara tentang matahari, bumi, bulan, dan keteraturan jagat raya sebagai tanda kebesaran Allah SWT sekaligus pelajaran tentang keseimbangan hidup.
Pandangan itu selaras dengan trilogi pendidikan Al Zaytun yang menekankan kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.
Dari ruang-ruang pendidikan berasrama itu, Al Zaytun tampaknya tidak sedang sekadar mencetak lulusan. Ia sedang menyiapkan generasi penjaga Indonesia—generasi yang tidak hanya cerdas menghadapi zaman, tetapi juga memiliki keberanian menjaga nilai, menjaga persatuan, menjaga kemanusiaan, dan menjaga masa depan bangsa menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia.**
Indonesia, 10 Mei 2026
—-
![]()
