Oleh : Jacob Ereste
Tibet, China dan Nepal dilantak bencana tidak terduga, runtuhnya gunung es di dataran Tinggi Nepal pada 26 Agustus 2026 disusul kemudian peristiwa serupa pada 31 Agustus 2026 mengingatkan pada daya tahan bumi pada suhu panas di luar batas — cuaca ektrim — sungguh sedang melanda jagat.
Air, angin dan api sebagai kekuatan di luar kemampuan manusia seakan sedang menunjukkan kekuasaan Tuhan terhadap jagat raya dan seisinya, seakan sedang mengingatkan pada kepongahan manusia tiada tempatnya dihadapan Tuhan.
Nepal seakan sedang dibersihkan oleh bongkahan es yang jatuh menggelinding dari pegunungan Himalaya sebagai penyejuk bumi yang panas. Namun suhu api seperti berkobar kecil di Indonesia, namun kembali menghanguskan sisa hutan yang tinggal menjadi lahan gambut dan sisa penebangan hutan yang liar dan tamak, seperti mengingatkan kepongahan dan keserakahan manusia untuk menerima bencana itu sebagai imbalan dari kemarahan alam yang meradang tak mendapat perhatian dan penjagaan serta pemeliharaan sebagai ekspresi manusia mengabaikan kekuasaan Tuhan.
Adakah itu semua pertanda dari dunia yang semakin uzur dan renta daya tahan hidupnya seperti usia manusia yang terbatas. Inilah misteri dari jutaan rahasia milik Tuhan yang berada jauh dari jangkauan akal pikiran — daya intelektualitas dan spiritualitas manusia yang sia-sia tidak terpelihara dengan kerendahan hati yang ugahari dan bersahaja. Sebab dunia sungguh lebih dominan menggoda birahi manusia melampaui ambang batas.
Angin sebagai bagian dari anugrah Tuhan, baru dipahami ketika suhu bumi membuncah tanpa bisa dikendalikan. Bumi dan bangunan serta pepohonan tumbang tak berdaya, tanpa pernah disadari sebagai peringatan atas kepongahan manusia yang rakus dan tamak untuk menguasai semua hal sekedar untuk menunjukkan keperkasaan seakan sebanding dengan semua hal yabg ada dalam genggaman Tuhan.
Api, angin dan air sebagai bagian dari anugrah Tuhan tidak pernah disyukuri dan terucapkan dalam do’a, kecuali telah menjadi bencana yang tidak pernah terduga, sebab kegagapan dalam membaca dan mendengar serta melihat bahasa bumi yang telah diuraikan dalam ayat-ayat tubuh, bumi dan segenap pemberian Tuhan yang diturunkan ke bumi untuk melengkapi keperluan manusia sebagai khalifatullah — wakil Tuhan — tak pernah dibaca, tak pernah didengar dan tak pernah mampu dilihat sebagai ayat-ayat buana untuk menuntun manusia bersujud takjub penuh takzim menerima sebagai karunia yang harus disyukuri, dirumat seperti tubuh dari setiap diri sebagai ayat ilahiah yang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mencegah bencana seperti apapun yang tak boleh sekejap pun untuk diabaikan.**
Banten, 2 September 2026
——–
![]()
