DARI PERSAUDARAAN MENUJU INDONESIA EMAS: EMPAT PESAN ABDUL ROZAK UNTUK MENYELAMATKAN BANGSA

Dari Persaudaraan Menuju Indonesia Emas: Empat Pesan Abdul Rozak untuk Menyelamatkan Bangsa


Oleh : Dr. Ali Aminulloh

“Persatukan umat Islam. Selamatkan generasi muda dari narkoba. Berantas korupsi. Jangan terjebak utang yang melemahkan kemandirian bangsa.”

Empat pesan itu disampaikan Abdul Rozak di tengah peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun, Kamis, 27 Agustus 2026. Kalimat-kalimatnya singkat, tetapi menjangkau persoalan besar bangsa: perpecahan, rusaknya generasi muda, penyalahgunaan kekuasaan, dan hilangnya kemandirian.

Hari itu, Grand Musala Rahmatan Lil Alamin menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang. Sejumlah tokoh, akademisi, guru besar, pemuka lintas agama, wali santri, dan sekitar seribu santri hadir menyemarakkan peringatan tersebut.

Abdul Rozak datang mewakili Amir Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia yang berhalangan hadir karena memiliki agenda lain. Kehadirannya menjadi bagian dari semangat Al-Zaytun untuk membuka ruang silaturahmi dan dialog di tengah keberagaman.

Ia menyampaikan rasa bahagia karena dapat mengikuti peringatan ulang tahun Al-Zaytun yang mengangkat tema menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka dengan memperbesar investasi pendidikan yang berkualitas.

Menurutnya, tema tersebut bukan sekadar gagasan yang menarik, tetapi cita-cita besar yang membutuhkan pertolongan Tuhan sekaligus kerja nyata manusia.

“Mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan untuk mewujudkan tema yang penuh berkah ini,” katanya.

Abdul kemudian membawa ingatan hadirin kembali ke tahun 2000. Menurut penuturannya, Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, pernah diundang Presiden Abdurrahman Wahid ke Istana Negara.

Dalam pertemuan pada Juni 2000 tersebut, Presiden yang akrab disapa Gus Dur itu meminta pandangan mengenai solusi untuk mengatasi krisis yang sedang dihadapi Indonesia.

Dari sejumlah pandangan yang disampaikan ketika itu, terdapat empat pesan yang tetap tersimpan dalam ingatan Abdul hingga kini.

Pesan pertama adalah mempersatukan umat Islam Indonesia. Menurut Abdul, perbedaan golongan merupakan kenyataan yang telah lama hadir dalam sejarah umat. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghapus ikatan persaudaraan.

Setiap kelompok mungkin memiliki sejarah, pemikiran, penafsiran, dan cara menjalankan tradisi yang berbeda. Akan tetapi, identitas yang berbeda tidak dapat dijadikan alasan untuk saling meniadakan.

Ia mengutip sebuah prinsip sederhana dalam ajaran Islam:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.”

Persaudaraan yang dimaksud bukan hanya diucapkan dalam ceramah. Ia harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, melindungi, dan memberikan ruang kepada orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Persatuan juga tidak berarti menyeragamkan semua pemikiran. Ia justru tumbuh ketika perbedaan dapat dikelola dengan kedewasaan, keterbukaan, dan kesediaan untuk mencari titik temu.

Pesan itu menemukan relevansinya di Al-Zaytun. Dalam peringatan ulang tahun ke-27 tersebut, orang-orang dari berbagai latar belakang dapat hadir dalam satu ruang, saling menyapa, dan berbicara tentang masa depan pendidikan Indonesia.

Pesan kedua adalah menyelamatkan generasi muda dari narkoba. Abdul mengingat bahwa pada tahun 2000 istilah narkoba belum seakrab sekarang. Namun, ancamannya telah dibaca sebagai bahaya besar yang dapat merusak masa depan bangsa.

Generasi muda merupakan kekuatan utama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Mereka tidak cukup hanya disiapkan agar cerdas secara akademik. Tubuh, pikiran, pergaulan, dan lingkungan hidup mereka juga harus dijaga.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Sekolah dan pesantren tidak hanya bertugas menyampaikan pelajaran, tetapi juga membangun ketahanan diri. Anak-anak perlu dibekali kemampuan membedakan yang baik dan buruk, keberanian menolak pengaruh merusak, serta lingkungan yang mendukung tumbuhnya kebiasaan sehat.

Pesan ketiga adalah memberantas korupsi. Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau tingginya kemampuan teknologi. Ia juga bergantung pada kejujuran manusia yang mengelolanya.

Korupsi merampas kesempatan belajar, memperlebar ketimpangan, dan menghancurkan kepercayaan masyarakat. Karena itu, pemberantasannya harus dimulai sejak manusia berada di lingkungan pendidikan.

Kejujuran perlu menjadi kebiasaan, bukan sekadar materi pelajaran. Tanggung jawab harus dilatih melalui kehidupan sehari-hari. Pendidikan berkualitas harus mampu melahirkan manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menolak penyimpangan.

Pesan keempat adalah menjaga kemandirian ekonomi bangsa. Dalam penuturannya, Abdul mengingat nasihat agar Indonesia berhati-hati terhadap ketergantungan pada pinjaman lembaga keuangan internasional.

Pesan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membangun kekuatan dari dalam. Bangsa yang berdaulat harus memiliki kemampuan mengelola sumber dayanya, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat ekonomi rakyat, dan menentukan masa depannya sendiri.

Kemandirian tidak berarti menutup diri dari kerja sama dunia. Kemandirian berarti memiliki kemampuan berdiri sejajar, membuat keputusan dengan bebas, dan tidak menyerahkan kepentingan nasional kepada kekuatan lain.

Keempat pesan tersebut bertemu pada satu titik, yaitu pendidikan. Persaudaraan membutuhkan pendidikan yang menumbuhkan toleransi. Penyelamatan generasi muda membutuhkan pendidikan karakter. Pemberantasan korupsi membutuhkan pendidikan moral. Kemandirian bangsa membutuhkan pendidikan yang melahirkan manusia berilmu, terampil, dan produktif.

Abdul berharap setiap muslim dan muslimah memiliki ilmu yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa Indonesia, dan dunia.

“Ilmu harus memberikan manfaat sebagai bukti bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Ilmu yang bermanfaat tidak hanya membuat seseorang mampu menjawab ujian. Ia membentuk manusia yang mampu menyelesaikan persoalan, menolong sesama, menjaga perdamaian, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, memperbesar investasi pendidikan berkualitas berarti memperbesar investasi pada kemanusiaan. Bangsa tidak hanya sedang membangun sekolah, tetapi sedang menyiapkan manusia yang akan menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang.

Peringatan 27 tahun Al-Zaytun menjadi pengingat bahwa pendidikan dan persaudaraan tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan tanpa toleransi dapat melahirkan kesombongan. Keimanan tanpa persaudaraan dapat kehilangan nilai kemanusiaannya. Sementara kecerdasan tanpa integritas dapat berubah menjadi alat penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, empat pesan yang kembali disampaikan Abdul Rozak tetap memiliki daya hidup: rawat persaudaraan, lindungi generasi muda, tegakkan kejujuran, dan bangun kemandirian.

Dari sanalah Indonesia yang sehat, cerdas, damai, dan berdaulat dapat diwujudkan. Bukan hanya melalui pidato, tetapi melalui pendidikan yang menanamkan ilmu sekaligus kemanusiaan.**


Indramayu, 2 September 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!