MENANAM PENDIDIKAN, MENUAI INDONESIA EMAS: SERUAN SULTAN PASER XXVIII DARI AL ZAYTUN

Menanam Pendidikan, Menuai Indonesia Emas: Seruan Sultan Paser XXVIII dari Al-Zaytun

Oleh : Ali Aminulloh

Di tengah kemegahan Masjid Rahmatan Lil Alamin, angka 27 tidak sekadar menandai bertambahnya usia Ma’had Al-Zaytun. Angka itu menjelma menjadi titik pandang menuju masa depan: menuju tahun 2045, ketika Indonesia genap berusia satu abad. Dari mimbar peringatan Milad ke-27 Ma’had Al-Zaytun, Dr. Sultan AMH Andrian Sulaiman, S.T., M.B.A., menyerukan satu pesan yang kuat: Indonesia Emas hanya dapat diwujudkan apabila bangsa ini berani memperbesar investasi pada pendidikan yang berkualitas.

Peringatan Milad ke-27 Ma’had Al-Zaytun yang diselenggarakan pada 27 Agustus 2026 mengangkat tema, “Menyongsong 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia dengan Memperbesar Investasi Pendidikan yang Berkualitas.” Tema tersebut menjadi benang merah sambutan Sultan Paser XVIII yang diperkenalkan sebagai King of Nusantara sekaligus Pendiri dan Pembina Yayasan Pendidikan Indonesia Raya Nusantara.

Sebelum menyampaikan gagasannya, Sultan Andrian membuka sambutan dengan salam lintas agama dan kebangsaan. Salam Islam, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Rahayu, salam kebajikan, salam Pancasila, hingga pekik “Merdeka!” bergema di hadapan para tokoh agama, tokoh budaya, akademisi, pelajar, mahasiswa, wali santri, kelompok tani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, penggerak koperasi, serta para tamu dari dalam dan luar negeri.

Ia memberikan penghormatan kepada Syaykh Al-Zaytun, Dr. Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P., beserta Umi Faridah Al-Widad, M.P., dan seluruh keluarga besar Al-Zaytun. Penghormatan juga disampaikan kepada Dr. Datu Imam Prawoto, KRSS, M.B.A., CRBC, jajaran Yayasan Pendidikan Indonesia Raya Nusantara, serta Peter B. Setiawan yang hadir dari Kanada.

Namun, penghargaan yang paling hangat diberikan kepada para santri, mahasiswa, orang tua, dan panitia yang telah bekerja mempersiapkan peringatan milad. Bagi Sultan Andrian, merekalah unsur penting yang membuat gagasan besar tentang masa depan pendidikan menemukan ruang untuk dibicarakan dan diperjuangkan bersama.

Angka 27 dan Jalan Menuju 2045

Suasana menjadi lebih cair ketika Sultan Andrian menyampaikan pantun pembuka:

Habis angka 27, angka 28,
Habis 28, angka 29.
Yayasan Nusantara investasi pendidikan,
100 tahun Indonesia diuntungkan.

Pantun tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan yang mendalam. Perjalanan dari usia ke-27 menuju tahun-tahun berikutnya tidak boleh dipahami sebagai pergantian angka semata. Setiap tahun harus menjadi tahapan baru dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia.

Sultan Andrian memandang Milad Al-Zaytun sebagai momentum untuk mempertemukan perjalanan kelembagaan dengan perjalanan bangsa. Al-Zaytun telah memasuki usia 27 tahun, sedangkan Indonesia sedang bergerak menuju usia 100 tahun kemerdekaan pada 2045. Kedua perjalanan itu dipertautkan oleh satu kata kunci: pendidikan.

“Sambutan ini saya dedikasikan sebagai bukti bakti karya bagi bangsa Indonesia, khususnya di bidang pendidikan, menyongsong 100 tahun Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.

Pendidikan, dalam pandangannya, tidak dapat ditempatkan sebagai pengeluaran jangka pendek. Pendidikan merupakan investasi peradaban. Hasilnya mungkin tidak seluruhnya terlihat dalam satu atau dua tahun, tetapi menentukan wajah bangsa dalam beberapa dasawarsa mendatang. Ruang kelas yang dibangun hari ini, guru yang ditingkatkan kompetensinya, teknologi yang diperkenalkan, dan karakter yang ditanamkan kepada peserta didik akan menentukan kualitas Indonesia pada masa depan.

Pendidikan sebagai Hak dan Tanggung Jawab Negara

Sultan Andrian kemudian membawa perhatian hadirin kepada landasan konstitusional pendidikan. Ia mengingatkan bahwa Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. Konstitusi juga memberikan tanggung jawab kepada pemerintah untuk membiayai pendidikan dasar serta memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD.

Penyebutan landasan konstitusional tersebut menegaskan bahwa pendidikan berkualitas bukan sekadar kebaikan yang diberikan kepada masyarakat. Pendidikan merupakan hak warga negara sekaligus kewajiban negara. Karena itu, investasi pendidikan tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, wilayah tertentu, atau mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.

Ia juga menghubungkan pembangunan pendidikan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama misi penguatan pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan. Dalam kerangka tersebut, mutu pendidikan harus berjalan beriringan dengan perluasan akses.

Pendidikan bermutu untuk semua membutuhkan keberanian memperbaiki proses pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, memperkuat pendidikan vokasi, dan mendekatkan peserta didik dengan perkembangan teknologi. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan teori. Peserta didik perlu dibekali keterampilan keras, keterampilan lunak, literasi, kemampuan digital, kreativitas, komunikasi, kerja sama, dan keberanian memecahkan persoalan kehidupan nyata.

Ketika Danau Menjadi Laboratorium Pendidikan

Salah satu bagian yang menarik dari sambutan Sultan Andrian adalah pengalamannya menyaksikan kawasan perairan di lingkungan Al-Zaytun. Ia menggambarkan sebuah danau dengan luas kurang lebih satu hektare, kedalaman sekitar 12 meter, dan ketinggian air mencapai kurang lebih sembilan meter.

Bagi sebagian orang, danau mungkin hanya dipandang sebagai bentang air. Namun, di lingkungan pendidikan, ruang tersebut dapat dikembangkan menjadi laboratorium pembelajaran maritim. Di sana, peserta didik dapat menguji gagasan, mengenal teknologi, melakukan simulasi, serta menghubungkan teori dengan kenyataan.

“Ini adalah suatu ladang dan tempat mengimplementasikan karya-karya anak didik kita melalui simulasi maritim,” ujarnya dengan rasa bangga.

Pengamatan itu memperlihatkan pentingnya ekosistem pendidikan yang melampaui batas dinding kelas. Kebun, sawah, peternakan, bengkel, laboratorium, danau, hingga unit usaha dapat menjadi ruang belajar apabila dikelola dengan tujuan pendidikan yang jelas.

Model pembelajaran semacam itu memungkinkan peserta didik memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan rumus dan definisi. Ilmu harus menjadi alat untuk membaca alam, mengelola sumber daya, menciptakan teknologi, menyelesaikan masalah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kesan Sultan Andrian terhadap karya ilmu pengetahuan dan teknologi para peserta didik Al-Zaytun memperkuat pandangannya bahwa investasi pendidikan harus menyentuh sarana, manusia, metode pembelajaran, dan ruang pengembangan kreativitas. Teknologi tidak boleh sekadar menjadi pajangan modernitas. Teknologi harus dikuasai, digunakan, dan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan bangsa.

Pendidikan yang Merangkul Semua

Investasi pendidikan berkualitas juga harus berpijak pada prinsip inklusivitas dan kesetaraan. Sultan Andrian menekankan pentingnya membuka ruang belajar yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Pesan ini penting karena masa depan Indonesia tidak dapat dibangun dengan meninggalkan sebagian warga negara. Kemajuan yang hanya dinikmati oleh kelompok tertentu akan melahirkan kesenjangan baru. Sebaliknya, pendidikan yang inklusif memungkinkan setiap orang menemukan potensi dan memberikan kontribusi terbaiknya.

Kesetaraan bukan berarti menyeragamkan seluruh peserta didik. Kesetaraan berarti memberikan kesempatan, dukungan, dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Anak-anak dari keluarga sederhana, masyarakat pedesaan, perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas harus memperoleh jalan yang sama untuk tumbuh melalui pendidikan.

Di sinilah tema Milad ke-27 Al-Zaytun menemukan maknanya. Memperbesar investasi pendidikan tidak semata-mata berarti menambah jumlah gedung atau membeli perangkat teknologi. Investasi pendidikan harus memperbesar kesempatan manusia untuk belajar, berkembang, bekerja, berinovasi, dan hidup secara bermartabat.

Gagasan 500 Sekolah Modern Terpadu

Pada bagian berikutnya, Sultan Andrian menyampaikan dukungan terhadap rencana pembangunan 500 sekolah modern terpadu yang disebut akan dimulai pada 2027 oleh Yayasan Pendidikan Indonesia Raya Nusantara. Gagasan tersebut, menurut sambutannya, berkaitan dengan visi pendidikan yang dikembangkan Syaykh Al-Zaytun bersama jajaran yayasan.

Rencana itu disambut tepuk tangan para hadirin. Namun, di balik angka 500 terdapat tantangan yang tidak ringan. Sekolah modern terpadu membutuhkan konsep pendidikan yang matang, tenaga pendidik yang berkualitas, pengelolaan yang profesional, sarana pembelajaran yang relevan, serta keberlanjutan pendanaan.

Kata “modern” juga tidak boleh dibatasi pada bangunan yang megah atau perangkat digital yang canggih. Sekolah modern adalah sekolah yang mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Sementara itu, keterpaduan berarti menyatukan pembentukan karakter, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan vokasional, kecakapan teknologi, kesehatan, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Apabila dikembangkan secara konsisten, sekolah modern terpadu dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri, terampil, toleran, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsanya.

Dari Milad Menuju Gerakan Pendidikan

Menjelang akhir sambutan, Sultan Andrian kembali menggunakan pantun untuk menyampaikan harapan:

Lihat rumah Melayu berderet delapan,
Rumahnya cantik tak dikelilingi pagar.
Pendidikan modern terus berjalan,
Generasi emas siap untuk mengejar.

Pantun penutup itu seakan menegaskan bahwa gerbang menuju Indonesia Emas harus dibuka selebar-lebarnya. Tidak boleh ada pagar sosial, ekonomi, budaya, ataupun geografis yang menghalangi anak bangsa memperoleh pendidikan berkualitas.

Milad ke-27 Al-Zaytun akhirnya tidak berhenti sebagai perayaan perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Peringatan tersebut menjadi ruang untuk memperbarui tekad kebangsaan. Indonesia yang genap berusia 100 tahun pada 2045 tidak cukup disambut dengan slogan dan seremoni. Ia harus dipersiapkan melalui keberanian menanam investasi pendidikan sejak sekarang.

Dari Masjid Rahmatan Lil Alamin, Sultan Paser XVIII mengingatkan bahwa generasi emas tidak lahir secara tiba-tiba. Mereka tumbuh dari proses pendidikan yang panjang, disiplin, inklusif, dan berpandangan jauh ke depan. Setiap guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, setiap lembaga yang memperluas akses belajar, setiap teknologi yang dikembangkan, dan setiap anak yang memperoleh kesempatan pendidikan merupakan bagian dari perjalanan menuju satu abad Indonesia.

Pekik “Merdeka!” yang menutup sambutan itu pun memperoleh makna yang lebih luas. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, melainkan juga terbebas dari kebodohan, ketertinggalan, ketimpangan, dan ketidakberdayaan. Jalan menuju kemerdekaan yang utuh itulah yang sedang diperjuangkan melalui investasi pendidikan berkualitas dimulai hari ini, untuk Indonesia Emas 2045.**

Indramayu, 30 Agustus 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!