DIALOG SPIRITUAL ALA SUFI BERSAMA BATIN DAN JIWA SENDIRI, SUNGGUH TAK PENTING UNTUK DIKETAHUI OLEH ORANG LAIN

*Dialog Spiritual Ala Sufi Bersama Batin dan Jiwa Sendiri, Sungguh Tak Penting Untuk Diketahui Oleh Orang Lain*

Oleh : Jacob Ereste

Ketika do’a telah dikirimkan, tahukah kau Tuhan sedang dimana ? Inilah pertanyaan spiritual yang mungkin akan kau anggap sangat naib, tapi juga bisa dipahami sungguh berbobot filsafat spiritual yang sangat luas dan jelas cakupannya untuk memasuki dimensi spiritual yang nyata untuk dipahami oleh akal sehat dan waras. Sebab do’a dan Tuhan itu sendiri tak hanya bersifat sakral, tapi juga rasional adanya. Sebab do’a tak mungkin dikirimkan untuk memperoleh restu dari pihak lain, kecuali hanya dari Tuhan.

Karenanya, Tuhan itu sendiri pasti ada di dalam hatimu yang tak pernah kau selami seperti samudra yang maha luas, meski tak sebanding dengan keleluasan tentang kekuasaan dan pengetahuan dari kasih dan sayang Tuhan yang tidak terbatas dan acap tidak terduga. Inilah salah satu alasan do’a syukur wajib dikirimkan, dibanding do’a permintaan entah tentang apa saja yang sifatnya hanya untuk kesenangan hati sekitar keperluan duniawi.

Dialog spiritual dengan diri sendiri ini sungguh sangat menyenangkan batin dan jiwa hingga terasa semakin menenteramkan jiwa dan rasa dan was-was serta kecemasan sirna, tidak perlu merusuhi hati dan jiwa untuk menikmati hidup yang tenteram dan nyaman seperti manusia merdeka dan tenteram dari tekanan atau intimidasi dari pihak manapun, apalagi hanya dari penguasa zalim yang kelak pasti mendapatkan azab atas perbuatan buruk dan perilaku jahatnya.

Lalu mengapa kita harus takut dan risau atas perilaku yang akan mereka tanggung sendiri itu, bahkan dapat juga menjadi beban tambahan bagi anak cucu dan cicitnya sebagai azab kebiadaban yang tiada terkira.

Permenungan serupa ini jelas menjadi salah satu cara membuka pintu kesadaran semesta yang maha luas untuk kemudian bisa memasuki jagat besar yang lebih dahsyat dan mengagumkan di kediaman Tuhan yang tidak berpagar hingga bisa dimasuki oleh siapa yang lelah dan dahaga untuk menyegarkan kembali perjalan spiritual yang tak pernah usai kecuali sampai saat pemakaman diri di pekuburan.

Ekspresi spiritual mampu menghias ruang pertemuan dengan budaya. Do’a dan mantra menjadi senandung pembuka aura pertemuan yang sakral. Sebab do’a dan mantra bukan sekedar rangkaian kata-kata, keduanya mengirimkan frekuensi batin dan jiwa bertaut dengan Penguasa jagat raya yang tak terjangkau oleh akal dan intelektualitas se kampiun apapun, karena Tuhan cukup diterima oleh keyakinan dan kepercayaan — keimanan dan ketaqwaan tanpa ragu dan bimbang — haqqul yakin.

Do’a maupun mantra yang dilantunkan dari getaran hati dan jiwa, sebagai konsekuensi etis — bukan cuma sekedar kalimat yang diucapkan dengan sepenuh hati dan jiwa, tetapi wujud kesadaran dari ketidakberdayaan dihadapan Yang Maha Kuasa.

Masalahnya ketika do’a atau mantra dilantunkan, acap tidak diboboti oleh keyakinan dan kepercayaan dari sepenuh hati dan jiwa. Sehingga Tuhan pun, tak menampakkan wujud dari sejumlah permohonan yang diungkap melalui do’a dan atau pun mantra. Pembuktian empiris dari kemampuan manusia yang dianugerahi oleh Tuhan mampu mampu menjalin komunikasi dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain — mulai dari binatang dan Jin — adalah satu tahapan dari kemampuan manusia untuk bertegur sapa guna memperoleh petunjuk dalam bentuk apapun untuk menjadi pedoman hidup di dunia untuk kemudian sampai di akherat sengan selamat.

Oleh karena itu, mereka yang meniti di jalan sesat lantaran tidak pernah tamasya ke wilayah spiritual — sebagai pilar utama dari etika, moral dan akhlak — penjaga fitrah manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Padahal, dialog spiritual ala kaum sufi sungguh tak penting untuk diketahui orang lain. Tapi untuk terus menyegarkan ingatan — memori yang semakin renta — patut dibuatkan catatan supaya dapat diingat ulang agar tidak sampai terlupakan, saat harus melantunkan do’a dan mantra demi dan untuk keselamatan dan kerukunan yang terancam bersama kegaduhan di dunia yang nyaris tidak pernah berhenti.**


Banten, 29 Agustus 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!