Lewat Permainan Tradisional dan Ecoprint, Tim Pengabdi UNNES Bangun Sekolah Komunitas Inklusif di Semarang
SEMARANG-JAYANEWS.COM – Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian masyarakat. Tim dosen UNNES menggelar kegiatan “Penguatan Kapasitas Penyandang Disabilitas di Komunitas Sahabat Mata Kota Semarang Melalui Pengembangan Model Sekolah Komunitas Inklusif Berbasis Kearifan Lokal” pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Kegiatan yang didanai LPPM UNNES ini diikuti 20 peserta dari kalangan penyandang disabilitas sensorik penglihatan dan santri umum di Komunitas Sahabat Mata Kota Semarang.
Ketua Tim Pengabdi, Dr. Sos Puji Lestari, M.Si mengatakan, kegiatan ini lahir dari kebutuhan komunitas yang sudah memiliki komitmen inklusif namun masih menghadapi kendala.

“Komunitas Sahabat Mata sudah bagus, tapi belum ada model pemberdayaan yang sistematis berbasis kearifan lokal. Literasi digital untuk kampanye inklusi juga masih terbatas, dan stigma terhadap tunanetra masih ada. Karena itu kami hadir untuk menguatkan kapasitas mereka,” jelas Dr. Puji.
Rangkaian kegiatan dikemas secara partisipatif dan menyenangkan. Setelah pembukaan dan ISOMA, peserta dibagi dalam kelompok campuran antara penyandang disabilitas dan nondisabilitas. Mereka diajak bermain dakon, engklek, dan estafet bunyi. Permainan tradisional ini diadaptasi agar bisa diakses oleh semua.
“Lewat permainan, kami tanamkan nilai komunikasi, kepercayaan, kerja sama, dan toleransi. Anak-anak tunanetra belajar percaya pada teman yang menuntun, dan teman nondisabilitas belajar empati,” tambah Ruhadi, S.Pd., M.Pd salah satu anggota tim.

Selain permainan, peserta juga dilatih membatik ecoprint. Teknik membatik dengan pewarna alami dari daun ini dipilih karena ramah lingkungan dan mudah dipelajari. Hasilnya, peserta tidak hanya mendapat keterampilan baru, tetapi juga belajar menghargai kearifan lokal dan alam.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan “Sekolah Komunitas Inklusif” yang memiliki 3 fondasi: fondasi nilai, fondasi interaksi, dan fondasi digital. Targetnya adalah terbentuknya ruang belajar yang mempertemukan disabilitas dan nondisabilitas secara setara.
Ke depan, tim UNNES akan melakukan pendampingan lanjutan, penyusunan modul aksesibel termasuk versi Braille, serta penguatan literasi digital. Luaran program ini berupa artikel ilmiah di Jurnal Altifani Sinta 4, publikasi media, video dokumentasi, dan HKI model Sekolah Komunitas Inklusif.
“Harapannya model ini bisa direplikasi di sekolah, madrasah, dan komunitas lain. Karena inklusi itu bukan tentang sama, tapi tentang setara dan saling menghargai,” pungkas Dr. Puji.**
Nur Fateah
——-
![]()
