*Sosok Seorang Pemimpin Yang Diidolakan Rakyat*
Penulis : Jacob Ereste
Pemimpin yang baik dan bijak adalah seseorang yang mau memperbaiki dan memperjuangkan kepentingan orang banyak. Mau mendengar pendapat dan usulan rakyat, gampang memaafkan kesalahan dan kekeliruan — apalagi. kekurangan — yang patut dipahami secara arif dan bijak, sebab pendidikan dan pengetahuan rakyat tidak sejembar wawasan yang dimiliki seorang pemimpin. Sebab pemimpin idealnya dipilih dari seorang rakyat yang memiliki banyak kelebihan. Kesabaran, permakluman serta pemaaf namun dengan cita-cita yang tinggi dan mulia untuk memanusiakan rakyat yang dipimpinnya untuk lebih baik, lebih sejahtera dan lebih beradab dengan peningkatan ilmu. pengetahuan serta pengalaman hingga keterampilan agar dapat membangun kehidupan pribadi dan keluarganya bisa lebih sejahtera dalam arti lahir dan batin.
Karena itu, konstitusi kita memberi catatan tegas untuk membangun jiwa dan membangun raga segenap warga bangsa Indonesia yang merdeka, bebas dari segenap tekanan dan penindasan, tidak kecuali dari aparatur negara Indonesia sendiri. Karena keresahan yang melaten dalam kehidupan hidup warga bangsa Indonesia, bukan hanya penjajahan terselubung dari bangsa asing, tetapi juga penjajahan dari bangsa sendiri sebagai penguasa dan sebagai pengusaha dengan kekuatan finansial yang dimilikinya untuk membangun pasukan bayangan yang bisa menekan dan mengintimidasi — atau bahkan menindas lebih biadab dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing di negeri kita sendiri.
Oleh karena itu, pemimpin yang ideal untuk negeri Pancasila ini adalah seseorang yang mau mendengarkan kriti, masukan serta serta usulan yang dapat dipilih dari yang terbaik, tanpa perlu merasa didikte dan direndahkan, sebab koreksi yang dilakukan pun harus dipastikan untuk sesuatu yang lebih baik demi rakyat, bukan untuk memenuhi selera dan ambisi pribadi sendiri. Atas dasar itu pula. pemimpin yang baik dan bijak tak perlu banyak komentar dan pasang omong untuk sekedar mengatakan apa yang tidak dipikirkan oleh rakyat sedang berkecamuk dalam pikirannya untuk diwujudkan demi dan untuk meningkatkan kesejahteraan yang lebih baik dan lebih berkeadilan, sehingga tidak sampai menimbulkan gejolak kecemburuan seperti yang semakin marak menimbulkan kegaduhan hingga kerusuhan seperti yang terjadi di berbagai daerah akibat perbaikan dalam berbagai bidang — infrastruktur dan suprastruktur — yang terkesan tidak adil, sehingga berbagai usaha yang dilakukan rakyat harus dibayar dengan sangat mahal.
Sekedar untuk mengukur perlakuan keadilan dan pembangunan di semua daerah bisa lebih menggunakan sarana dan kebutuhan sosial yang pokok mulai dari pelayanan air bersih, listrik, gas dan bahan bahan bakar minyak serta kebutuhan pangan pokok. Sehingga cahaya penerangan bisa menumbuhkan aspirasi yang segar jauh dari sikap dan prilaku kriminal dan mesum, sampai fasilitas umum yang lebih manusiawi — tak hanya sekedar asal jadi — sehingga memiliki nilai estetik yang bisa mendukung gairah hidup, semangat usaha serta kenyamanan dan ketenteraman yang menyenangkan hati, kendati rekening listrik di rumah sedang mengancam untuk dipadamkan.
Sebab esensi dari hidup yang berkualitas itu tidak hanya tercukupi keperluan dalam bentuk material semata, tetapi kebutuhan yang bernilai spiritual tidak kalah penting untuk menjinakkan kegundahan hati, akibat usaha yang gagal, pembayaran kontrak rumah sedang mengancam, termasuk harga gula, kopi dan minyak goreng yang terasa menjadi tekanan beban hidup dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit dan pahit.
Idealnya bagi seorang pemimpin yang diidolakan rakyat adalah selalu berusaha untuk meringankan beban hidup rakyat, mulai dari pungutan pajak, perbaikan tata pelaksanaan subsidi yang tidak tepat sasaran karena diselewengkan, pelaksanaan makan bergizi gratis jangan lagi dilakukan dengan serampangan serta tidak boleh ada korban keracunan, termasuk koperasi merah putih harus jelas untuk meringankan — bahkan wajib membantu — meringankan beban ekonomi rakyat. Dan pelaksanaan program sekolah rakyat justru harus untuk memperkuat program pendidikan yang sudah ada, serta mengoptimalkan tenaga kerja honor yang telah membuktikan dedikasi dan pengabdiannya untuk rakyat, bukan untuk kepentingan politik dan legasi yang tidak pantas untuk dibanggakan, tidak ada alasan bagi rakyat untuk mendukung dan mewakafkan diri untuk semua pekerjaan yang mulia ini.
Sekiranya semua program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah sungguh ikhlas dan murni beranjak dari ide dan aspirasi dan mendengar usulan untuk perbaikan kesempurnaan program yang dilakukan, dalat dipastikan rakyat akan mendukung dengan sepenuh hati terhadap semua program pemerintah yang pro rakyat ini. Jadi, sosok seorang pemimpin adalah memiliki kepribadian dan sikap mengabdi, bekerja dan membangun untuk rakyat, bukan untuk dirinya sendiri dan keluarga serta kroninya.**
Banten, 18 Agustus 2026
———
![]()
