PKBM Al Zaytun Siapkan Tutor Menyongsong Era AI: Up Grading Kompetensi Menjadi Fondasi Membangun Pendidikan Berkualitas
Oleh Ali Aminulloh
INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Menghadapi perubahan zaman bukan sekadar soal mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tentang menyiapkan manusia yang mampu mengendalikan teknologi dengan ilmu, karakter, dan kebijaksanaan. Dari ruang-ruang pelatihan seperti inilah masa depan pendidikan sesungguhnya sedang dipersiapkan.
Komitmen meningkatkan mutu pendidikan terus diperkuat PKBM Al Zaytun melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusianya. Menjelang dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026/2027, PKBM Al Zaytun kembali menggelar Up Grading Tutor pada Selasa, 30 Juni 2026, dengan mengangkat tema “Peningkatan Kompetensi Tutor dalam Membangun Pendidikan Berkualitas.”
Kegiatan yang diikuti seluruh tutor PKBM Al Zaytun tersebut menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan. Narasumber pertama, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., Kepala PKBM Al Zaytun sekaligus dosen IAI Al Azis, menyampaikan materi “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan.” Selanjutnya, Prof. Dr. Sujarwo, M.Pd., Guru Besar Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), memaparkan materi mengenai peningkatan kompetensi tutor dalam mewujudkan pendidikan berkualitas di Mahad Al Zaytun.
Mengawali pemaparannya, Dr. Ali Aminulloh mengajak para tutor melihat perubahan zaman dari sudut pandang yang lebih filosofis.
“Manusia tidak pernah lepas dari ruang dan waktu,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap manusia memiliki ruang pengabdian dan berada pada waktu yang terus berubah. Dalam konteks ruang, para peserta adalah tutor PKBM Al Zaytun yang memiliki tanggung jawab mencerdaskan masyarakat. Sedangkan dalam konteks waktu, dunia sedang memasuki era transformasi digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Karena itu, menurutnya, seorang tutor tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu membaca perubahan zaman dan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Dalam paparannya, Dr. Ali menjelaskan perjalanan evolusi kecerdasan manusia. Ia menggambarkan bagaimana pada Era Print, orang yang rajin membaca buku menjadi sumber ilmu pengetahuan. Kemudian berkembang menjadi Era Search, ketika kemampuan mencari informasi melalui mesin pencari menjadi modal utama memperoleh ilmu.
Perubahan berikutnya adalah Era Algoritma, yaitu masa ketika informasi justru datang menghampiri manusia melalui media sosial dan berbagai platform digital. Di era ini muncul tantangan besar berupa fenomena post-truth, ketika opini yang berulang kali muncul sering dianggap sebagai kebenaran, meskipun belum tentu didukung fakta.
“Salah satu tugas tutor hari ini adalah menjaga daya kritis peserta didik agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang belum terverifikasi,” jelasnya.
Saat ini, lanjutnya, dunia pendidikan mulai memasuki Era Generative AI, yakni masa ketika kemampuan menyusun pertanyaan atau prompt menjadi kompetensi penting. Semakin tepat seseorang memberikan instruksi kepada AI, semakin berkualitas pula informasi yang diperoleh.
Ke depan, perkembangan teknologi bahkan diprediksi memasuki Era Agentic AI, ketika kecerdasan buatan mampu mengambil keputusan sekaligus mengeksekusinya. Namun, menurut Dr. Ali, secanggih apa pun AI berkembang, manusia tetap menjadi pemegang kendali karena hanya manusialah yang memiliki nilai, nurani, etika, dan tanggung jawab moral.
Ia pun menepis kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran guru.
“AI adalah alat bantu, bukan pengganti guru. Pendidikan tetap membutuhkan sentuhan hati, keteladanan, dan pembentukan karakter yang hanya dapat dilakukan oleh manusia,” tegasnya.
Agar pemanfaatan AI benar-benar memberi manfaat dalam pembelajaran, Dr. Ali memperkenalkan empat prinsip utama kepada para tutor. Pertama, menyusun prompt yang jelas dan spesifik. Kedua, memposisikan AI sebagai mitra kerja, bukan sebagai pengambil keputusan. Ketiga, memahami bahwa hasil AI tetap memerlukan analisis dan penyempurnaan dari tutor. Keempat, melakukan validasi melalui proses check dan recheck sehingga setiap informasi yang digunakan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Siapa yang mampu bersinergi dengan perkembangan zaman akan memenangkan masa depan. Sebaliknya, yang menolak perubahan akan tertinggal oleh kereta sejarah,” pesannya.
Memasuki sesi berikutnya, Prof. Dr. Sujarwo, M.Pd. mengajak para tutor memahami bahwa kualitas pendidikan pada hakikatnya sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya. Menurut Guru Besar Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Yogyakarta tersebut, tutor merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan karena merekalah yang setiap hari berinteraksi langsung dengan peserta didik.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan kompetensi tutor tidak dapat dilakukan secara insidental, tetapi harus menjadi budaya belajar sepanjang hayat. Seorang tutor dituntut terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian agar mampu menjawab tantangan perubahan masyarakat yang semakin dinamis.
Menurut Prof. Sujarwo, pendidikan berkualitas lahir dari tutor yang tidak pernah berhenti belajar. Tutor harus mampu merancang pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, relevan dengan kebutuhan peserta didik, sekaligus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia juga menegaskan bahwa peningkatan kompetensi tidak semata-mata bertujuan meningkatkan kemampuan mengajar, tetapi juga membangun karakter pendidik yang memiliki integritas, dedikasi, semangat melayani, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Dalam konteks Mahad Al Zaytun, menurutnya, tutor memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi. Mereka juga berperan membentuk budaya belajar, karakter peserta didik, serta menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, toleransi, dan semangat membangun peradaban.
Karena itu, kegiatan Up Grading Tutor menjadi investasi strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ketika kompetensi tutor terus bertumbuh, kualitas proses pembelajaran pun akan meningkat, yang pada akhirnya melahirkan lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan emosional, karakter yang kuat, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Pelatihan yang berlangsung penuh antusias tersebut sekaligus memperlihatkan komitmen PKBM Al Zaytun untuk terus menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.
Melalui perpaduan pemikiran Dr. Ali Aminulloh tentang pemanfaatan AI dalam pendidikan dan penguatan kompetensi tutor yang disampaikan Prof. Dr. Sujarwo, Up Grading Tutor PKBM Al Zaytun tidak hanya menjadi agenda rutin peningkatan kapasitas tenaga pendidik, tetapi juga menjadi ikhtiar nyata menyiapkan para tutor agar mampu mengawal lahirnya pendidikan yang berkualitas, relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah derasnya arus transformasi digital, PKBM Al Zaytun memilih tidak sekadar menjadi penonton perubahan. Melalui penguatan kompetensi tutor secara berkelanjutan, lembaga ini sedang menegaskan satu pesan penting: masa depan pendidikan akan ditentukan oleh para pendidik yang terus belajar, mampu beradaptasi, dan menjadikan teknologi sebagai sarana untuk memuliakan manusia.**
Red
——
![]()
