Membangun Peradaban Melalui Kasih dan Persatuan, Pdt. Wim Wairata: Tantangan Terbesar Bangsa Adalah Menjaga Kemanusiaan


Membangun Peradaban Melalui Kasih dan Persatuan, Pdt. Wim Wairata: Tantangan Terbesar Bangsa Adalah Menjaga Kemanusiaan

Oleh : Ali Aminulloh

Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi, manusia semakin mudah terhubung satu sama lain.

Namun ironisnya, pada saat yang sama, manusia juga semakin rentan kehilangan hubungan dengan sesamanya.

Kemajuan teknologi mampu mendekatkan jarak, tetapi tidak selalu mendekatkan hati.

Kemajuan ilmu pengetahuan mampu meningkatkan kualitas hidup, tetapi tidak selalu diiringi dengan meningkatnya kualitas kemanusiaan.

Kegelisahan itulah yang menjadi salah satu pokok pemikiran Pdt. Wim Wairata, M.Th., Ketua Umum Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), saat menjadi narasumber dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).

Di hadapan ribuan peserta yang memenuhi ruang utama masjid, ia mengajak seluruh hadirin untuk melihat tantangan global bukan hanya dari aspek ekonomi, teknologi, atau politik, tetapi juga dari perspektif kemanusiaan dan spiritualitas.

Ketika Dunia Kehilangan Arah

Menurut Wim Wairata, berbagai persoalan yang dihadapi dunia saat ini sesungguhnya berakar pada satu persoalan mendasar, yaitu melemahnya hubungan manusia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Konflik sosial, peperangan, kekerasan, krisis moral, hingga meningkatnya individualisme merupakan gejala yang muncul ketika manusia mulai kehilangan orientasi hidup yang benar.

Kemajuan teknologi yang luar biasa tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijaksana.

Kemajuan ekonomi tidak selalu membuat manusia menjadi lebih peduli terhadap sesamanya.

Karena itu, pembangunan peradaban tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual.

Peradaban juga membutuhkan kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual.

Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan material dan kemajuan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

Dalam paparannya, Wim Wairata menempatkan pendidikan sebagai instrumen penting dalam membangun peradaban.

Namun pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan yang menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi.

Lebih dari itu, pendidikan harus mampu memanusiakan manusia.

Pendidikan harus membentuk karakter.

Pendidikan harus melahirkan pribadi yang memiliki empati, kepedulian, integritas, dan kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.

Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan abad ke-21 bukan sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi mencetak manusia yang bijaksana.

Manusia yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk kebaikan bersama.

Manusia yang menjadikan teknologi sebagai sarana membangun peradaban, bukan alat untuk merusaknya.

Persatuan Berawal dari Kasih

Salah satu pesan yang paling kuat disampaikan Wim Wairata adalah pentingnya membangun persatuan melalui kasih dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Menurutnya, perbedaan agama, budaya, bahasa, maupun latar belakang sosial tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.

Sebaliknya, keberagaman harus menjadi ruang untuk saling belajar dan saling memperkaya.

Ia mengajak seluruh peserta untuk melihat sesama manusia sebagai saudara dalam kehidupan kebangsaan.

Karena pada hakikatnya, semua warga negara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga Indonesia.

Persatuan tidak akan lahir dari rasa curiga.

Persatuan tidak akan tumbuh dari prasangka.

Persatuan hanya dapat tumbuh dari penghormatan, kepercayaan, dan kasih kepada sesama.

Kesan Mendalam tentang Al Zaytun

Wim Wairata juga menyampaikan kesan mendalam selama mengikuti kegiatan di Al Zaytun.

Menurutnya, apa yang ia saksikan di Al Zaytun menunjukkan bahwa kehidupan dalam keberagaman bukanlah sesuatu yang mustahil.

Ia melihat tokoh-tokoh lintas agama, akademisi, pejabat, santri, mahasiswa, dan masyarakat umum dapat berinteraksi dalam suasana yang penuh penghormatan.

Baginya, pemandangan tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi Indonesia.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh berbagai kepentingan, ruang-ruang dialog seperti yang dibangun Al Zaytun menjadi semakin penting.

Karena bangsa yang besar memerlukan tempat-tempat yang mampu mempertemukan perbedaan dalam suasana persaudaraan.

Menyiapkan Generasi Pembawa Damai

Menurut Wim Wairata, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda yang sedang dipersiapkan hari ini.

Karena itu, pendidikan harus diarahkan untuk melahirkan generasi pembawa damai.

Generasi yang mampu hidup dalam keberagaman.

Generasi yang mampu menyelesaikan konflik melalui dialog.

Generasi yang memiliki kemampuan bekerja sama dengan siapa pun demi kepentingan bangsa.

Generasi seperti itulah yang akan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Dalam pandangannya, bangsa yang mampu melahirkan generasi pembawa damai akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan bangsa yang hanya mengandalkan kekuatan ekonomi atau militer.

Indonesia dan Harapan Masa Depan

Menjelang akhir paparannya, Wim Wairata menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia.

Ia meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki modal yang sangat besar berupa keberagaman budaya, semangat gotong royong, serta nilai-nilai religius yang hidup di tengah masyarakat.

Modal tersebut harus terus dirawat melalui pendidikan, dialog, dan kerja sama antarelemen bangsa.

Dari podium Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun, Wim Wairata menyampaikan sebuah pesan yang sangat relevan bagi kehidupan kebangsaan saat ini.

Bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.

Kemajuan bangsa juga diukur dari kemampuannya menjaga kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kuat atau paling kaya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memelihara kasih, merawat persatuan, dan menjaga martabat kemanusiaan dalam setiap langkah perjalanannya.

Dan di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pesan itu terasa semakin penting untuk terus dihidupkan bersama.*


Indonesia, 20 Juni 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!