Optimisme Ekonomi untuk Indonesia Raya, Prof. Setyo Tri Wahyudi: Persatuan adalah Modal, Kemandirian adalah Tujuan
Oleh : Ali Aminulloh
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sibuk meratapi kekurangannya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengenali kekuatannya, memanfaatkan potensinya, lalu mengubahnya menjadi kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.
Di tengah berbagai narasi pesimisme yang kerap menghiasi ruang publik, Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, justru menghadirkan pesan yang berbeda.
Pesan optimisme.
Pesan tentang Indonesia yang sesungguhnya memiliki semua syarat untuk menjadi bangsa maju.
Pesan itu disampaikannya dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026), yang mengangkat tema “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global.”
Indonesia Memiliki Segalanya
Menurut Prof. Setyo Tri Wahyudi, banyak negara maju di dunia tumbuh dan berkembang dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas dibandingkan Indonesia.
Sebaliknya, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, lahan pertanian yang luas, keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta jumlah penduduk yang besar.
Modal tersebut merupakan anugerah yang tidak dimiliki banyak negara.
Karena itu, ia mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak terjebak dalam mentalitas bangsa yang selalu merasa kurang.
Justru sebaliknya, bangsa ini harus mulai membangun kepercayaan diri sebagai bangsa besar yang memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Menurutnya, kemandirian ekonomi tidak akan lahir dari ketergantungan, tetapi dari keyakinan terhadap kemampuan bangsa sendiri.
Persatuan sebagai Modal Ekonomi
Sebagai ekonom, Prof. Setyo melihat bahwa persatuan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar simbol politik atau sosial.
Persatuan adalah modal pembangunan.
Persatuan menciptakan stabilitas.
Persatuan membangun kepercayaan.
Persatuan melahirkan kolaborasi.
Dan seluruh elemen tersebut merupakan syarat penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, tidak ada negara yang mampu membangun perekonomian kuat apabila masyarakatnya terus terjebak dalam konflik dan perpecahan.
Karena itu, tema yang diangkat Al Zaytun memiliki makna yang sangat strategis.
Persatuan bukan hanya kebutuhan sosial.
Persatuan adalah kebutuhan ekonomi.
Persatuan adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
Pendidikan dan Pembangunan Manusia
Prof. Setyo juga memberikan perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia.
Menurutnya, era persaingan global saat ini tidak lagi ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam semata.
Yang menentukan adalah kualitas manusianya.
Bangsa yang memiliki sumber daya manusia unggul akan mampu mengelola berbagai potensi yang dimiliki menjadi kekuatan ekonomi.
Sebaliknya, bangsa yang gagal membangun manusianya akan kesulitan keluar dari berbagai persoalan pembangunan.
Karena itu, pendidikan harus menjadi prioritas utama.
Pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga melahirkan manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan memiliki integritas.
Dalam konteks inilah Prof. Setyo melihat pentingnya berbagai ikhtiar pendidikan yang dilakukan Al Zaytun.
Menyambut Gagasan Besar Pendidikan Nasional
Salah satu hal yang menarik perhatian Prof. Setyo adalah gagasan besar pembangunan pusat-pusat pendidikan berasrama yang terintegrasi.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak lembaga pendidikan yang mampu mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, keterampilan hidup, serta penguatan semangat kebangsaan.
Pendidikan tidak boleh berjalan secara parsial.
Pendidikan harus mampu menghasilkan manusia yang utuh.
Manusia yang cerdas secara intelektual.
Kuat secara moral.
Mandiri secara ekonomi.
Dan memiliki kepedulian terhadap bangsa serta kemanusiaan.
Karena itu, berbagai inovasi pendidikan yang berkembang di Al Zaytun layak menjadi bagian dari diskursus nasional mengenai masa depan pendidikan Indonesia.
Tantangan Global Adalah Peluang
Dalam paparannya, Prof. Setyo mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang mengalami perubahan yang sangat cepat.
Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan pola ekonomi global, hingga dinamika geopolitik internasional menghadirkan tantangan baru bagi setiap bangsa.
Namun menurutnya, tantangan tersebut tidak harus selalu dipandang sebagai ancaman.
Setiap perubahan juga menghadirkan peluang.
Bangsa yang mampu beradaptasi akan memperoleh manfaat besar dari perubahan tersebut.
Sebaliknya, bangsa yang terlambat menyiapkan diri akan tertinggal.
Karena itu, Indonesia harus mempersiapkan diri melalui pendidikan, inovasi, penguatan ekonomi produktif, dan pembangunan karakter bangsa.
Menatap Indonesia Emas dengan Optimisme
Menjelang akhir paparannya, Prof. Setyo Tri Wahyudi mengajak seluruh peserta untuk menumbuhkan optimisme terhadap masa depan Indonesia.
Ia meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki semua modal yang diperlukan untuk menjadi negara maju.
Yang dibutuhkan adalah kerja keras, persatuan, kepemimpinan yang visioner, dan kesungguhan dalam membangun manusia Indonesia.
Menurutnya, cita-cita mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, dan sejahtera bukanlah sesuatu yang mustahil.
Sebagaimana bangsa-bangsa besar lain di dunia, Indonesia pun memiliki peluang yang sama untuk mencapai kemajuan apabila mampu mengelola potensinya dengan baik.
Dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun, Prof. Setyo Tri Wahyudi menyampaikan satu pesan yang terasa sederhana namun sangat mendalam:
Jangan pernah meragukan masa depan Indonesia.
Karena bangsa ini memiliki sumber daya, memiliki manusia, memiliki budaya, dan memiliki persatuan yang cukup untuk menjadi bangsa besar.
Dan ketika persatuan dijaga serta pendidikan terus diperkuat, maka kemandirian bangsa bukan lagi sekadar cita-cita.
Ia akan menjadi kenyataan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.**
Indramayu, 19 Juni 2026
——
![]()
