Seminar Internasional Al-Zaytun: Tiga Guru Besar Dunia Berdialog tentang Teologi, Budaya Populer, dan Masa Depan Peradaban


Seminar Internasional Al-Zaytun: Tiga Guru Besar Dunia Berdialog tentang Teologi, Budaya Populer, dan Masa Depan Peradaban

Oleh : Ali Aminulloh

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Ma’had Al-Zaytun dan IAI Al- Azis berkembali menunjukkan perannya sebagai ruang dialog akademik bertaraf internasional dengan menyelenggarakan Seminar Internasional pada 10 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan tiga akademisi terkemuka, yaitu Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., Prof. Dr. H. Idzam Fautanu, MA. dari UIN Bandung dan Prof. Dr. Joshua David Holman, Ph.D dari Congcordia University USA, serta wakil Rektor Bidang Administrasi IAI Al Azis, Dr. Irvan Iswandi, S.E., M.T. Seminar yang mengangkat tema besar relasi agama dan budaya kontemporer ini menjadi ajang pertemuan gagasan lintas bangsa, lintas disiplin ilmu, dan lintas tradisi intelektual.

Di hadapan sivitas akademika Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS), para santri, dosen, dan tamu undangan, Prof. Idzam Fautanu menyampaikan refleksi mendalam tentang teologi, budaya populer, dan masa depan pendidikan Islam. Namun sebelum memasuki pokok pemikirannya, ia terlebih dahulu menyampaikan apresiasi kepada Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam R. Panji Gumilang, yang baru saja meraih gelar candidat doktor di bidang ilmu hukum. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan teladan penting bagi para santri bahwa proses belajar tidak mengenal usia.

“Kalau Syaykh masih semangat menggali ilmu pengetahuan pada usia yang tidak lagi muda, maka para santri tentu harus lebih bersemangat lagi,” ungkapnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Menyaksikan Langsung Ekosistm Pendidikan Al-Zaytun

Kunjungan Prof. Idzam ke Al-Zaytun tidak hanya berlangsung di ruang seminar. Sehari sebelumnya ia berkesempatan meninjau langsung berbagai fasilitas pendidikan, kawasan pertanian, hingga lingkungan pesantren yang luas. Pengalaman tersebut memberinya kesan mendalam tentang bagaimana Al-Zaytun membangun pendidikan secara menyeluruh.

Salah satu hal yang paling menarik perhatiannya adalah perhatian pesantren terhadap pemenuhan gizi santri. Ia mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa makanan yang disajikan kepada tamu memiliki kualitas dan porsi yang sama dengan yang diterima para santri setiap hari.

Baginya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan tenaga pengajar, tetapi juga oleh perhatian terhadap perkembangan fisik peserta didik. Pemenuhan kebutuhan gizi yang baik merupakan fondasi penting bagi tumbuhnya generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global.

Pengalaman itu mengingatkannya pada masa-masa ketika menjadi santri di Pondok Modern Gontor. Dengan nada penuh humor, ia membandingkan kondisi pesantren masa lalu dengan fasilitas yang kini tersedia di Al-Zaytun. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap berhasil menempuh pendidikan hingga menjadi profesor. Namun menurutnya, para santri Al-Zaytun saat ini memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berkembang karena didukung fasilitas yang lebih memadai.

Pendidikan Holistik yang Menyatukan Teori dan Praktik

Dari hasil pengamatannya, Prof. Idzam melihat bahwa salah satu kekuatan utama Al-Zaytun terletak pada konsistensi antara visi, misi, tujuan pembelajaran, dan implementasi pendidikan di lapangan. Ia menyoroti adanya sepuluh tujuan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, termasuk perhatian terhadap pengembangan seni dan budaya sebagai bagian dari proses pendidikan.

Menurutnya, seni bukan sekadar pelengkap pendidikan, melainkan salah satu instrumen penting dalam membangun peradaban. Karena itu, ia menilai langkah Al-Zaytun yang memberi ruang bagi pengembangan seni merupakan bentuk pemahaman pendidikan yang progresif.

Lebih jauh, ia melihat Al-Zaytun tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan keagamaan semata. Berbagai sektor lain seperti ekonomi, budaya, pertanian, hingga pengembangan masyarakat juga diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran. Pendekatan multidisipliner semacam ini, menurutnya, merupakan model pendidikan masa depan yang mampu melahirkan generasi dengan kemampuan adaptif terhadap berbagai tantangan zaman.

Dari Mahfudzat Menuju Peradaban

Di hadapan para santri, Prof. Idzam membagikan tiga mahfudzat yang menjadi pegangan hidupnya sejak mondok.

Man jadda wajada: siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Man shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung.

Man sara ‘ala darbi washala: siapa yang berjalan di jalannya akan sampai pada tujuan.

Menurutnya, keberhasilan akademik tidak selalu ditentukan oleh tingkat kecerdasan semata. Konsistensi, ketekunan, dan kesabaran justru menjadi faktor yang lebih menentukan dalam perjalanan seseorang mencapai cita-citanya. Pesan tersebut disampaikan sebagai motivasi kepada para santri yang kelak akan menjadi generasi pembangun peradaban.

Teologi di Tengah Budaya Populer

Memasuki materi utama seminar, Prof. Idzam mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan modern, yakni hubungan antara teologi dan budaya populer. Ia menjelaskan bahwa teologi merupakan salah satu cabang penting dalam studi Islam, berdampingan dengan filsafat Islam dan tasawuf.

Dalam konteks perkembangan masyarakat modern, ia mengapresiasi pemikiran Prof. Joshua David Holman yang menempatkan dunia sekuler bukan sebagai ancaman bagi agama, melainkan sebagai realitas yang harus dipahami dan dihadapi secara konstruktif. Menurutnya, umat beragama tidak boleh menjauh dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya populer. Sebaliknya, semua itu harus dikuasai untuk kepentingan kemanusiaan dan pembangunan peradaban.

Karena itu, ia mendorong agar IAI AL-AZIS tidak hanya mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga memperkuat kajian ilmu sosial, sains, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu lain yang dibutuhkan masyarakat masa kini.

Islam yang Terbuka dan Dialogis

Dalam pandangan Prof. Idzam, tantangan terbesar umat beragama saat ini bukanlah keberagaman gagasan, melainkan ketidakmampuan berdialog dengan perbedaan. Ia mengutip pemikiran gurunya, Nurcholish Madjid, yang menekankan pentingnya membedakan antara penghormatan terhadap simbol keagamaan dan ketauhidan kepada Allah SWT.

Karena itu, budaya populer tidak perlu dipandang sebagai musuh agama. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca perubahan sosial melalui perspektif yang bijaksana dan kontekstual. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai fikih kebudayaan, yaitu cara memahami kehidupan modern tanpa kehilangan nilai-nilai dasar agama.

Dalam konteks ini, ia menilai bahwa berbagai gagasan yang dikembangkan Syaykh Panji Gumilang menunjukkan upaya untuk melampaui perdebatan-perdebatan teologis klasik dan mengarahkan pemikiran Islam pada persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat modern.

Mendengar yang Terbaik untuk Masa Depan

Menutup paparannya, Prof. Idzam mengutip QS. Az-Zumar ayat 17–18, ayat yang menurutnya sering dijadikan rujukan oleh para gurunya. Inti pesan ayat tersebut adalah bahwa orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah adalah mereka yang mau mendengarkan berbagai pandangan, lalu memilih yang terbaik.

Pesan itu terasa sangat relevan dengan semangat Seminar Internasional Al-Zaytun. Di tengah dunia yang semakin terhubung namun juga semakin terpolarisasi, dialog akademik menjadi sarana penting untuk membangun pemahaman bersama. Kehadiran tiga guru besar dari Indonesia dan Amerika Serikat bukan sekadar pertukaran gagasan ilmiah, melainkan juga perwujudan komitmen Al-Zaytun dalam membangun peradaban yang terbuka, inklusif, dan berorientasi masa depan.

Seminar ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu keagamaan, tetapi juga ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemanusiaan, kebudayaan, dan masa depan dunia. Dari Al-Zaytun, dialog antara teologi dan budaya populer menemukan relevansinya: agama tidak hadir untuk menjauh dari zaman, melainkan untuk memberi arah bagi peradaban yang terus berubah.**

Red/AA
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!