*Kampus Datang, Siapa Tersingkir?*
Oleh:
*Masduki Duryat*
_(Dewan Pendidikan Kabupaten Indramayu)_
Gelombang baru sedang menuju Indramayu—bukan berupa industrialisasi semata, melainkan invasi sunyi bernama “kampus besar.” Dalam satu tarikan napas, rencana kehadiran UPI, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, UNPAD, dan UNJ di satu kawasan seolah menjanjikan lonjakan peradaban.
Namun pertanyaan mendasarnya bukan sekadar “apa manfaatnya?”, melainkan “siapa yang akan diuntungkan, dan siapa yang akan tergilas?” Sebab dalam sejarah pembangunan, tidak semua kemajuan bersifat inklusif—sebagian justru menciptakan kelas baru sekaligus jurang baru.
*Urgensi: Menjawab Defisit Pendidikan dan SDM (Human Capital Shock)*
Secara struktural, kehadiran kampus-kampus besar menjawab persoalan klasik Indramayu: rendahnya akses pendidikan tinggi berkualitas dan terbatasnya mobilitas sosial berbasis pendidikan. Dalam perspektif _human capital theory,_ investasi pada pendidikan tinggi akan meningkatkan produktivitas, daya saing tenaga kerja, dan dalam jangka panjang mempercepat transformasi ekonomi lokal (Becker, 1993).
Indramayu selama ini dikenal sebagai daerah pengirim tenaga kerja migran dan berbasis sektor primer (pertanian, migas, perikanan). Kehadiran perguruan tinggi besar berpotensi menggeser struktur ini menuju ekonomi berbasis pengetahuan _(knowledge-based economy_). Artinya, urgensinya tidak sekadar pendidikan, tetapi reposisi Indramayu dalam peta ekonomi regional.
Namun demikian, urgensi ini hanya relevan jika ada _link and match_ antara program studi dengan kebutuhan lokal—misalnya agroindustri, energi, maritim, dan pendidikan vokasional. Tanpa itu, kampus hanya menjadi “menara gading baru” yang terlepas dari realitas lokal.
*Ancaman Tersembunyi: Marginalisasi Perguruan Tinggi Lokal*
Masuknya kampus besar hampir pasti menciptakan _asymmetric competition._ Perguruan tinggi lokal di Indramayu—yang selama ini bertahan dengan sumber daya terbatas—akan menghadapi tekanan serius, baik dari sisi reputasi, mahasiswa, maupun dosen.
Fenomena ini dalam kajian pendidikan tinggi disebut sebagai _academic colonialism_, ketika institusi besar mendominasi ruang akademik dan secara perlahan menggeser eksistensi institusi kecil (Altbach, 2004). Dalam konteks Indramayu, ancamannya nyata: _Pertama_, Migrasi mahasiswa lokal ke kampus besar; _Kedua,_ Brain drain dosen ke institusi yang lebih mapan; dan _ketiga,_ Penurunan daya tarik kampus local.
Jika tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin beberapa perguruan tinggi lokal akan “mati perlahan”—bukan karena buruk, tetapi karena kalah dalam kompetisi yang tidak seimbang.
*Kompetisi atau Ekosistem? (Clustering Effect)*
Di sisi lain, kehadiran banyak kampus dalam satu kawasan juga bisa menciptakan _education cluster_. Dalam teori ekonomi regional (Porter, 1998), klaster justru mendorong inovasi, kolaborasi, dan pertumbuhan ekonomi berbasis jaringan.
Jika dikelola dengan benar, Indramayu bisa menjadi _“mini education hub”_ seperti Jatinangor di Sumedang. Dampaknya meluas: _Pertama,_ Tumbuhnya ekonomi pendukung (kos, UMKM, transportasi); _Kedua,_ Peningkatan urbanisasi berbasis Pendidikan; _Ketiga,_ Kolaborasi riset lintas kampus.
Namun kuncinya adalah _governance_. Tanpa orkestrasi pemerintah daerah, yang terjadi bukan klaster, melainkan fragmentasi—kampus berdiri sendiri, bersaing tanpa arah, dan tidak memberi dampak sistemik.
*Segmentasi Sosial: Pendidikan untuk Siapa?*
Pertanyaan paling krusial adalah: siapa yang akan menikmati kampus-kampus ini?
Ada kecenderungan bahwa perguruan tinggi besar akan menyasar segmen menengah ke atas atau mahasiswa dari luar daerah. Sementara masyarakat lokal, terutama dari kelas bawah, tetap terkendala biaya, akses, dan kesiapan akademik.
Di sinilah potensi lahirnya _educational inequality._ Kampus hadir secara fisik di Indramayu, tetapi secara sosial “jauh” dari masyarakatnya sendiri. Maka urgensi berikutnya adalah memastikan adanya: _Pertama,_ Skema afirmasi bagi mahasiswa local; _Kedua,_ Beasiswa berbasis daerah; _Ketiga,_ Program _bridging_ (matrikulasi) untuk siswa lokal.
Tanpa itu, pembangunan pendidikan hanya akan melahirkan ilusi kemajuan.
*Politik Pembangunan: Simbol atau Substansi?*
Tidak bisa diabaikan bahwa proyek ini juga memiliki dimensi politik. Kehadiran kampus besar sering kali menjadi simbol keberhasilan pembangunan kepala daerah—sebuah _visible achievement_ yang mudah dikapitalisasi secara elektoral.
Namun publik perlu kritis: apakah ini bagian dari _grand design_ pembangunan pendidikan jangka panjang, atau sekadar proyek prestisius? Dalam banyak kasus di Indonesia, pembangunan infrastruktur pendidikan tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri.
Jika tidak hati-hati, Indramayu hanya akan menjadi “tuan rumah” tanpa menjadi “pemain utama”.
*Penutup: Antara Lompatan dan Disrupsi*
Kehadiran UPI, UIN Siber Syekh Nurjati, UNPAD, dan UNJ di Indramayu adalah peluang besar sekaligus potensi disrupsi. Ia bisa menjadi lompatan peradaban—mengangkat kualitas SDM dan ekonomi lokal. Tetapi ia juga bisa menjadi ancaman—meminggirkan kampus lokal dan memperlebar kesenjangan sosial.
Pilihan akhirnya bukan pada kampus-kampus itu sendiri, melainkan pada bagaimana pemerintah daerah, masyarakat, dan institusi lokal meresponsnya. Apakah akan membangun ekosistem kolaboratif, atau membiarkan kompetisi liar tanpa arah.
Sebab dalam setiap gelombang perubahan, selalu ada dua kemungkinan: menjadi pusat pertumbuhan, atau sekadar penonton dari kemajuan yang terjadi di halaman sendiri.**
Indramayu, 11 Juni 2026
——
![]()
