Harmoni Perempuan Penggerak: Saat Ibu-ibu PKBM Al Zaytun Membangun Kebersamaan Lewat Angklung
Oleh: Winarsih, S.Pd (Tutor PKBM Al Zaytun)
Langit di atas Blok Balir Mekarjaya tampak abu-abu, Sabtu sore (23/5). Mendung menggantung cukup tebal, membawa udara sejuk yang perlahan menyelimuti kediaman Ibu Hasnawati Imroni, S.Pd. Namun, di dalam rumah tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun itu, suasana justru terasa hangat dan bertenaga.
Tepat pukul 14.00 WIB, ruang tamu yang biasanya tenang seketika menjelma menjadi ruang kreatif yang riuh. Sebanyak 22 perempuan tangguh paruh baya telah berkumpul. Mereka datang dari berbagai penjuru blok, mulai dari Babakan Palasah, Nambo, Tanjungsari 1, Punduan, Balir Salam, BBT, Tanjung Jaya, Gantar, hingga Cibanoang.
Para perempuan ini melebur dalam satu wadah: *Paguyuban Istri Peduli (PIP)*. Sebagian besar dari mereka adalah warga belajar aktif dan alumni PKBM Al Zaytun yang menolak kalah oleh usia untuk terus menimba ilmu.

Merajut Nada dari Dasar
Hari itu, Sri Wahyuni, S.Pd selaku Ketua PIP memang berhalangan hadir secara fisik. Namun, koordinasi dan pantauannya dari jarak jauh tetap membakar semangat para anggota. Di lokasi, kendali latihan dipegang oleh Tim Inti Pendidikan PIP yang juga merupakan para pendidik berpengalaman: Winarsih, S.Pd, Umi Umutiah, S.Psi, sang tuan rumah Hasnawati Imroni, S.Pd, Paini, S.Pd, dan Umi Rochimah, S.Pd.
“Mari kita buka latihan ini dengan mengucap *Basmallah*, semoga hari ini berjalan lancar,” ujar Ibu Paini hangat, menyapa seluruh peserta yang tampak antusias.
Latihan siang itu menjadi babak baru bagi beberapa wajah baru seperti Suwarti, Partinah, Sopiah, dan Sukasih. Sebagai warga belajar dan alumni PKBM yang baru bergabung, mereka tampak canggung memegang bambu-bambu penggetar tersebut.
Melihat hal itu, Ibu Paini dengan sabar mengulang materi dari nol. Riuh rendah suara tawa kecil terdengar saat para ibu ini belajar cara memegang dan membunyikan angklung dengan benar. Bunyi *klung-klung* yang awalnya sumbang, perlahan mulai menemukan ritmenya.

“Bahasa Isyarat” Sang Dirigen
Bermain angklung kolektif bukan sekadar menggetarkan bambu, melainkan tentang kepatuhan pada tanda. Di sinilah peran dirigen menjadi krusial. Ibu-ibu PIP diajarkan memahami “bahasa isyarat” tangan untuk simbol tangga nada:
– Do: Tangan menggenggam erat.
– Re: Telapak tangan diluruskan ke atas.
– Mi: Telapak tangan lurus ke depan.
– Fa: Posisi tangan menembak ke arah bawah.
– Sol: Telapak tangan dimiringkan.
– La: Telapak tangan diangkat ke atas dengan jari agak ditekuk.
– Si: Posisi tangan menembak ke atas.
– Do Tinggi: Tangan diangkat tinggi-tinggi sambil mengepal.
Melalui pemahaman simbol tangan inilah, sebuah lagu bisa dirajut. Sebagai pemanasan, Ibu Paini memimpin lagu *“Kasih Ibu”*. Notasinya yang sederhana membuat para peserta baru langsung bisa sinkron. Senyum sumringah terpancar di wajah-wajah mereka saat lagu pertama berhasil diselesaikan dengan mulus.
Estafet dirigen kemudian berpindah ke tangan Ibu Umi Rochimah. Dengan ketukan yang pas, ia menuntun jemari para ibu memainkan lagu *“Bintang Kecil”*. Sekali lagi, harmoni bambu itu bergema indah, memecah kesunyian sore di Mekarjaya.
“`
“Bermain angklung kolektif bukan sekadar menggetarkan bambu,
melainkan tentang kepatuhan pada tanda dan kebersamaan.”
Poco-Poco dan Janji Minggu Depan
Satu jam berlalu tanpa terasa. Winarsih, yang juga tutor PKBM, melihat momentum kedekatan ini dan melemparkan tantangan. “Coba sekarang lagu *Poco-Poco* yang dua pekan lalu sudah kita mainkan,” usulnya, yang langsung disambut anggukan setuju dari seluruh ruangan.
Ibu Paini kembali mengambil posisi dirigen. Kali ini, angklung-angklung dengan nada yang lebih kompleks diserahkan kepada para ibu yang sudah ikut latihan sejak awal. Hasilnya? Alunan ritme *Poco-Poco* yang rancak dan dinamis menggema dengan sangat memuaskan, memancing beberapa ibu ikut menggoyangkan badan mengikuti irama.
Ketika jarum jam merambat naik dan mendung di luar rumah semakin pekat menandakan hujan akan segera turun, seorang peserta menyeletuk sambil tersenyum, “Sudah sore Bu, diakhirkan saja ya? Kita sambung Minggu depan lagi.”
Usul itu disepakati bersama. Latihan intensif yang penuh tawa dan peluh itu pun ditutup dengan ucapan *Alhamdulillah*.
Sore itu, di sudut Blok Balir, para ibu PIP dan PKBM Al Zaytun tidak hanya pulang membawa pengetahuan tentang tangga nada. Mereka pulang dengan membawa harmoni, kebersamaan, dan bukti nyata bahwa belajar serta berkarya tidak pernah mengenal batas usia.**
Indramayu, 28 Mei 2026
——
![]()
