Di Balik Wangi Parfum Idul Adha dan Kesibukan Ruang Sekretariat PKBM Al Zaytun


Di Balik Wangi Parfum Idul Adha dan Kesibukan Ruang Sekretariat PKBM Al Zaytun

Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd.(Tutor PKBM)

Gema takbir baru saja melandai di Masjid Rahmatan lil’alamin, Ma’had Al Zaytun, Rabu pagi (27-05-2026). Di bawah langit Idul Adha yang khidmat, aroma parfum terbaik dan pakaian hari raya yang rapi masih mendominasi atmosfer. Sri Wahyuni bersama rekan-rekan tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun baru saja mengakhiri sesi foto bersama, merayakan indahnya hari kemenangan dengan senyum sumringah.
Namun, bagi sebagian orang, perayaan hari raya harus segera berkejaran dengan tenggat waktu (*deadline*).
Tepat pukul 09.15 WIB, Sri Wahyuni melangkah keluar dari kemegahan masjid. Langkah kakinya tidak mengarah ke ruang makan untuk menyantap hidangan lebaran, melainkan menuju ke sebuah tempat yang sibuk: Ruang Sekretariat PKBM yang terletak di sebelah utara Gedung Tansri.

“Tamu Tak Diundang” di Tengah Tumpukan Berkas

Ruang sekretariat hari itu tampak hidup. Di sanalah Pak Supriyadi (Koordinator Tutor) dan Pak Giarto (Tata Usaha) berbagi meja kerja untuk mengendalikan denyut nadi administrasi PKBM Al Zaytun.
Ketika Sri membuka pintu kantor, sebuah pemandangan kontras langsung tersaji. Pak Supriyadi masih mengenakan celana pendek dan pakaian biasa, sangat kontras dengan suasana formal Idul Adha di luar gedung.

“Eh, ada Ustadzah,” sapa Pak Supriyadi agak kaget, menyadari dirinya belum sempat bersalin pakaian kerja yang rapi.

“Iya maaf, ini tamu tak diundang,” canda Sri Wahyuni renyah. “Pak Supri, kok WA saya tidak dibalas? Jadinya saya langsung ke sini.”

Pak Supriyadi tersenyum, ada gurat lelah namun ikhlas di wajahnya. “Maaf Ustadzah, belum sempat. Saya sedang mengerjakan tugas ini dari kemarin sore belum selesai. Dan saya duduk di sini dari sebelum subuh belum beranjak ke mana-mana.”

Di atas meja kantor, selembar demi selembar data kehadiran sedang dirapikan. Nilai-nilai hasil Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) direkap, dimasukkan ke sistem komputer, dan ditata rapi. Ketika Sri mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto dokumentasi, barulah Pak Supriyadi bergegas ke ruangan belakang untuk berganti celana panjang formal. Sebuah momen humanis yang terekam secara alami di sudut kantor.

Kantor Sederhana, Berhati Lapang

Tugas tim administrasi PKBM pasca-UPK memang luar biasa menguras energi. Di bawah komando Direktur PKBM, Ustadz Ali Aminullah, tim yang terdiri dari Pak Supriyadi, Pak Giarto, dan Pak Turaikhan ini harus bekerja ekstra keras. Mereka adalah mesin penggerak yang menyiapkan segala bentuk laporan untuk Direktur hingga Dinas Pendidikan.
Menariknya, ruang sekretariat ini bukan tempat yang kaku dan dingin. Sembari berbincang, Sri Wahyuni menyadari ada beberapa tutor lain yang ikut singgah dan berkumpul di sana di sela-sela waktu istirahat.
“Kok setiap saya ke sini, sering ketemu tutor ya?” tanya Sri heran.
“Iya Ustadzah, di sini *basecamp*-nya para tutor,” jawab salah satu dari mereka sambil tersenyum.
Meskipun ruang sekretariat ini ukurannya tidak begitu luas untuk menampung banyak orang, namun atmosfernya terasa sangat lapang karena ketulusan hati orang-orang di dalamnya. Tempat ini bertransformasi menjadi ruang diskusi yang nyaman, tempat melepas penat, sekaligus simbol soliditas antar-tutor.

Sebuah Etos Kerja: Dari Ramadhan hingga Idul Adha

Sebagai tutor biasa yang tugas utamanya “hanya” mengajar, menyiapkan materi, dan melaporkan hasil ulangan, Sri Wahyuni mengaku menaruh rasa hormat yang luar biasa (*salut*) kepada tim administrasi. Ketika para tutor sudah bisa bernapas lega setelah tugas mengajar selesai, tim sekretariat justru baru memulai “perang” mereka dengan tumpukan berkas dan rekapitulasi nilai.
Kekompakan ini bukan barang baru di PKBM Al Zaytun. Etos kerja ini ditanamkan kuat oleh Ustadz Ali Aminullah beserta empat pembina lainnya: Ustadz Hartono, Ustadz Suwandi, Ustadz Khoerun, dan Ustadz Joko Siaran yang selalu setia memberikan arahan.
Nostalgia kerja keras ini memutar kembali memori pada bulan Ramadhan lalu saat persiapan UPK Kelas C. Polanya sama persis dengan kesibukan pasca-UPK Kelas A dan B saat ini. Kala itu, ketika azan magrib berkumandang, tim administrasi dan para tutor masih berada di kantor sekretariat, membatalkan puasa bersama di tengah kepungan tugas lembur.
Bahkan, para tutor muda seperti Lida Diana, Aliyah, dan Siti Rahimah, rela pulang ke rumah larut malam demi memastikan program PKBM berjalan tanpa cacat. Tak ada keluhan, semua dinikmati dengan penuh semangat karena mereka bergerak dalam satu visi dan misi yang sama.
Rabu siang itu, di ruang sekretariat yang bersahaja, Sri Wahyuni menyaksikan sendiri arti dari sebuah komitmen: *Kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja sama.* Berkat sinergi para pejuang di balik layar inilah, seluruh program PKBM Al Zaytun selalu berjalan dengan sukses dan paripurna.**


Indramayu, 28 Mei 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!