Budaya Rente Dalam Politik Balas Jasa dan Saling Sandra Menyandra


*Budaya Rente Dalam Politik Balas Jasa dan Saling Sandra Menyandra*

Oleh : Jacob Ereste

Politik balas jasa dan politik sandra, seperti satu mata uang dengan tampilan dua sisi yang berbeda. Namun nilai tukarnya sama, membelenggu siapa saja yang harus menyimpan satu bentuk mata uang yang memiliki dua wajah itu, seperti menggembol granat yang siap meledak kapanpun juga, ketika salah sentuh yang bisa menyengat atau meluluh lantakkan entah apa saja yang berada di sekitarnya.

Politik balas budi itu, tekanan psikologis kejiwaan yang harus dibayar, sepanjang belum lunas akan menjadi seperti hantu yang terus menguntit entah kemana saja arah kako melangkah. Persis seperti politik sandra yang menjerat, karena bisa menelanjangi yang terkena kapan pun juga, ketika sudah dikehendaki oleh sang pengendalinya.

Inilah dilema yang laten bisa disaksikan oleh semua orang hari ini, hingga membuat kondisi politik — bahkan masalah ekonomi dan budaya kita — seperti ikan lele di dalam penggorengan untuk dibuat garing atau setengah basah agar bisa digoreng lebih renyah sebagai santapan di lain kesempatan.

Jadi, budaya politik sandra menyandra ini merupakan capaian terbaru dalam khazanah perpolitikan di Indonesia sejak 10 tahun lalu, seakan menjadi suatu reputasi terunggul yang justru tidak lahir dari ruang akademis, namun bertumbuh dan berkembang di pasar bebas yang dapat melakukan transaksi apa saja yang semula dianggap tabu oleh parlemen hingga lembaga yudikatif yang justru disponsori oleh badan eksekutif di semua jenis instansi maupun kelembagaan.

Agaknya, inilah bidang kebudayaan yang belum tersentuh oleh Kementerian Kebudayaan yang terkesan gamang hingga harus mengurus masalah trauma dari peristiwa tahun 1998 yang menyimpan luka untuk tidak lagi perlu dipersoalkan. Akibatnya, luka lama yang telah sembuh jadi membuat luka baru yang lebih sulit untuk disembuhkan. Akibatnya, luka baru diatas luka lama atau sebaliknya — luka lama diatas luka baru — semakin membingungkan karena memang sangat sensitif untuk dari ditilik dari bilik budaya yang centang perenang, seakan dapat dipetakan dari otak sendiri tanpa mengabaikan isi kepala warga masyarakat yang lain. Belum lagi ketika harus melandai pada kedalaman hati dan jiwa serta ruh yang bebas bergentayangan di alam purba dan alam modern yang belum sepenuhnya masuk dalam perbendaharaan artifisial intelijen yang juga masih gamang untuk dipahami sebagai ideology dari ilmu pengetahuan yang dianggap sungsang.

Politik balas jasa dan politik sandra menyandra, memang belum dipikirkan untuk dibangun dalal bentuk satu jurusan akademik. Sebab sang mahaguru akan segera punah, kendati pasti akan segera digantikan oleh figur yang lain, karena sumber daya dan potensi untuk meneruskan sekte politik serupa itu memperoleh dan memiliki lahan subur di negeri gemah ripah loh jinawi yang tidak dimilki oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Lahan subur untuk tumbuh dan berkembang budaya ajaib tapi nyata ini, akan lestari lantaran ada generasi dari bayang-bayang feodal yang birahi ingin membangun dinasti baru dalam tampilan super modern, walau tetap berprilaku primitif dan puritan.

Begitulah budaya politik terbaru di negeri kita yang akan terus dipelihara seperti peredaran narkoba dan ganja. Lantaran lahan korupsi sudah habis dikaffling oleh pejabat negara yang lupa daratan dan mabuk laut maupun udara yang semakin pengap dan sumpek seperti di negeri Konoha.**


Banten, 20 Mei 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!