Keluarga: Mutiara Tiada Tara di Tengah Krisis Zaman
(Refleksi Hari Keluarga Internasional, 15 Mei)
Oleh Ali Aminulloh
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, manusia sering mengejar banyak hal: jabatan, kekayaan, popularitas, bahkan pengakuan sosial. Namun ketika malam tiba, ketika tubuh lelah dan hati mulai sunyi, manusia selalu ingin pulang. Dan tempat pulang itu bernama keluarga.
Tidak heran jika lagu karya Bunga Citra Lestari begitu membekas di hati masyarakat Indonesia:
Harta yang paling berharga adalah keluarga…
Istana yang paling indah adalah keluarga…
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga…
Mutiara tiada tara adalah keluarga…
Lagu itu bukan sekadar lirik. Ia adalah cermin kerinduan manusia modern terhadap ruang kasih yang makin langka. Sebab hari ini, dunia sedang mengalami krisis keluarga.
Perceraian meningkat. Anak kehilangan perhatian. Orang tua sibuk bekerja. Teknologi mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat. Banyak rumah berdiri megah, tetapi kehilangan kehangatan. Banyak keluarga hidup serumah, tetapi tidak lagi hidup sehati.
Karena itulah Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations menetapkan setiap 15 Mei sebagai International Day of Families melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor A/RES/47/237 tahun 1993. PBB memandang keluarga sebagai unit dasar masyarakat. Jika keluarga rapuh, maka negara pun mudah goyah.
Tema Hari Keluarga Internasional tahun 2026 adalah:
“Families, Inequalities and Child Wellbeing”: Keluarga, Ketimpangan, dan Kesejahteraan Anak.
Tema ini terasa sangat relevan. Ketimpangan ekonomi membuat banyak anak kehilangan akses pendidikan dan kesehatan. Ketimpangan digital membuat anak-anak desa tertinggal. Sementara ketimpangan kasih sayang melahirkan generasi yang merasa asing di rumahnya sendiri.
Padahal sejak dahulu, hampir semua agama menempatkan keluarga sebagai institusi suci.
Dalam Islam, keluarga adalah tempat lahirnya sakinah, mawaddah, wa rahmah: ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Al-Qur’an menggambarkan pasangan sebagai pakaian satu sama lain; saling melindungi dan menutupi kekurangan. Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Dalam Kristen, keluarga dipandang sebagai gereja kecil. Rumah menjadi tempat pertama manusia belajar kasih, pengampunan, dan pengorbanan. Hubungan ayah, ibu, dan anak dianggap refleksi cinta Tuhan kepada manusia.
Dalam Hindu, keluarga adalah ruang menjalankan dharma. Keharmonisan rumah tangga dipercaya menjadi pondasi keseimbangan semesta. Orang tua dipandang sebagai guru pertama kehidupan.
Dalam Buddha, keluarga menjadi tempat latihan welas asih, kesabaran, dan pengendalian diri. Kebahagiaan rumah tangga tidak dibangun oleh materi, melainkan oleh batin yang penuh cinta kasih.
Sedangkan dalam Konghucu, bakti kepada orang tua atau xiao menjadi inti moralitas manusia. Dari keluarga yang harmonis akan lahir masyarakat yang tertib dan negara yang damai.
Ajaran agama-agama itu menunjukkan satu kesimpulan besar: keluarga bukan sekadar hubungan darah. Keluarga adalah sekolah pertama peradaban.
Namun hari ini, sekolah pertama itu sedang menghadapi ujian berat.
Urbanisasi membuat banyak orang tua pergi pagi pulang malam. Media sosial membuat percakapan di meja makan digantikan layar gawai. Anak-anak tumbuh dengan internet, tetapi miskin pelukan. Banyak orang tua berhasil secara ekonomi, tetapi gagal hadir secara emosional.
Krisis keluarga inilah yang sesungguhnya melahirkan banyak persoalan sosial: kenakalan remaja, kekerasan, depresi, penyalahgunaan narkoba, hingga hilangnya arah hidup generasi muda.
Karena itu, memperingati Hari Keluarga Internasional tidak cukup hanya dengan seminar dan seremoni. Dunia membutuhkan kesadaran baru tentang makna keluarga.
Dalam konteks ini, gagasan trilogi kesadaran yang diperkenalkan Syaykh Abdullah Syaykh Panji Gumilang menjadi sangat relevan.
Pertama, kesadaran filosofis. Manusia harus sadar bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, tetapi ruang pembentukan makna hidup. Rumah bukan hanya bangunan fisik, melainkan tempat manusia menemukan identitas, cinta, dan nilai kemanusiaannya.
Kedua, kesadaran ekologis. Keluarga harus sadar bahwa mereka hidup dalam ekosistem sosial yang saling memengaruhi. Kerusakan moral masyarakat sering bermula dari kerusakan relasi keluarga. Ketika rumah dipenuhi kekerasan, kebencian, dan egoisme, maka lingkungan sosial pun ikut rusak.
Ketiga, kesadaran sosial, khususnya kehadiran anak dalam keluarga. Anak bukan pelengkap rumah tangga. Anak adalah amanah peradaban. Mereka membutuhkan perhatian, keteladanan, dan kasih sayang. Anak yang tumbuh tanpa cinta sering mencari pengganti keluarga di jalanan, media sosial, atau lingkungan yang salah.
Kesadaran inilah yang harus dibangun kembali di tengah masyarakat modern.
Sebab sesungguhnya, keluarga bukan hanya urusan privat. Keluarga adalah fondasi bangsa. Negara yang kuat lahir dari rumah-rumah yang kuat. Peradaban besar lahir dari meja makan yang penuh percakapan hangat, dari doa ibu di sepertiga malam, dari ayah yang hadir mendengarkan anaknya, dari rumah sederhana yang penuh cinta.
Hari Keluarga Internasional mengingatkan dunia bahwa pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan tol, gedung tinggi, dan teknologi canggih. Yang lebih penting adalah membangun manusia. Dan manusia pertama kali dibangun di dalam keluarga.
Maka mungkin, di tengah dunia yang makin sibuk dan bising ini, kita perlu berhenti sejenak. Menelepon ibu. Memeluk ayah. Mendengarkan anak. Duduk bersama pasangan tanpa distraksi gawai.
Karena pada akhirnya, ketika semua gemerlap dunia memudar, manusia akan sadar:
Istana paling indah ternyata bukan gedung megah.
Melainkan rumah yang di dalamnya masih ada cinta.
Indonesia, 15 Mei 2026
——
![]()
