Ketika Dunia Membara, Puisi Menjaga Jiwa (Refleksi Hari Puisi Nasional, 28 April)


Ketika Dunia Membara, Puisi Menjaga Jiwa
(Refleksi Hari Puisi Nasional, 28 April)

Oleh Ali Aminulloh

Dunia sedang membara.
Di banyak sudut bumi, ledakan lebih nyaring terdengar daripada nyanyian. Kebencian lebih cepat menyebar daripada pelukan. Kata-kata yang lahir dari mulut manusia pun tak lagi selalu menjadi peneduh, melainkan sering menjelma serpih-serpih luka. Manusia modern memang berhasil menaklukkan langit dengan teknologi, membelah samudra dengan ilmu pengetahuan, dan mempercepat kehidupan dengan mesin-mesin cerdas; tetapi pada saat yang sama, manusia juga sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih sunyi: kekeringan jiwa.

Di tengah bara itulah puisi mengambil tempatnya. Ia tidak datang dengan teriakan, tidak pula membawa pedang. Puisi hadir dengan kesunyian yang pelan, namun justru dari kesunyian itulah ia menjaga sesuatu yang paling berharga dalam diri manusia: rasa. Ketika dunia mengajari manusia untuk keras, puisi mengingatkan manusia agar tetap lembut. Ketika dunia melatih manusia untuk menang, puisi mengajarkan manusia untuk memahami. Ketika dunia memproduksi kebisingan, puisi menyediakan ruang hening agar hati masih bisa mendengar dirinya sendiri.

Sebab sesungguhnya, peradaban tidak cukup dibangun dengan kecanggihan akal. Peradaban juga membutuhkan kehalusan jiwa.

Kesadaran inilah yang sejak awal menjadi salah satu ruh pendidikan yang digagas Syaykh Al Zaytun, A. S. Panji Gumilang, melalui formulasi LSTEAMS: Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual. Sebuah bangunan pendidikan yang memadukan ketegasan hukum, ketelitian sains, ketangkasan teknologi, kecermatan teknik, kecerdasan matematika, kekuatan spiritual, dan tidak kalah penting, kelembutan seni. Dalam rumusan ini, Art bukan tempelan pelengkap, melainkan pilar penyeimbang agar manusia tidak tumbuh menjadi makhluk yang cerdas tetapi kering, pintar tetapi kasar, maju tetapi kehilangan nurani.

Puisi adalah salah satu wajah paling bening dari seni itu.

Puisi bukan sekadar permainan bunyi atau susunan metafora. Ia adalah latihan batin. Di dalam puisi, manusia belajar menimbang kata agar tidak melukai, belajar memaknai peristiwa agar tidak tergesa menuduh, belajar merasakan penderitaan orang lain agar tidak mudah membenci. Puisi membuat hati terdidik untuk peka. Dan hati yang peka adalah benteng pertama dari lahirnya kekerasan.

Maka tidak berlebihan jika Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April sesungguhnya bukan hanya agenda sastra, melainkan momentum kebudayaan untuk merawat sisi terdalam manusia.

Tanggal ini dipilih untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949. Ia adalah penyair yang mengubah arah perjalanan puisi Indonesia. Sebelum Chairil, puisi lebih banyak hidup dalam keterikatan bentuk lama, dalam irama yang santun namun sering terlalu jinak. Chairil datang membawa kebebasan: kata-kata yang lugas, aku-lirik yang kuat, kegelisahan eksistensial, dan keberanian menantang zaman. Lewat puisi-puisinya seperti Aku, Krawang-Bekasi, Diponegoro, dan Doa, ia membuktikan bahwa puisi tidak hanya dapat dibaca, tetapi juga dapat mengguncang kesadaran.

Ia menulis hidup dengan cara yang liar, namun justru karena keliaran itulah puisi Indonesia menemukan nadinya yang baru. Julukan “Si Binatang Jalang” yang melekat padanya bukan sekadar ikon, melainkan simbol bahwa kata-kata dapat menjadi medan kebebasan manusia. Meski usianya hanya 26 tahun, Chairil telah mewariskan lebih dari sekadar puluhan puisi; ia mewariskan keberanian bagi bangsa ini untuk bersuara.

Karena itulah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia menetapkan 28 April sebagai Hari Puisi Nasional, hari untuk mengenang jasa pembaru puisi modern Indonesia sekaligus hari untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap sastra sebagai warisan budaya bangsa. Hingga hari ini statusnya memang masih bersifat kultural, belum menjadi hari nasional melalui Keputusan Presiden, tetapi justru di sanalah daya hidupnya: ia dirawat oleh para pencinta kata, para guru, mahasiswa, penyair, komunitas, dan pembaca yang masih percaya bahwa puisi dibutuhkan untuk menjaga kemanusiaan.

Setiap tahun, peringatannya hadir dalam berbagai wajah: ziarah sastra ke makam Chairil, pembacaan puisi, malam renungan, lomba cipta puisi, musikalisasi, diskusi sastra, penerbitan antologi, hingga festival puisi yang kini merambah dunia digital. Tahun 2026, gaung Hari Puisi kembali terdengar melalui berbagai kegiatan komunitas dan pembacaan puisi nasional di Taman Ismail Marzuki, dengan satu benang merah yang terasa kuat: bagaimana menjaga warisan puisi agar tetap bernapas di tengah layar-layar gawai.

Memang, zaman telah berubah.
Generasi hari ini lahir di tengah guliran konten cepat, video singkat, notifikasi tanpa jeda, dan algoritma yang menuntut segala sesuatu serba instan. Kata-kata harus pendek, makna harus cepat, emosi harus segera. Dalam dunia seperti itu, puisi tampak seperti sesuatu yang lambat. Ia meminta orang berhenti. Ia meminta orang membaca pelan. Ia meminta orang merasakan.

Tetapi justru karena dunia berlari terlalu cepat, puisi menjadi semakin penting.

Puisi adalah jeda.

Ia mengembalikan manusia pada kemampuan yang mulai langka: merenung. Dalam sebaris puisi, seseorang dapat menemukan dirinya sendiri. Dalam satu metafora, seseorang bisa memahami luka yang tak sanggup dijelaskan prosa. Dalam satu bait sederhana, seseorang dapat merasa ditemani oleh ribuan manusia lain yang pernah mengalami duka serupa. Di situlah puisi bekerja: ia menyambungkan kesendirian menjadi persaudaraan batin.

Inilah mengapa di era kecerdasan buatan dan dominasi teknologi, penyair justru semakin diperlukan. Mesin mungkin dapat menyusun kalimat, tetapi tidak dapat sepenuhnya melahirkan getaran. Algoritma mungkin dapat memetakan kebiasaan, tetapi tidak dapat menakar air mata. Data bisa menghitung perilaku manusia, tetapi hanya puisi yang mampu menyentuh ruang terdalam tempat manusia menyimpan harapan dan ketakutannya.

Dalam kerangka pendidikan LSTEAMS, puisi menjadi salah satu cara merawat unsur Art sekaligus menghidupkan unsur Spiritual. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan tidak boleh berdiri tanpa belas kasih. Ilmu tidak boleh tumbuh tanpa kesadaran nurani. Sebab manusia yang pandai berhitung tetapi gagal merasakan akan mudah menjadikan sesama hanya sebagai angka. Manusia yang canggih teknologi tetapi miskin empati akan mudah memproduksi kerusakan dengan tangan dingin.

Puisi mencegah itu.

Ia membuat manusia tetap akrab dengan kesedihan orang lain, tetap peka pada keindahan kecil, tetap mampu menundukkan ego di hadapan kebesaran hidup. Anak-anak yang dibiasakan berpuisi akan belajar bahwa kata-kata memiliki adab. Remaja yang dibesarkan dengan puisi akan lebih mudah menyalurkan gelisah tanpa kebencian. Orang dewasa yang memelihara puisi di dalam dirinya akan lebih tahan untuk tidak menjadi kasar.

Karena pada akhirnya, kekerasan sering lahir bukan dari kurangnya pengetahuan, tetapi dari matinya rasa.

Hari Puisi Nasional mengingatkan kita bahwa bangsa ini tidak cukup hanya menyiapkan generasi ahli hukum, saintis, teknolog, insinyur, atau matematikawan. Bangsa ini juga harus menyiapkan manusia-manusia yang mampu menangis saat melihat penderitaan, mampu tersenyum saat melihat keindahan, dan mampu memilih kata yang menyembuhkan ketika dunia sibuk melukai.

Maka memperingati Hari Puisi bukan sekadar mengenang Chairil Anwar. Ini adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa di tengah dunia yang membara, kita masih memiliki ruang untuk menjaga jiwa.

Sebab selama puisi masih dibaca,
selama kata-kata masih dipilih dengan cinta,
selama manusia masih mau berhenti untuk merasakan,
bara dunia belum sepenuhnya memenangkan segalanya.

Masih ada yang menjaga manusia tetap menjadi manusia.
Dan itu bernama puisi.


Indonesia, 28 April 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!