Bandung Menyala, Indonesia Menentukan.
(Refleksi 71 tahun KAA, 18-24 April)
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. (Dosen IAI Al-Azis)
Apakah kita akan masih menjadi bangsa yang pernah mengguncang dunia atau hanya bangsa yang sibuk mengenang?
Pertanyaan itu terasa menohok ketika kita menoleh ke belakang, ke sebuah peristiwa yang bukan sekadar sejarah, melainkan titik balik peradaban: Konferensi Asia Afrika 1955. Dari Bandung, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi menjadi suara: suara bagi bangsa-bangsa yang lama dibungkam, suara bagi dunia yang terbelah, suara bagi kemerdekaan yang belum selesai.
Pada April 1955, di Gedung Merdeka, Soekarno berdiri bukan sebagai pemimpin negara baru, tetapi sebagai juru bicara sejarah. Di hadapannya, 29 negara Asia dan Afrika berkumpul: sebagian baru merdeka, sebagian masih berjuang, semuanya membawa luka kolonialisme.
Dunia saat itu berada dalam cengkeraman dua kekuatan besar: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Negara-negara kecil dipaksa memilih: ikut Barat atau Timur. Namun Bandung menolak pilihan itu. Bandung melahirkan jalan ketiga, yaitu jalan keberanian untuk berdiri sendiri.
Dari ruang itulah lahir Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang menegaskan bahwa setiap bangsa berdaulat, setiap manusia setara, dan setiap konflik harus diselesaikan tanpa kekerasan. Bandung juga mengutuk kolonialisme dalam segala bentuk, termasuk yang berwajah baru, dan untuk pertama kalinya secara kolektif mengangkat isu Palestina sebagai persoalan keadilan global.
Bagi Indonesia, Bandung bukan hanya forum, tetapi strategi. Dukungan Asia-Afrika memperkuat perjuangan merebut Irian Barat. Bagi dunia, Bandung adalah percikan yang kemudian menyala menjadi Gerakan Non-Blok dan gelombang kemerdekaan di Afrika. Dunia yang semula didominasi segelintir kekuatan mulai berubah menjadi lebih berimbang.
Namun Bandung bukan hanya tentang apa yang terjadi, melainkan tentang apa yang diwariskan.
Hari ini, dunia kembali berada di persimpangan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memanas. Konflik di Palestina terus berlangsung dengan keterlibatan Israel. Dunia kembali terjebak dalam logika blok, dalam tarikan kepentingan, dalam bayang-bayang konflik berkepanjangan.
Dan di tengah itu semua, Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan sejarah:
akan ikut arus, atau menentukan arah?
Jawaban atas pertanyaan itu sesungguhnya sudah tertulis jauh sebelum Bandung, bahkan sebelum republik ini berdiri kokoh. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
Bandung adalah pengejawantahan nyata dari kalimat itu.
Namun nilai besar tidak akan hidup tanpa kesadaran. Di sinilah trilogi kesadaran yang digaungkan Syaykh Al Zaytun, AS. Panji Gumilang, menjadi penting untuk menghidupkan kembali semangat Bandung dalam konteks kekinian.
Kesadaran filosofis mengajak kita berpikir lebih dalam: bahwa Indonesia bukan sekadar negara, tetapi gagasan. Gagasan tentang keadilan, kemerdekaan, dan kedaulatan. Dalam dunia yang penuh tekanan global, bangsa ini tidak boleh kehilangan arah berpikirnya sendiri.
Kesadaran ekologis mengingatkan bahwa konflik hari ini tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi juga bumi. Perang modern merusak lingkungan, mempercepat krisis iklim, dan mengancam masa depan generasi. Prinsip damai Bandung menjadi semakin relevan, bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk keberlangsungan kehidupan.
Kesadaran sosial menegaskan bahwa setiap kebijakan global berdampak pada rakyat. Harga pangan, stabilitas ekonomi, hingga rasa aman masyarakat, semuanya terkait dengan dinamika dunia. Bandung dulu berbicara untuk mereka yang tertindas. Hari ini, Indonesia harus kembali berpihak.
Sejarah mencatat, dari Bandung lahir keberanian kolektif. Soekarno, Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, hingga Zhou Enlai menemukan titik temu: bahwa martabat tidak bisa dinegosiasikan.
Dan Indonesia, bangsa yang dulu dianggap baru, justru menjadi penggerak.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia mampu. Sejarah sudah menjawabnya.
Pertanyaannya adalah: apakah Indonesia masih mau?
Bandung telah membuktikan bahwa bangsa ini bukan bangsa kecil. Ia adalah bangsa yang pernah menyalakan harapan dunia. Bangsa yang menorehkan tinta emas dalam perjuangan kemerdekaan global. Bangsa yang berdiri bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kemanusiaan.
Maka hari ini, ketika dunia kembali gaduh, Indonesia tidak cukup hanya mengingat Bandung.
Indonesia harus menjadi Bandung.
Karena sejarah tidak menunggu.
Dan dunia, sekali lagi, sedang mencari arah.**
Indonesia, 18 April 2026
——–
![]()
