Jangan Bunuh Rumah Kita
(Refleksi Hari Satwa Liar Sedunia, 3 Maret)
Oleh: Ali Aminulloh
Tiga Maret kembali datang. Dunia memperingati Hari Satwa Liar Sedunia, namun di saat yang sama hutan terus menyempit, sungai tercemar, dan satwa kehilangan rumahnya. Kita merayakan dengan slogan, tetapi bumi berduka dalam diam. Pertanyaannya sederhana namun menohok: bagaimana nasib satwa liar hari ini di tengah ambisi manusia yang kian tak terbendung?
Hari Satwa Liar Sedunia yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa keseimbangan alam sedang berada di ujung tanduk. Perburuan ilegal, deforestasi, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya tanpa batas telah menjadikan banyak spesies berada di ambang kepunahan. Di Indonesia, hutan yang dahulu menjadi paru-paru dunia kini terfragmentasi. Gajah kehilangan jalur migrasi, harimau kehilangan wilayah jelajah, burung kehilangan pepohonan untuk bersarang.
Tema global tahun 2026, “Medicinal and Aromatic Plants: Conserving Health, Heritage and Livelihoods”, memang menyoroti pentingnya tumbuhan obat dan aromatik. Sekilas tampak bergeser dari satwa liar. Namun sejatinya, pesan itu tetap satu: kehidupan saling terhubung. Tumbuhan, satwa, dan manusia berada dalam satu ekosistem yang tak terpisahkan. Ketika hutan ditebang, bukan hanya pohon yang tumbang, tapi rantai kehidupan ikut runtuh.
Di titik inilah relevansi trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun menemukan maknanya: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.
Kesadaran filosofis mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi, melainkan bagian dari ciptaan Tuhan yang setara dengan makhluk lain. Satwa liar bukan objek eksploitasi, melainkan sesama ciptaan yang memiliki hak hidup. Jika manusia merasa mulia karena akal dan moral, maka kemuliaan itu diuji dari cara ia memperlakukan makhluk yang tak mampu membela diri.
Kesadaran ekologis menuntut tanggung jawab. Alam bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi mendatang. Hutan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan sistem kehidupan. Ketika satu spesies punah, sesungguhnya kita sedang mencabut satu simpul dari jaring kehidupan yang menopang kita sendiri.
Kesadaran sosial memperluas makna kepedulian. Kerusakan satwa liar bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi persoalan kemanusiaan. Konflik antara manusia dan satwa, banjir akibat deforestasi, hilangnya sumber pangan dan obat-obatan. Semua berdampak langsung pada kehidupan sosial masyarakat.
Budaya mencintai lingkungan yang tumbuh di lingkungan Al Zaytun menjadi contoh konkret bahwa kesadaran tidak berhenti pada teori. Penghijauan, pengelolaan lahan produktif, serta pembiasaan hidup bersih dan ramah lingkungan menunjukkan bahwa pendidikan ekologis harus dimulai dari budaya, bukan sekadar wacana. Di sana diajarkan bahwa manusia, tumbuhan, dan hewan berada dalam satu harmoni ciptaan Tuhan, tidak saling menindas, tetapi saling menjaga.
Nasib satwa liar hari ini sangat ditentukan oleh pilihan manusia. Apakah kita akan terus menempatkan diri sebagai pusat segalanya, atau mulai menyadari bahwa kehidupan adalah simfoni yang memerlukan semua unsur untuk tetap utuh?
Hari Satwa Liar Sedunia bukan hanya tentang menyelamatkan hewan di hutan jauh sana. Ia tentang menyelamatkan nurani kita sendiri. Sebab ketika rumah satwa dihancurkan, sejatinya kita sedang meruntuhkan rumah kita bersama, yaitu bumi ini.**
Indonesia, 3 Maret 2026
——–
![]()
