Selametan Kelulusan Paket C PKBM Al Zaytun, Sekolah Yang Menyala Di Usia Senja


SELAMETAN KELULUSAN PAKET C PKBM AL ZAYTUN, SEKOLAH YANG MENYALA DI USIA SENJA

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Dari Hari Pendidikan Nasional, Al Zaytun Menegaskan bahwa Belajar Tidak Pernah Mengenal Kata Terlambat.

Ada orang-orang yang masa mudanya habis untuk bekerja, bukan untuk duduk di bangku sekolah. Ada yang sejak remaja sudah bergulat dengan nafkah, rumah tangga, anak-anak, dan beban hidup yang membuat cita-cita pendidikan tersimpan rapat sebagai keinginan yang tak sempat diwujudkan. Mereka berjalan bersama waktu sambil membawa satu kalimat sunyi dalam hati: andaikan dulu bisa sekolah lebih tinggi.

Tetapi hidup rupanya selalu menyediakan pintu kedua bagi mereka yang belum selesai dengan mimpinya.

Sabtu pagi, 2 Mei 2026, saat bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah pemandangan yang menghangatkan jiwa terlihat di Aula Al Ishlah Ma’had Al Zaytun. Sebanyak 273 warga belajar Paket C dari PKBM Al Zaytun mengikuti selamatan kelulusan. Namun peristiwa itu jauh melampaui sekadar acara pelepasan alumni. Ia menjelma menjadi perayaan kemenangan manusia atas nasib yang sempat menunda mereka bertemu pendidikan.

Mereka datang bukan sebagai remaja berseragam, melainkan sebagai orang-orang dewasa dengan wajah yang telah ditempa pengalaman. Sebagian adalah karyawan, sebagian ibu rumah tangga, sebagian lagi para wali santri dan anggota masyarakat yang pernah merasa sekolah adalah kemewahan yang tidak sempat mereka nikmati. Tetapi pagi itu mereka berdiri dengan kepala tegak sebagai lulusan.

Acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan penampilan para warga belajar sendiri. Ada yang menyanyi, menari, membacakan puisi. Panggung yang biasanya menjadi ruang formal berubah menjadi ruang pengakuan bahwa di dalam diri mereka masih tersimpan semangat muda yang belum padam. Tepuk tangan hadirin terdengar bukan semata mengapresiasi penampilan, melainkan menghormati keberanian orang-orang yang memilih bangkit dari keterlambatan.

Sambil menunggu acara inti dimulai, layar besar menayangkan perjalanan PKBM Al Zaytun: aktivitas warga belajar, dedikasi para tutor, hingga berbagai capaian yang berhasil diraih. Video-video itu seperti sedang memperlihatkan bahwa pendidikan masyarakat bukan kerja sambilan, tetapi gerakan sunyi yang telah menyalakan harapan banyak orang.

Ketika Syaykh Al Zaytun hadir di tengah forum, suasana mendadak berubah menjadi lebih hidup. Meski pagi itu agenda beliau cukup padat karena hendak bertolak ke Kuningan, kehadirannya menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Setelah pembukaan dan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza, Syaykh berdiri memberikan taushiyah. Bukan sepuluh menit, bukan tiga puluh menit, tetapi hampir dua jam lamanya. Dan selama dua jam itu hadirin seperti sedang diajak menelusuri sejarah sebuah cita-cita besar bernama pendidikan sepanjang hayat.

Beliau berkisah bagaimana sekolah dewasa yang kini menjadi PKBM Al Zaytun dahulu dirintis dengan tekad sederhana namun kuat: jangan biarkan satu pun manusia di lingkungan Al Zaytun tertinggal dalam pendidikan. Lembaga itu bahkan diresmikan langsung oleh Direktur Pendidikan Luar Sekolah, Prof. Ace Cahyadi, sebagai penanda bahwa misi ini sejak awal memang bukan kegiatan seremonial, tetapi kerja strategis membangun manusia.

Pagi hari para karyawan bekerja. Malam harinya mereka belajar.

Begitulah tradisi itu dibangun.

“Al Zaytun telah mendeklarasikan diri sebagai pusat pendidikan. Maka manusia yang ada di dalamnya harus menjadi manusia terdidik,” demikian inti pesan Syaykh yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan bukan aksesori lembaga, melainkan napas utama peradaban.

Dari semangat itulah lahir perubahan yang perlahan namun pasti. Karyawan-karyawan yang dahulu hanya menamatkan sekolah dasar atau menengah pertama, kini hampir seluruhnya telah menuntaskan pendidikan menengah atas. Banyak di antaranya bahkan terus didorong melanjutkan ke strata perguruan tinggi. Tidak sedikit yang telah menyelesaikan S1, S2, dan kini mulai menapaki S3.

Syaykh lalu menyebut satu nama yang membuat forum terdiam kagum: Kasno.

Ia memulai perjalanan belajarnya dari Paket A. Setelah itu menamatkan Paket B dan Paket C. Lalu melanjutkan kuliah Hukum Ekonomi Syariah di IAI Al-AZIS, mengambil Sosiologi di Universitas Terbuka, menuntaskan Magister Pertanian, dan hari ini bersiap masuk strata tiga.

Kisah Kasno bukan sekadar cerita sukses individu. Ia adalah metafora bahwa pendidikan dapat mengubah arah hidup siapa pun, selama kemauan tidak mati.

Karena itu, di hadapan 273 lulusan Paket C, Syaykh menyampaikan ajakan yang sangat tegas: jangan berhenti di garis ini. Paket C hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir. Seluruh lulusan diminta melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi milik sendiri, IAI Al-AZIS. Bahkan jika persoalan biaya menjadi hambatan, beliau membuka berbagai kemungkinan pembiayaan melalui KSU Desa Kota Indonesia maupun LKM dengan jaminan pribadi beliau.

Di titik ini forum terasa bukan sedang mendengar sambutan, melainkan sedang menyaksikan seorang pemimpin menolak membiarkan rakyat pendidikannya berhenti di tengah jalan.

Setelah taushiyah usai, Mars dan Hymne PKBM dinyanyikan dengan semangat yang terasa berbeda. Lagu itu seperti berubah menjadi ikrar bersama bahwa kelulusan hari ini bukan penutup, melainkan permulaan.

Suasana haru makin terasa saat Maman Darmawan, alumni Paket C asal Jakarta Barat, berdiri mewakili warga belajar. Dengan suara yang tertahan emosi, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Syaykh, kepala PKBM, dan para tutor yang telah membuka pintu kesempatan kedua. Kesempatan yang bagi banyak orang mungkin tampak biasa, tetapi bagi mereka adalah kehormatan besar untuk kembali merasa percaya diri sebagai manusia yang sedang bertumbuh.

Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., menyebut angkatan 2026 sebagai angkatan yang istimewa. Selamatan kelulusan dilaksanakan di Al Ishlah, dihadiri langsung Syaykh Al Zaytun, unsur pemerintah kecamatan, serta para koordinator wali santri dari berbagai wilayah Jawa. Ini menunjukkan bahwa kelulusan warga belajar tidak lagi dipandang sebagai agenda pinggiran, melainkan sebagai peristiwa penting dalam ekosistem pendidikan Al Zaytun.

Ketika Surat Keputusan kelulusan 273 warga belajar dibacakan, tepuk tangan menggema panjang. Di beberapa sudut ruangan tampak mata yang berkaca-kaca. Sebab yang sedang dirayakan bukan hanya kelulusan administratif, tetapi lunasnya hutang batin kepada masa lalu.

Pemerintah Kecamatan Gantar melalui Sekretaris Camat, Eka Tirta Utama, M.Si., memberikan apresiasi tinggi kepada Ma’had Al Zaytun yang dinilai telah memberi kontribusi nyata dalam mencerdaskan bangsa sekaligus meningkatkan kualitas Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Indramayu. Menurutnya, langkah menyisir masyarakat yang belum sempat mengenyam pendidikan adalah bentuk kerja konkret yang sangat jarang dilakukan secara konsisten.

Ajakan melanjutkan studi kembali dikuatkan oleh IAI Al-AZIS melalui sambutan Usth. Dewi Utami, S.Pd., M.Pd.. Ia menegaskan bahwa kampus telah menjadi rumah lanjutan bagi banyak alumni PKBM yang kini berhasil berkiprah di berbagai sektor pekerjaan. Bahkan disediakan keringanan biaya pendaftaran bagi pendaftar gelombang awal sebagai bentuk dukungan atas seruan Syaykh.

Ada momen yang sangat simbolik ketika perwakilan warga belajar menyerahkan tali kasih senilai Rp10 juta kepada Ma’had Al Zaytun melalui PKBM. Nilainya mungkin terukur dalam angka, tetapi maknanya jauh lebih besar: tanda tak putus antara murid dengan rumah ilmu yang telah memulihkan harga diri mereka.

Penghargaan juga diberikan kepada lulusan berprestasi. Imas Mastini dari kelas C3 dan Siti Isnaini dari kelas C1 tercatat sebagai peraih nilai akademik tertinggi. Sementara Magfiroh dari kelas C3 mendapat predikat lulusan favorit karena ketekunannya menempuh pendidikan dari Paket A hingga Paket C tanpa pernah menyerah.

Lagu perpisahan yang menutup acara terdengar lirih, namun justru di situlah suasana paling menyentuh. Banyak yang saling menatap, tersenyum, lalu menahan air mata. Mereka tahu, setelah ini hidup akan kembali berjalan sebagaimana biasa: bekerja, mengurus keluarga, menjalankan tugas sehari-hari. Tetapi ada satu hal yang tidak lagi sama.

Mereka pulang bukan sebagai orang yang pernah tertinggal.

Mereka pulang sebagai manusia yang telah merebut kembali haknya untuk belajar.

Di saat banyak peringatan Hari Pendidikan Nasional berhenti pada pidato dan spanduk, Al Zaytun memilih merayakannya dengan cara yang lebih sunyi tetapi jauh lebih bermakna: memuliakan orang-orang dewasa yang menolak menyerah pada keterlambatan.

Karena sesungguhnya bangsa ini tidak hanya membutuhkan sekolah untuk anak-anak.

Bangsa ini juga membutuhkan sekolah yang mampu mengembalikan martabat orang-orang yang pernah ditinggalkan keadaan.

Dan pada Sabtu pagi itu, di Al Ishlah, sekolah seperti itulah yang sedang menyala.**


Ali Aminulloh
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!