Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah


Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Puasa menjadi wajin pada bulan Rsmadhan bagi unat Islam karena merupakan perintah Allah SWT seperti yang tersurat dalam Al Qur’an surah Al Bawarah ayat 183. Surah Al Baqarah (Sapi Betina) itu sendiri adalah surah yang sangat penting dan sangat besat manfaatnya karena mengingatkan kepada umat Islam pentingnya keimanan dan ketaqwaan, keharusan berbuat baik dan beranal sholeh. Mengendalikan hawa nafsu, kesabaran dan ketabahan dalam menggadapi kesulitan dan berbagai rintangan hidup. Karena itu, bagi umat Islam yang bergalangan menjalankan ibadhah puasa pada bulan ramadhan wajib untuk melakukan qada’ (mengganti puasa puasa pada bulan ramadhan yang wajib itu) dengan puasa pada saatnya telah mampu melakukan puasa penggantinya.

Kewajiban untuk nenggantikan puasa wajib pada bulan ramadhan yang tidak dilakukan ini, jelas menekankan pada kewajiban berpuasa pada bukan ramadhan yang sifatnya wajib itu, sebagai bagian dari rukun Islam yang harus ditaati seperti rukun Islam lainnya, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan menunaikan ibadhah haji ke tanah suci, Mekkah.

Yang menarik dalam rangkaian ibadhah puasa itu, meliputi nilai-nilai sosial — tidak hanya berdimensi spiritual semata — seperti kewajiban berzakat kepada fakir miskin, anak yatim piatu serta orang-orang yang terlilit hutang karena himpitan ekonomi. Nilai-nilai sosial yang berdinensi spiritual inilah agaknya yang menjadi salah satu kekuatan umat Islam untuk dijelola lebih baik memperkuat sikap mandiri dan peran serta umat Islam dalam berbagai segi penghidupan, politik, ekonomi, sosial dan budaya hingga kekuatan spiritual bila dikelola dengan baik menjadi energi di semua sektor dalam kualitas dan kuantitas yang maha dakhsyat. Tapi masalahnya bagi umat Islam harus bersatu, kompak, mampu mengatasi masalah friksi dan adu domba dari pihak lain. Kecuali itu, kesadaran umat Islam sendiri untuk membangun tatanan pergaulan yang harmoni dengan umat beragama non Islam harus dibangun serta dijaga, sebab umat Islam harus meyakini bahwa hidup di dunia ini tidak mungkin bisa hidup sendiri.

Agaknya, inilah hikmah dari esensi ibadhah puasa — tidak hanya pada bulan ramadhan — tapi juga dakam berbagai ibadah puasa pada waktu dan kesepatan yang lain. Seperti puasa Arafah pada setiap tanggal 9 Dzukhijah, puasa Asyura, puasa Senin-Kamis, puasa 3 hari setiap bulan pada tabggal 13, 14 dan 25 setiap bulan Hijriyah, puasa Syawal 6 hari, puasa Rajab, puasa Sya’ban. Begitu juga dengan puasa sunnah lainnya, seperti puasa Nabi Daud, puasa Tasu’a pada setiap tanggal 9 Muharram, puasa Yaum al-Bid psda setiap tanggal 13, 14 dan 15 Hijriyah.

Puasa sunnah yang tidak wajib ini sifatnya dapat dilakukan jika tidak mengganggu kewajibab lainnya. Karena itu, untuk suami dan istri yang hendak melakukan puasa sunnah wajib untuk saling memberitahukan antara yang satu dengan yang lain, agar tidak ada diantaranya yang merasa keberatan, ketika haknya tidak bisa dipenuhi atau terhakangi agar tidak sampai merasa diabaikan. Jadi begitulah bobot puasa wajib maupun puasa sunnah, sehingga diyakini sangat penting dan perlu dilakukan dengan penuh kesadsran, keiklasan bahkan kegembiraan untuk meningkatkan kualitas keimanan, keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada diri sendiri yang senantiasa berada dalam perlindungan dan penjagaan dari Tuhun, tidak hanya dari ancaman, tapi juga godaan dan provoksi dari para syaitan fan iblis.

Suasana puasa — terutama para bulan ramadhan — memang terasa sakral dan menebarkan suasana spiritual, terutama semasa kecil dahulu di kampung yang dilaksabakan dengan serangkaian upacara semi ritual, padosan jika di Jawa dan membuat makanan yang khas hingga minuman segar yang mengasyikkan. Dan yang agak aneh serta unik adanya buah Timun Suri, seakan-akan hanya musim panen pada waktu bulan puasa ramadhan semata. Padahal, buah segar yang khas ini bisa saja ditanam pada bulan lain, tidak hanya pada bulan ramadan.

Sajian menu untuk berbuka puasa pada bulan ramadhan pun jadi terkesan sangat indah dan khas. Penjual beragam macan makanan yang langka pun dijajakan. Mulai dari kolak pisang hingga kolak buah duren, sampai lemang, bajigur dan bandrek terpajang di sepanjang jalan, seakan-akan sedang parade unjuk keunggukan seleranya masing-masing.

Suasana puasa yang penuh jegembiraan ini pun tidak kalah saat makan sahur menjelang sholat subuh berjamaan. Tentu saja setelah berbuka puasa tadi dilanjutkan dengan sholat magrib yang berlanjut dengan sholat tarawih.

Pada dasarnya sholat tarawih yang menggenapi rukun puasa pada bulan ranadhan setelah sholat isha, hukumnya sunnah yang dapat diartikan dalam suasana santai, istirahat. Namun biasanya di setiap masigit atau surau juga menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Pada saat serupa inilah, suasana bagi kawula muda semakin lebih akrab dengan nuansa keagamaan. Segingga masigit atau surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadhah semata, tapi juga menjadi tempat pertemuan, sosialisasi dan interaksi sesama jamaah yang datang dsn singgah dari berbagai tempat dan daerah.

Begitulah suasana puasa yang indah dan nikmat serta berkesan. Kendati dalam beberapa bagian mungkin sudah tidak lagi ada — terutama dalam masyarakat perkotaan, meskipun tradiri nyatdran, ziarah kubur pada saat menjelang puasa ramadhan masih cukup banyak dilakukan bersama setiap keluarga. Dan penentuan waktu mulai menasuki bulan ramadhan yang acap berbeda dalam suatu komunitas umat Islam ysng cukup banyak menebar di berbagai tempat dan daerah, bisa diterima dalam pengertian keseriusan untuk menentukan waktu puasa pada bulan ranadhan yang diyakini paling tepat. Bisa saja perhitungan jatuhnya saat puasa pada bulan ranadhan dilakukan berdasarkan ruhyatul hilal dengan melakukan pengamatan langsung langsung terhadap penampakan psda bulan berbentuk sabit saat terbenam. Tapi juga bisa berdasarkan lerhitungan astronomi yang menfacu pada ilmu dan pengetahuan ilmiah.

Pada dasarnya bulan ramadhan diyakini sebagai bulan terbaik dari seribu bulan, bukan saja ditandai oleh banyak orang yang melakukan sedekah, memberi makan dan pakaian serta peralatan ibadah hingga santunan bahkan mewakafkan harta dan benda dalam berbagai bentuk untuk lebih menyenangkan serta menggembirakan hati orang lain, tetapi juga memberi manfaat dalam memperbaiki diri dan jiwa serta batin dalam menjaga fitrah kemuliaan sebagai khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi.**

Banten, 14 Februari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!