Mengapa Seorang Profesor Perlu “Sekolah” lagi di Al Zaytun?


Mengapa Seorang Profesor Perlu “Sekolah” lagi di Al Zaytun?

Oleh : Ali Aminulloh

Pelatihan Pelaku Didik (PPD) Al-Zaytun memasuki sesi ke-35 sejak pertama kali digulirkan pada 1 Juni 2025. Pada sesi yang berlangsung Ahad, 1 Februari 2026 ini, suasana di gedung pertemuan terasa berbeda. Di atas panggung berdiri seorang pria dengan deretan gelar akademik yang mentereng: Prof. (Yon) Mahyuni, M.A., Ph.D., Guru Besar Linguistik Terapan, Analisis Wacana, dan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Mataram.
Namun, alih-alih datang dengan otoritas seorang pengajar yang menggurui, sang Profesor justru melontarkan sebuah pengakuan yang mengejutkan ribuan pasang mata yang hadir.

Paradoks Sang “Ahli” yang Merasa Baru Belajar

Bagaimana mungkin seorang pria yang “gelarnya sudah sampai puncak” (Profesor) merasa baru saja menemukan esensi pendidikan ideal justru saat ia melangkah masuk ke kompleks Al-Zaytun? Inilah retorika yang menggugah kesadaran kita: dalam dunia yang terobsesi dengan kertas ijazah, kita sering kali lupa bagaimana rasanya melihat teori yang benar-benar mewujud dalam tindakan.

“Begitu masuk di kompleks Al-Zaytun, baru saya membayangkan sebenarnya situasi pendidikan ideal Indonesia harusnya seperti ini,” ujar Prof. Mahyuni dengan nada reflektif.

Ia tidak sedang berbasa-basi. Sebagai seorang peneliti, ia melihat sebuah sinergitas pentahelix yang nyata, di mana kelompok intelektual, masyarakat, dan pemangku kepentingan melebur menjadi satu kekuatan yang ia sebut sebagai “majelis ta’lim” atau majelisnya orang-orang berilmu.

Cahaya di Balik Layar Ponsel: Antara AI dan Silaturrahim

Di tengah gempuran globalisasi, Prof. Mahyuni menyoroti sebuah kontradiksi modern. Kita hidup di zaman di mana AI dan Google bisa menjawab apa saja dalam hitungan detik. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode algoritma: Silaturrahim.
– Teknologi sebagai Alat, Bukan Tuhan: Meskipun teknologi adalah keniscayaan, Al-Zaytun justru menunjukkan keberanian dengan membatasi penggunaan ponsel pada santri di bawah usia 16 tahun.
– Lebih Modern dari Australia: Prof. Mahyuni membandingkan praktik ini dengan Australia, tempatnya menimba ilmu selama tujuh tahun, yang baru saja mulai menerapkan kebijakan serupa.
– Koneksi Manusiawi: Baginya, kebersamaan fisik lebih dari 40 orang dalam satu ruangan membawa keberkahan dan doa yang tidak bisa diwakili oleh Information Technology (IT) mana pun.

Kedaulatan yang Dimulai dari Meja Makan

Salah satu sorotan paling tajam dalam pemaparannya adalah mengenai kemandirian dan kualitas hidup di Al-Zaytun. Di saat bangsa ini tengah bergulat dengan isu kontrol kualitas makanan untuk program nasional, Al-Zaytun telah lama mempraktikkan sistem seleksi makanan yang alamiah dan higienis.

“Kalau mau jujur, diberikan saja MBG (Makan Bergizi Gratis) hari ini ke Zaytun yang mengelola, beres semua Indonesia,” cetusnya, menyindir fenomena “tipu-tipu” kualitas makanan yang sering terjadi di luar sana.

Bagi Prof. Mahyuni, ini bukan sekadar soal perut, melainkan soal branding dan kejujuran. Ia mendorong agar sistem sanitasi dan seleksi makanan organik di Al-Zaytun dipromosikan sebagai best practice bagi pemerintah dan institusi lain agar tidak perlu merasa gengsi untuk belajar ke sini.

Bahasa sebagai Jembatan Dunia, Bukan Sekadar Gaya

Sebagai ahli linguistik, Prof. Mahyuni menekankan bahwa penguasaan bahasa asing, baik Arab, Inggris, hingga Mandarin atau Jepang, bukanlah alat untuk “gagah-gagahan”. Bahasa adalah instrumen ekonomi dan dakwah.
Ia mengambil contoh kesuksesan Malaysia dalam menggaet wisatawan Timur Tengah hanya dengan melatih para sopir taksi dan pegawai hotel bahasa Arab sederhana. Al-Zaytun, dengan praktik bahasa 24 jamnya, memiliki modal besar untuk mencetak lulusan yang tidak hanya ahli teori, tetapi juga praktisi yang adaptif terhadap kebutuhan pasar global.

Menutup dengan Harapan

Di akhir sesinya, Prof. Mahyuni menegaskan bahwa kehadirannya di PPD ke-35 ini bukanlah untuk melatih, melainkan untuk belajar. Ia melihat Al-Zaytun sebagai sebuah laboratorium hidup di mana nilai-nilai egalitarianisme dan kerja keras bukan sekadar narasi, melainkan terlihat nyata di lahan-lahan pertanian dan galangan kapal.**

Indramayu, 2 Februari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!