H.PURNOMO, S. Sos., KEPAK SAYAP SANTRI DARI BUMI WIRALODRA INDRAMAYU, PENERIMA PENGHARGAAN TOKOH MUDA PENGGERAK EKONOMI DAERAH 2025


H. PURNOMO, S. Sos. KEPAK SAYAP SANTRI DARI BUMI WIRALODRA INDRAMAYU, PENERIMA PENGHARGAAN TOKOH MUDA PENGGERAK EKONOMI DAERAH 2025

Oleh : H. Adlan Daie
Analis Politik Dan Sosial Keagamaan

Menarik membaca profile H. Purnomo, S. Sos, dalam usia relatif muda, di bawah 40 tahun, telah mengepakkan sayapnya relatif tinggi dalam dunia “enterpreneurship”, dunia usaha, lintas ragam jenis usaha dari konstruksi hingga kuliner.

Hari ini ( Kamis,18 Desember 2025) H. Purnomo diganjar sebuah penghargaan “Person Of The Year 2025” kategoriTokoh Muda Penggerak Ekonomi Daerah Cirebon Raya oleh “Radar Cirebon”, salah satu group media dengan jejaring raksasa di Indonesia. Selamat !!!

Inilah potret seorang santri dalam usia kategori generasi milenial (lahir antara tahun 1981 – 1996) berhasil “kepak sayap” di dunia usaha, sebuah profesi ‘minoritas”, jarang ditekuni kaum santri. Ia berhasil bukan saja untuk dirinya tapi dalam kategori penghargaan media “Radar Cirebon'” disebut “Penggerak Ekonomi Daerah”.

Dalam literasi sosiologi politik Jawa, mengutip konstruksi hasil penelitian Clifford Geezt, H. Purnomo menarik bagi penulis, sebuah “kekecualian” atau “keunikan” dalam demografi politik Jawa. Lahir dari keluarga santri tapi orangtuanya memberi nama “Purnomo”, sebuah nama dalam trilogi sosial politik Jawa Clifford Geezt tidak populer dipakai dalam rumpun sosial nama “santri”.

H. Purnomo lahir di Indramayu, 20 Mei 1987, dari keluarga “santri”. Pilihan sekolah pasca Sekolah Dasar (SD) menunjukkan ia bertumbuh dari keluarga sosial santri, menempuh pendidikan di lembaga pendidikan santri, di Mts NU Putera Buntet dan MAN Buntet Cirebon. Buntet adalah salah satu pesantren “historis” dan “iconic” dalam khazanah pesantren NU di pulau Jawa.

Gus Dur di majalah “Tempo” (edisi 4 November 1980) – 45 tahun silam menulis artikel berjudul “Pa Iskandar dan Pa Darmin” tentang inklusivitas pesantren Lirboyo, sebuah pesantren NU dengan tradisi pesantren sangat kuat membaca fenomena di mana ragam sosial sudah melebur dalam “kekenyalan budaya” pesantren NU.

Dalam konteks ini, setidaknya dalam konstruksi sosial penulis, H. Purnomo, termasuk salah satu dari “kekenyalan budaya” yang melebur sebagaimana konstruksi analisis Gus Dur dalam tulisan tersebut. Tidak ada rantai pembatas psyikhologis untuk bergaul lintas ragam sosial dan politik – di mana dalam pemilu tahun 1955 dan tahun 1971 sangat jelas pembelahan sosialnya.

Terlepas dari potret sosiologis di atas, hal menarik dari H. Purnomo, ia adalah santri dengan latar pendidikan kesarjanaan bidang ilmu ilmu sosial tapi berhasil “kepak sayap” di dunia usaha, sebuah profesi, sekali lagi, sangat ‘minoritas”, jarang ditekuni kaum santri.

Penulis tentu tidak memahami liku liku detil H. Purnomo merintis usaha dari merangkak, mendaki, jatuh dan bangun hingga ia berada di posisi sekarang ini menjadi Pemilik dan Pendiri (Owner and Founder) sejumlah perusahaan yang menjadi substitusi dan stimulus penggerak ekonomi Daerah.

Keberhasilannya di dunia usaha dalam usia muda, di bawah usia 40 tahun, mengingatkan penulis pada sebuah buku lama yang “power” inspiratif berjudul “Surat Surat Ideologis Sang Ayah”, ditulis tahun 1922 oleh J. Rockefeller, seorang Taipan Minyak, orang terkaya di dunia di era nya.

J. Rockefeller menulis surat kepada puteranya yang hendak diwisuda di sebuah perguruan tinggi bergengsi di Amerika, begini :

“Kamu harus percaya bahwa dirimu sendiri adalah modal terbesarmu, bukan kekayaan ayahmu. Kamu akan berdiri kokoh oleh dirimu sendiri, oleh kekuatan kakimu sendiri”, tulis J. Rockefeller kepada anaknya.

“Di dunia ini tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan ketekunan. Pendidikan saja tidak cukup. Dunia ini penuh orang berpendidikan yang gagal. Hanya ketekunan yang tidak akan mengecewakan. Itulah karakter”, tulisnya lebih lanjut.

Variabel faktor ketekunan itulah menurut penulis yang membentuk karakter H. Purnomo, sebuah konsistensi yang “built in” menumbuhkan kompetensi dan inovasi dalam kekuatan dirinya dalam adaptasi lingkungan sosial dan ekonomi di daerahnya, Indramayu.

Dalam konteks itu, ia kompatibel (kompeten dan pas) duduk menjadi komisaris Utama PT. Pandita Jasa Prima, Direktur Utama PT. Waskita Jaya Purnama, Direktur Utama PT. Muara Jati, Owner & Founder Taruna Beton, Owner Taruna Coffie & Resto, dll.

Di luar aktivitas dunia usaha, ia tetap berkhidmat di lingkungan NU dan mengembangkan aktualisasi pergaulan sosialnya aktif di berbagai lintas organisasi antara lain Bendahara GP Ansor Indramayu (2020 -;2024), ketua harian IMI Indramayu (2021 – 2023), ketua LPNU Jawa Barat (2021 – 2026), Dewan Pembina HIPMI Indramayu (2022 – 2025).

‘Ala kulli hal, singkatnya, apa yang telah dicapai oleh H. Purnomo dalam usia muda dalam diksi Imam Syafie disebut “ladzidul ‘ais fin nashobi”, keringat ketekunan memang tidak akan mengkhianati hasil akhir, terlebih bila “anfa’ linnas”, memberi kontribusi minimal untuk daerah kelahirannya, Indramayu.

Virus virus positif kewirausahaan atau spirit “enterpreneurship” ini penting untuk ditularkan dalam ekosistem sosial generasi muda Indramayu, khususnya angkatan muda NU. Spirit Penghargaan yang diterima H. Purnomo dari “Radar Cirebon” dalam kategori tokoh muda Penggerak Ekonomi Daerah semoga menjadi inspirasi yang menggerakkan.

Hal ini penting bagi Indramayu. Pasalnya, problem sosial kemiskinan dan kerapuhan sosial tidak mungkin sanggup dihandel oleh kapasitas Pemerintah Daerah Indramayu kecuali oleh peran peran dunia usaha dan karakter kemandirian warganya. Di titik inilah pointnya memaknai penghargaan yang diterima H. Purnomo di atas.

Pertanyaan”endingnya” apakah H. Purnomo akan mengembangkan kepak sayapnya lebih tinggi bagi manfaat dan maslahat publik yang lebih luas? Mari kita tunggu, semesta ke mana kelak akan menuntun kepak sayapnya ke depan.**


Indramayu, 18 Desember 2025

Wassalam.
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!