Refleksi Hari Menanam Pohon di Al Zaytun: Ketika Pohon Menjadi Manifestasi Trilogi Kesadaran
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, A.Ag, M.Pd.I, ME
( Dosen IAI Al Zaytun )
Hari ini, 28 November, alam mengirimkan seruan penting melalui peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, momentum nasional ini jauh melampaui seremoni penanaman bibit semata. Ia adalah pengingat kolektif tentang urgensi penghijauan dan kelestarian lingkungan.
HMPI lahir dari keprihatinan mendalam: meningkatnya kerusakan hutan, dampak nyata perubahan iklim, dan perlunya mitigasi emisi karbon. Tujuannya tegas: meningkatkan kesadaran ekologis di masyarakat, mendorong partisipasi aktif dalam penanaman pohon, dan memastikan pemerintah daerah memiliki program penghijauan terencana. Pohon adalah paru-paru bumi; ia menjaga kualitas udara, tanah, dan air. Menanam satu pohon adalah investasi bagi keberlanjutan masa depan.

Kisah Abadi di Tanah Pendidikan: Komitmen yang Tak Mengenal Gergaji
Di tengah gema peringatan nasional, terdapat sebuah institusi pendidikan yang menjadikan komitmen terhadap pohon sebagai nafasnya. Dialah Ma’had Al Zaytun.
Bagi Ma’had ini, menanam pohon bukan sekadar program musiman, melainkan budaya yang mengakar sejak awal berdirinya. Jutaan pohon telah tertanam, mengubah hamparan lahan tandus menjadi hutan pendidikan yang asri.
Konsistensi Al Zaytun terwujud dalam berbagai praktik institusi yang unik dan mendalam:
1. Taqris : Sejak 1999, setiap guru baru yang akan bertugas diwajibkan melaksanakan kegiatan taqris, menanam pohon. Ini adalah simbolisasi mendalam bahwa tugas mendidik tidak hanya tentang mencerdaskan manusia, tetapi juga merawat bumi tempat mereka berpijak.
2. Penanda Sejarah: Momen-momen penting selalu ditandai dengan penanaman pohon. Kedatangan Presiden RI B.J. Habibie saat meresmikan Al Zaytun, serta banyak menteri dan pejabat negara seperti Agung Laksono, Malik Fajar, dan Surya Darma Ali, semua meninggalkan jejak hijau mereka.
3. Filosofi Pemeliharaan: Yang paling menarik adalah komitmen untuk tidak menebang. Ketika ada pembangunan jalan atau gedung, pohon-pohon tidak dimusnahkan, melainkan dipindahkan menggunakan alat khusus mereka, Big Jhon, yang mampu memindahkan pohon berdiameter hingga 25 cm. Hasilnya, Jalan Jammas langsung diselimuti teduh deretan pohon jati dan mahoni yang sudah besar—sebuah pemandangan langka hasil dari kepedulian yang luar biasa.
Komitmen ini diringkas dalam moto yang mendalam: “Pendahulu menanam pohon untuk kita dan kita menanam pohon untuk generasi mendatang.”

Pohon Sebagai Wujud Trilogi Kesadaran
Syaykh A. S. Panji Gumilang, sebagai penggagas pendidikan kontemporer di Al Zaytun, telah merumuskan esensi dari praktik ini dalam Trilogi Kesadaran: Kesadaran Filosofis, Kesadaran Ekologis, dan Kesadaran Sosial. Aksi menanam dan merawat pohon di Ma’had Al Zaytun adalah implementasi nyata dari ketiga pilar tersebut:
1. Kesadaran Filosofis (The Philosophical Awareness)
Tindakan menanam pohon bagi generasi mendatang mengajarkan makna keberadaan yang berkelanjutan dan warisan. Ini adalah kesadaran bahwa hidup harus meninggalkan manfaat, bukan hanya menangguk keuntungan. Memindahkan pohon daripada menebangnya adalah praktik filosofis yang menghargai kehidupan lain, berpegang pada prinsip bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keutuhan ciptaan.
2. Kesadaran Ekologis (The Ecological Awareness)
Inilah inti dari HMPI. Melalui menanam jutaan pohon dan memiliki Big Jhon sebagai simbol anti-tebang, Al Zaytun mengajarkan secara ekstrem bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas merusak. Kesadaran ini menuntut pemeliharaan udara, tanah, dan air, serta kontribusi nyata dalam mitigasi perubahan iklim.
3. Kesadaran Sosial (The Social Awareness)
Lingkungan yang hijau dan sehat adalah public good—kebaikan bersama. Pohon yang ditanam di sepanjang jalan dan lingkungan Ma’had Al Zaytun adalah kontribusi sosial yang menghasilkan udara bersih, keteduhan, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh komunitas yang tinggal di dalamnya. Ini adalah pelajaran bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah bentuk kepedulian tertinggi terhadap kesejahteraan sesama.

Refleksi Menginspirasi: Menanam Harapan Abadi
Di Hari Menanam Pohon Indonesia ini,marilah kita melihat kembali ke dalam diri. Pohon adalah guru terbaik tentang kesabaran, ketekunan, dan cinta yang berbuah. Tindakan menanam adalah perwujudan praktis dari Trilogi Kesadaran—sebuah tindakan yang berakar pada filosofi kebaikan, berorientasi pada ekologi, dan menghasilkan manfaat sosial.
Pepatah kuno yang selalu relevan berbisik: “Tanamlah pohon sekalipun besok akan kiamat.”
Kalimat ini adalah ajakan untuk tidak pernah putus asa dalam berbuat baik kepada alam. Tugas kita bukan hanya menikmati teduh yang diwariskan pendahulu, tetapi memastikan generasi mendatang juga memiliki hak yang sama untuk menghirup udara bersih.
Mari kita jadikan setiap tarikan napas sebagai janji, dan setiap bibit yang tertanam sebagai manifestasi cinta kita yang paling tulus kepada bumi dan kemanusiaan.
Tanam hari ini. Wariskan kehidupan abadi.**
Indonesia, 28 November 2025
—–
![]()
