REVOLUSI HIJAU: JALAN AL-ZAYTUN MENUJU KEDAULATAN PANGAN
Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag.M.Pd.I.M.E (Dosen IAI Al-Azis)
Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun memasuki sesi ke-25. Ahad, 23 November 2025, dengan menghadirkan, seorang peneliti sekaligus praktisi pertanian ahli bioteknologi, Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, M. Si. Setelah pemaparan narasumber, Syaykh Al Zaytun memberikan respons mendalam dalam sesi penggulungan dan simpulan kuliah umum, yang menyoroti pentingnya konsistensi nasional dan peran sentral institusi pendidikan dalam menghela kedaulatan pangan.
Jerat Neoliberalisme dan Ancaman Generasi Emas
Prof. Ali Zum Masyhar, dalam pemaparannya, secara lugas membedah akar masalah krisis pangan nasional. Ia menyebut ketergantungan pangan yang telah berlangsung selama 35 tahun sebagai “Penjajahan Neoliberalisme” yang merugikan negara ratusan triliun rupiah per tahun. Ironisnya, Indonesia, sebagai negara agraris, masih mengimpor 90% kebutuhan kedelai dan 100% kebutuhan gandum.
Ancaman terbesar yang diungkap adalah invasi kedelai GMO (Genetically Modified Organism). Kedelai impor tersebut dikategorikan sebagai animal feed (pakan ternak) di negara asalnya, namun dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Dampak yang ditimbulkan diklaim menyebabkan ‘stunting otak’ (cerebel), yang berpotensi merusak bonus demografi pada tahun 2035 dan mengancam terwujudnya Indonesia Emas 2045. Ketergantungan ini menciptakan “budak modern” di tanah sendiri.
Prof. Ali melihat Al-Zaytun sebagai “pusat perubahan peradaban” karena institusi ini memprioritaskan pendidikan berbasis alam dan lingkungan, menjadikannya fondasi dasar untuk negara maju dan berdaulat.

Tiga Pilar Revolusi dan Inovasi Bioteknologi Nasional
Untuk keluar dari jerat Neolib, Prof. Ali mencanangkan Tiga Revolusi Pertanian:
1. Revolusi Lahan: Membangun lahan baku yang pasti untuk swasembada, seperti penetapan 1 juta hektare lahan untuk kedelai.
2. Revolusi Produktivitas: Meningkatkan hasil panen secara signifikan melalui bioteknologi.
3.Revolusi Organik: Kembali menggunakan pupuk organik regeneratif, meninggalkan ketergantungan pada pupuk kimia.
Kedelai dan Padi: Juara Dunia dari Laboratorium Anak Bangsa
Lebih lanjut, Prof.Ali memperkenalkan dua inovasi bioteknologi unggulan sebagai senjata strategis kedaulatan pangan:
1. Kedelai Garuda Merah Putih (Non-GMO): Varietas ini diklaim mampu mencapai produktivitas 5,3 hingga 6,5 ton per hektare, jauh melampaui kedelai AS (2,7 ton/ha) dan kedelai lokal (1,2 ton/ha). Potensinya meningkat karena Indonesia sebagai negara tropis memungkinkan panen 2-3 kali setahun.
2. Padi Trisakti atau Padi Kalimah Thayyibah (PKT): Varietas padi super cepat ini hanya membutuhkan waktu panen 75 hari (vs. 4 bulan padi biasa), dengan potensi hasil hingga 14–17 ton per hektare. Kecepatan panen ini memungkinkan lahan irigasi panen tiga kali setahun, menciptakan surplus beras nasional 13–30 juta ton per tahun tanpa membuka lahan baru. Prof. Ali menyebut PKT sebagai “senjata diplomasi internasional.”
Mikroba Google (BioP2000Z): Penjaga Kesuburan Tanah
Dalam rangka Revolusi Organik, diperkenalkan teknologi Mikroba Google (Paten Internasional: BioP2000Z). Mikroba ini berfungsi sebagai pupuk regeneratif karbon yang cerdas, mampu mencari dan meramu nutrisi yang dibutuhkan tanaman, serta meningkatkan serapan kapur di tanah, mengakhiri ketergantungan petani pada pupuk kimia.
Respon Syaykh Al Zaytun: Filosofi, Konsistensi, dan Misi Politeknik
Setelah pemaparan Prof. Ali, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, S.Sos. M.P., memberikan respons dan kesimpulan yang komprehensif.
Filosofi Rabbul Alamin
Syaykh menghubungkan masalah pangan dengan tugas fundamental Tuhan: mengenyangkan makhluk-Nya dan memberi aman kepada alam semesta, sehingga layak disebut Rabbul Alamin (Pembimbing/Pendidik Alam Semesta). Beliau mengutip ayat ” Dhaharol fasad fil bahri wal bahri bima kasabat aidinnas” (Kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh tangan-tangan manusia), menekankan bahwa alam sesungguhnya tidak memerlukan manusia, tetapi manusia sangat memerlukan alam.

Tantangan Sadar dan Konsistensi Bangsa
Syaykh menyoroti masalah “tidak konsisten” dan “kurang sadar” dalam masyarakat. Contohnya, pada peringatan 17 Agustus, rakyat menyanyikan lagu “Siapa Berani Menurunkan Kau” (Bendera Merah Putih), tetapi bendera tersebut tetap diturunkan pada pukul 5 sore. Hal ini ia sebut sebagai simbol ketidakkonsistenan yang harus segera diakhiri.
Aksi Nyata dan Visi Pendidikan
Syaykh menegaskan komitmen Al-Zaytun untuk menjadi contoh:
1. Ketahanan Pangan Institusi: Al-Zaytun mempersiapkan 1.600 ton beras per tahun (dimakan hanya 1.000 ton), dan sisanya 600 ton disimpan dan disalurkan ke koperasi, dengan usulan membentuk “Kooperasi Merah Putih.”
2. Uji Tanding Riset: Syaykh menerima hibah 30 kg benih PKT untuk ditanam di 5 hektare, menantang diadakannya “pertandingan peneliti” antara pelajar Al-Zaytun yang terdidik melawan peneliti yang dibiayai negara.
3. Menolak Menjadi TKI: Syaykh mengecam kebijakan yang menghasilkan lulusan SMK hanya untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Ia menegaskan, Politeknik Tanah Air Al-Zaytun harus mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengelola dan memakmurkan tanah airnya sendiri.
Sebagai penutup, Syaykh menyampaikan bahwa simposium ini merupakan bagian dari azam Al-Zaytun untuk mengumpulkan 45 profesor guna menyusun Buku Hijau yang akan menata ulang pendidikan Indonesia, menjadikan pendidikan sebagai pondasi bagi peradaban yang modern, maju, dan beriman, serta mewujudkan kedaulatan pangan yang abadi.**
Indramayu, 24 November 2025
——
![]()
