Transformasi Dakwah Ekonomi : Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa HES IAI AL-AZIS Hadirkan Literasi Finansial Berbasis Digital (02)
INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti kediaman Abdul Latief Kasno, S.H., M.P. dan Wardatun di Desa Situraja, Indramayu, Jawa Barat, pada Selasa malam, 18 November 2025.Ratusan warga yang tergabung dalam Paguyuban Gotong Royong Indonesia (P-GRI) berkumpul tidak hanya untuk menyambung tali silaturahmi bulanan dan tasyakuran Aqiqah, namun juga untuk menyerap ilmu dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES), Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS). Mengusung tema besar “Hidup Minimalis, Rezeki Maksimalis: Kunci Keberkahan Finansial Keluarga Sejati”.
Acara ini menjadi bukti nyata implementasi kurikulum Outcome Based Education (OBE), sehingga mahasiswa tidak hanya belajar di menara gading kampus, melainkan terjun langsung menjadi agen perubahan di masyarakat.
Ice “Immersive Interactive War”
Sebelsana percaya diri, para mahasiswa angkatan 2022 ini membedah data ekonomi dan menawarkan solusi fikih aplikatif, membuktikan kapasitas mereka sebagai calon praktisi hukum ekonomi yang kompeten dan berdaya guna.

Segmen 1:
Membedah Teologi Harta dan “Penyakit” Gengsi
Pemateri: Agus Rojak Samsudin, S.Ag., M.H. (Dosen Pengampu)
Sesi pertama dibuka oleh Agus Rojak Samsudin, S.Ag., M.H., selaku dosen pembimbing lapangan.
Beliau meletakkan fondasi spiritual dengan membahas konsep Qawaman (Keseimbangan) dalam pengelolaan harta. Dalam paparan yang menyejukkan.
Agus Rojak menekankan, bahwa Islam membenci sikap Israf (berlebih-lebihan) dan Tabdzir (pemborosan).
Beliau menyoroti fenomena sosial di mana banyak keluarga terjebak penderitaan finansial bukan karena kurangnya rezeki, melainkan karena “penyakit hati” berupa gengsi.
“Banyak dari kita yang keliru menafsirkan kebahagiaan. Kita sibuk mengejar validasi sosial, membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, hanya untuk mengesankan orang yang tidak kita sukai. Inilah akar hilangnya keberkahan,” tegas Agus Rojak.
Beliau juga mengontekstualisasikan materi dengan acara Aqiqah tuan rumah. Aqiqah, menurutnya, adalah momentum “Minimalis Syukur, Maksimalis Berkah”. Ia mengajarkan bahwa substansi ibadah adalah berbagi dan menebus gadai sang anak, bukan pesta pora yang membebani ekonomi keluarga**(Bersambung 03)
Penulis : Nalia Puteri Mandini
( Mahasiswa Prodi HES IAI AL-AZIS )
Editor : Red/Ali Aminulloh
——
![]()
