Jembatan Ilmu & Budaya : Hartono, Tutor PKBM Penggenggam Gamelan, Gelar Magister, Dan Jiwa Relawan
BANYUMAS-JAYA NEWS.COM – Di tengah hiruk pikuk modernisasi, semangat melestarikan budaya lokal tak pernah padam. Kisah inspiratif datang dari Hartono, S.Pd, seorang Tutor dan Sekretaris PKBM Al Zaytun di Indramayu yang kini tengah menempuh pendidikan Pascasarjana di UIN Saifudin Zuhri Purwokerto. Perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar, melainkan sebuah ikhtiar mulia untuk mengakarbudayakan seni adiluhung: ‘Karawitan’.
Dari Warga Belajar, Punggawa Pendidikan, Hingga Relawan Pengabdian
Sosok Hartono adalah bukti nyata keberhasilan pendidikan non-formal. Ia bukan hanya staf, melainkan juga alumni dan Pengurus Ikatan Alumni PKBM Al Zaytun. Kiprahnya sebagai Sekretaris dan Tutor di PKBM Al Zaytun menunjukkan dedikasi tinggi pada dunia pendidikan.
Namun, pengabdian Hartono melampaui ruang kelas. Ia juga dikenal sebagai relawan Al Zaytun yang bertugas di unit Wisma Tamu Al Islah. Peran ini menunjukkan dimensi lain dari dedikasinya: kerelaan berkorban, melayani, dan menjadi bagian integral dari sistem besar di lembaganya. PKBM, yang sering dipandang sebelah mata, telah membentuknya menjadi pendidik yang berdaya saing, visioner, dan berjiwa sosial.
Karawitan, Darah Daging Sang Koordinator Budaya
Di balik tugasnya sebagai pendidik dan relawan, Hartono memiliki kecintaan mendalam pada Seni Karawitan. Baginya, Karawitan bukan sekadar kesenian, melainkan “darah daging”. Di Ma’had Al Zaytun, ia dipercaya sebagai Koordinator Seni Karawitan, mengemban tanggung jawab besar dalam regenerasi dan pelestarian budaya Jawa.
Semangat melestarikan inilah yang membawanya ke jenjang S2. Ia memilih tema penelitian tesis yang sangat relevan dengan passion-nya: “Pengembangan Modul Ajar Seni Karawitan”. Langkah ini menegaskan bahwa budaya tradisional harus diangkat ke mimbar akademik sebagai upaya serius pelestariannya.

Membawa Gamelan ke Gerbang Akademik Pascasarjana UIN
Pada Kamis, 23 Oktober 2025, Hartono bersama rekan seperjuangannya di Pascasarjana UIN SAIZU, Sholehudin, melakukan penelitian lapangan yang berharga di SDN 2 Semedo, Pekuncen, Banyumas. Sekolah ini dipilih karena komitmennya dalam menerapkan ekstrakurikuler Karawitan, menjadikannya ‘laboratorium’ budaya yang ideal.
Penelitian ini adalah upaya nyata dari insan akademik untuk terjun langsung memecahkan persoalan pelestarian budaya di tengah tantangan arus modernisasi.
Kepala SDN 2 Semedo, Guntur Danang Sulistyawan, S.Pd, menyambut baik.Ia menegaskan, bahwa mengenalkan Karawitan sejak dini adalah kunci agar “seni karawitan tetap hidup di hati anak-anak.”
“Kunjungan ini adalah harmoni sempurna antara pengabdian seorang tutor PKBM, kecintaan pada budaya, jiwa relawan, dan tanggung jawab akademik Pascasarjana,” ujar Guntur, Kamis 23 Oktober 2025.
Epilog: PKBM, Kawah Candradimuka yang Melahirkan Insan Paripurna
Kisah Hartono adalah narasi kuat tentang eksistensi PKBM. Lebih dari sekadar tempat menuntaskan ijazah Paket A, B, atau C, PKBM adalah Kawah Candradimuka yang membentuk insan paripurna. Ia mendidik tak hanya otak, tapi juga hati dan jiwa raga.
Hartono membuktikan, bahwa lulusan PKBM bisa mencapai puncak akademik di jenjang Pascasarjana UIN, menjadi penjaga benteng budaya, dan pengabdi yang rela melayani sebagai relawan. PKBM Al Zaytun telah melahirkan seorang Hartono yang kini menjadi jembatan antara pendidikan non-formal, keilmuan tinggi, pengabdian sosial, dan pelestarian warisan leluhur.
Eksistensi PKBM bukan lagi sebatas program alternatif, melainkan sebuah pondasi kokoh yang mampu mencetak individu yang tidak hanya cerdas ilmu, kaya budaya, berjiwa relawan, tetapi juga siap menjadi agen perubahan, dan senantiasa menjaga harmoni Indonesia. Ia adalah Punggawa Sejati: Guru, Cendekia, dan Penjaga Budaya.**
Penulis : * Hartono
* Ali Aminulloh
—–
![]()
