Puti Guntur Soekarno: Menjemput Kembali Kesadaran Bangsa Melalui IBu Pertiwi dan Pancasila


Puti Guntur Soekarno: Menjemput Kembali Kesadaran Bangsa Melalui Ibu Pertiwi dan Pancasila

*Tulisan berseri ke 3 dari 7, disarikan dari pandangan Puti Guruh Soekarno

Penulis : Ali Aminulloh

Menanggapi isi buku Connie berjudul “Dari Mimpi Peradaban menuju Lahirnya Bangsa Berkesadaran”, Puti Guntur Soekarno, cucu proklamator Bung Karno, memberikan perspektif mendalam mengenai kondisi kesadaran bangsa Indonesia. Menurutnya, pernyataan Profesor Conny Rahakundini Bakrie tentang “Indonesia darurat kesadaran” , Puti dengan tegas menyatakan persetujuannya. Ia mengawali pandangannya dengan metafora “melepaskan sepatu” dan “menjejakkan diri ke bumi”, merujuk pada pengalaman pribadinya saat mengunjungi masyarakat adat di Ciamis yang mengharuskannya melepaskan semua atribut dan membaur dengan kearifan lokal. Bagi Puti, ini adalah tentang kembali pada identitas diri, sebuah “jati diri kita”.
Puti juga mengungkapkan rasa hormat dan terkejutnya saat diminta menjadi pembicara, mengira sang ayah, Guntur Soekarnoputra, yang diundang. Namun, kesempatan ini membawanya pada perenungan mendalam setelah membaca buku Profesor Conny. Ia mengakui bahwa selama ini ia mengenal Conny sebagai “perempuan perkasa”, “galak”, dan “perempuan batu” yang selalu berhadapan dengan urusan pertahanan dan geopolitik, berbicara tanpa tedeng aling-aling tentang persenjataan. Namun, ketika menyelami lembar demi lembar buku tersebut, Puti menemukan sisi lain: “Saya melihat Ibu Pertiwi di situ”. Ia merasakan kelembutan, kegelisahan, kontemplasi diri, dan kegeraman yang ditulis dalam “cinta kasih dan kelembutan” serta “mimpi yang diharapkan bisa tercapai untuk Indonesia kita”.

Krisis Kepemimpinan dan Revolusi Sosial yang Belum Usai
Puti Guntur Soekarno melanjutkan pandangannya dengan menyoroti krisis kesadaran yang melanda para pemimpin Indonesia saat ini. Menurutnya, banyak pemimpin yang “tidak selesai dengan dirinya sendiri” , dan hal ini terefleksi dalam kebijakan serta tindakan mereka. Ia menekankan pentingnya seorang pemimpin yang memiliki kesadaran, telah selesai dengan dirinya sendiri, dan memiliki kesadaran untuk berkeadilan serta berkemanusiaan bagi Indonesia. Puti sangat setuju dengan Profesor Conny bahwa untuk menciptakan “kesadaran bersama sebagai anak bangsa” demi mewujudkan “negara paripurna,” dibutuhkan pemimpin yang sadar. Jika satu orang sadar, maka jutaan orang lain akan tersadarkan.
Ia membedakan antara revolusi politik dan revolusi sosial. Revolusi politik, yang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan, telah selesai dan menjadi “jembatan emas untuk mencapai negara paripurna”. Namun, “revolusi sosial kita belum selesai”. Puti mengkritisi absennya keadilan dan sisi kemanusiaan, serta landasan yang kuat untuk memberikan kemakmuran dan keadilan yang diinginkan rakyat Indonesia. Semua ini kembali pada masalah leadership. Moderator pun menambahkan bahwa jika semua orang “tertidur dan tidak sadar,” kondisi negeri ini akan stagnan, namun jika ada seseorang yang mampu menyadarkan dan membangunkan semuanya, niscaya negeri ini akan jauh lebih maju. Profesor Conny menimpali, bahwa selain mampu, seseorang juga harus “mau bicara” dan “berani,” karena banyak orang yang mampu namun tidak berani menyuarakan kebenasan. Oleh karena itu, salah satu kekuatan bukunya adalah “melawan ketakutan”.

Pancasila dan Peran Sentral Perempuan dalam Pendidikan Kesadaran
Puti kemudian mempertanyakan, “Mampukah itu kemudian melawan ketidakadilan dan ketidakperikemanusiaan yang ada?” jika hanya satu atau segelintir orang yang menyuarakan kebenaran namun yang lain diam. Ia mengajak hadirin untuk merenungkan: “Sadarkah kita akan situasi Indonesia saat ini?”. Puti mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki “mantra suci” dan identitas yang kuat, yakni Pancasila. Namun, seringkali kita “tidak pernah sadar bahwa kita memiliki Pancasila sebagai ideologi bangsa kita” , dan tidak pernah tersadarkan untuk kembali pada akar dan kearifan lokal. Ia meyakini bahwa dengan meneliti dan mengembangkan kearifan lokal, Pancasila dapat membawa Indonesia menuju negara paripurna.
Aspek kedua yang disoroti Puti adalah peran Ibu Pertiwi, atau perempuan, dalam membangun kesadaran dan cinta kepada Indonesia, serta menghargai identitas bangsa. Ia sependapat dengan Hendropriyono bahwa pendidikan adalah kuncinya, namun bukan dengan kekerasan, kata-kata kasar, atau memaki. Sebaliknya, pendidikan kesadaran harus kembali kepada keluarga, kepada ibu, kepada perempuan. “Karena dialah yang mengajarkan kesadaran kita untuk cinta kasih terhadap bangsa dan negara hari ini,” pungkas Puti.

Epilog
Pandangan Puti Guntur Soekarno menggarisbawahi urgensi “darurat kesadaran” di Indonesia, bukan hanya di level kepemimpinan tetapi juga di seluruh elemen masyarakat. Ia menyerukan sebuah “revolusi sosial” yang belum usai, yang menuntut keadilan, kemanusiaan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Dalam menghadapi tantangan ini, Puti menekankan pentingnya kembali pada jati diri bangsa yang berakar pada Pancasila dan kearifan lokal. Lebih dari itu, ia menyoroti peran sentral perempuan sebagai pendidik utama kesadaran cinta kasih terhadap bangsa dan negara, sebuah fondasi esensial untuk membangun Indonesia yang paripurna.

Jakarta,20 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!