Visi Bangsa Berkesadaran: Menjelajahi Pemikiran Profesor Connie Rahakundini Bakrie

Visi Bangsa Berkesadaran: Menjelajahi Pemikiran Profesor Connie Rahakundini Bakrie

Disarikan dari paparan Prof. Connie Rahakundini Bakri

Penulis : Ali Aminulloh


Dalam peluncuran buku “Dari Mimpi Peradaban menuju Lahirnya Bangsa Berkesadaran” yang diterbitkan CRBook, sang penulis, Profesor Conny Rahakundini Bakrie menyampaikan pandangannya yang mendalam tentang konsep “Negara Paripurna” dan “Conscious Nation”, sebuah gagasan yang tertuang dalam buku terbarunya tersebut. Dengan populasi Indonesia yang mencapai 284.440.000 jiwa, Conny menekankan bahwa satu saja “nila pemikiran, kebohongan, rumor, dan keyakinan akan ketidakmampuan diri” dapat melukai bangsa lebih dalam dan lebih cepat daripada peluru manapun. Ia mengingatkan kembali visi Soekarno tentang negara paripurna, yang bukan sekadar peta di atas kertas, melainkan “keseluruhan yang hidup dalam setiap insan bangsanya”. Sebuah bangsa yang tidak hanya berdaulat secara geografis, tetapi juga merdeka dalam jiwa. Revolusi Indonesia, menurut Soekarno, adalah kebangkitan jiwa, bukan sekadar pergantian sistem.
Conny menyinggung pernyataan Dostoevsky bahwa “Manusia adalah misteri”, dan bahwa pemahaman akan diri sendiri—”siapa aku dan untuk apa aku ada?”—adalah kunci. Di dalam jantung nusantara, tersembunyi visi “negara paripurna” yang belum selesai. Ini adalah cita-cita holistik tentang bangsa yang utuh, merdeka lahir dan batin, berdaulat atas tanah dan pikirannya, serta menjelma sebagai cahaya peradaban. Pemikiran ini, dalam konteks kontemporer, berkorelasi kuat dengan konsep Conscious Nation yang ia kembangkan dalam bukunya. Sebuah Conscious Nation adalah negara yang dibangun di atas kesadaran reflektif, spiritualitas dalam tata kelola, harmoni antarmanusia dan alam, serta keberanian moral. Gagasan ini menjadi tulang punggung kehidupan, merawat bumi, dan merawat masa depan bangsa. Conny percaya bahwa pengelolaan sumber daya harus berdasarkan makna dan pelayanan, bukan ketamakan. Pemimpin seharusnya adalah mereka yang telah menaklukkan diri sendiri, berbicara dari kebijaksanaan, bukan ambisi. Bangsa yang tercerahkan akan tercipta bukan dari kekuasaan atau sistem, melainkan dari kesadaran dan jiwa-jiwa yang terbangun. Penderitaan, katanya, bukan karena absennya teknologi atau defisit intelektualitas, melainkan “ketiadaan mercusuar, kesadaran batin”. Oleh karena itu, revolusi terbesar tidak lahir di medan perang, melainkan “di dalam hati manusia”.
Conny juga menyampaikan rasa hormatnya kepada tokoh-tokoh seperti Megawati Soekarnoputri, Prananda Prabowo, Hasto Kristianto, dan Herman Heri, yang telah mengguncang fondasi persepsinya dalam memahami kekuasaan, kemanusiaan, dan arah peradaban demi terwujudnya bangsa paripurna. Pengalamannya di Rusia, khususnya di St. Petersburg State University, turut membentuk konsep bukunya. Di sana, ia menemukan bangsa yang tersadarkan dan “roh peradaban yang terus bicara”. Buku ini sendiri adalah “jejak spiritual dan intelektual” perjalanannya menuju dunia yang lebih sadar, dunia yang dibangun di atas kesatuan antara manusia, alam, dan takdirnya. Conny menegaskan bahwa perubahan Indonesia tidak dimulai dengan revolusi, melainkan dengan “mengobarkan perang terhadap tiran. Tiran dalam diri. Semua ketakutanmu dan semua keraguanmu”. Setiap bangsa adalah cerminan warganya: “Engkaulah budayanya, engkaulah sistemnya, engkaulah medan perangnya. Dan engkaulah kedamaian”. Ia menyerukan agar setiap individu berbicara, bertindak, dan menjadi pemimpin dari dunia yang mereka miliki, sebagai “arsitek realitas”. Perubahan, menurutnya, harus terjadi “saat ini juga,” karena “Indonesia-mu tidak menunggu perubahan”.


Menggali Makna dan Menempatkan Kebijaksanaan di Gardu Depan
Pada sesi pendalaman materi buku, moderator bertanya, mengapa Conny tidak menggunakan alas kaki. Connie menjelaskan bahwa ini adalah “grounding” symbol pelepasan kemelekatan menuju penyatuan dengan alam. Moderator acara, yang terinspirasi oleh gagasan “grounding” yang disampaikan Conny, secara simbolis melepas alas kakinya. Ia setuju bahwa “melepas kemelekatan” adalah hal penting untuk menjadi pribadi yang mandiri dan matang. Dalam diskusinya, Conny juga menjelaskan mengapa ia sangat memperhatikan penempatan VVIP, seperti tokoh bangsa, guru besar, anggota dewan, dan diplomat, di area khusus dan di barisan terdepan. Inspirasinya datang dari upacara Nevsky di Rusia, di mana kardinal, rektor, dan guru besar berada di posisi terdepan, diikuti oleh anggota dewan, berbeda dengan kebiasaan di Indonesia.
Bagi Conny, penempatan ini bukan sekadar masalah kehormatan, melainkan pengakuan terhadap peran mereka sebagai “penjaga perhadapan,” “penjaga nilai-nilai pemikiran dan kesadaran”. Mereka meraih gelar tersebut dengan usaha keras dan perjalanan panjang. “Mereka itu adalah penanggung jawab pengukir sejarah,” tegas Conny. “Para tokoh bangsa, para guru bangsa, para guru besar, para anggota dewan, diplomat, mereka itu manusia-manusia yang mengukir sejarah”. Ini adalah bentuk kesadaran akan pentingnya peran mereka dalam membentuk peradaban.
Buku kelima Profesor Conny ini lahir dari perjalanan spiritual dan intelektualnya. Ia ditawari menjadi guru besar di St. Petersburg State University, sebuah kehormatan besar, namun ia merasa berat ketika berpamitan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri. Di Rusia, ia melihat perbedaan negara yang berkesadaran atau tidak, dan bagaimana rakyat semua mendukung. Konsep awal buku ini mulai terbentuk sejak awal kedatangannya di Rusia. Momentum lain yang mempercepat penulisannya adalah kunjungannya ke VBOR, di mana ia mengamati mata air yang bebas diakses publik, dan membandingkannya dengan kondisi di Indonesia. Namun, dorongan terkuat datang ketika ia menghadap Ibu Megawati di bulan Soekarno (Juni), dan Ibu Megawati mengingatkannya pada sajak Soekarno tentang “negara paripurna” dan “Saya melihat Indonesia,” yang kemudian dimuat dalam bukunya.

Sepuluh Sabda Suci: Pilar Bangsa Berkesadaran
Dalam bukunya, Profesor Conny Rahakundini Bakrie merumuskan “10 sabda suci negara berkesadaran Rahakundini”. Sabda-sabda ini, yang disebut juga “10 commandments of Rahakundini”, menjadi panduan fundamental bagi pembentukan bangsa yang paripurna:
Engkau Harus Mencari Kebijaksanaan di Atas Segalanya: Pencarian akan pengetahuan, pemahaman, dan kebenaran adalah kompas, lebih tinggi dari emas dan kekuasaan.
Engkau Harus Menghormati Kesucian Semua Kehidupan: Setiap nafas adalah kudus; melukai kehidupan adalah mencabik tatanan Ilahi semesta.
Engkau Harus Memerintah dengan Keadilan dan Integritas: Kekuasaan adalah amanah suci untuk melayani, memimpin dengan kasih, keadilan, dan kebenaran, bukan kesombongan atau ketakutan.
Engkau Harus Menumbuhkan Persatuan dalam Keragaman: Perbedaan harus dirayakan sebagai benang dalam kain agung peradaban, karena dalam Yang Esa, semua menjadi banyak, dan dalam yang banyak berasal dari Satu.
Engkau Harus Menjadi Penjaga Damai dan Harmoni: Damai harus dimulai dari dalam diri dan menjalar ke bangsa, tetangga, dan dunia; keseimbangan adalah kekuatan, persatuan adalah kekuasaan, harmoni adalah jiwa peradaban.
Engkau Harus Menjunjung Tinggi Martabat dan Kebebasan Setiap Jiwa: Setiap makhluk lahir dengan kehormatan suci, kebebasan adalah hak melekat, dan menindas yang lain berarti menyangkal sifat Ilahi diri sendiri.
Engkau Harus Menjadi Penjaga Bumi dan Anugerahnya: Bumi adalah amanah untuk dirawat, dicintai, dan dilestarikan; setiap tindakan harus mencerminkan syukur atas tanah suci yang menopang langkah.
Engkau Harus Menerangi Jalan bagi Para Pemuda: Tuntunlah generasi muda dalam ilmu, kebijaksanaan, kesadaran, dan kasih; mereka bukan bejana untuk diisi, melainkan api untuk dinyalakan.
Engkau Harus Memilih Keberanian dan Cinta di Tengah Jalan Ujian: Saat badai datang, berdirilah dengan keberanian dan tanggapi dengan kasih; jiwa bangsa ditempa bukan dalam kenyamanan, melainkan dalam cara menderita dan menyembuhkan.
Engkau Harus Menghormati Keterkaitan Suci Antar Bangsa: Tidak satu pun bangsa berdiri sendiri; hormatilah jalinan keluarga dunia, biarlah diplomasi menjadi damai, perdagangan mewujud pada keadilan, dan kontribusi menjadi kemajuan bersama.

Epilog
Pemikiran Profesor Conny Rahakundini Bakrie, yang terangkum dalam “10 sabda suci,” menawarkan sebuah kerangka komprehensif bagi Indonesia untuk bergerak menuju “Negara Paripurna” dan “Conscious Nation.” Ini adalah seruan untuk introspeksi, untuk memenangkan “perang terhadap tiran dalam diri,” dan untuk membangun bangsa bukan di atas ambisi, melainkan di atas kesadaran, kebijaksanaan, dan kesatuan. Dengan menempatkan nilai-nilai luhur sebagai fondasi, dan dengan menghargai peran para penjaga peradaban, Indonesia dapat mengukir sejarah sebagai bangsa yang berdaulat dalam jiwa, merdeka, dan menjadi cahaya bagi peradaban dunia.**


Jakarta,20 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!