Oleh : Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.
Dalam update data
survey Nasional Majalah “Tempo” periode Agustus 2026 bertajuk “Data Science Tempo 2026”, PKB memiliki tingkat daya tahan elektoral paling tinggi diukur dari kesetiaan pemilihnya. Kesetiaan pemilih PKB sebesar 78%, diikuti PDIP 76% dan partai Golkar 75%.
Artinya, 78 % dari total pemilih PKB pada pemilu 2024 (10,2% atau 16 juta pemilih PKB ) secara nasional, meminjam judul lagu Hit Fatin Sidqiyah – “memilih “setia”, tidak tergoda berpindah “ke lain hati”, alias 78% pemilih PKB tetap akan memilih PKB sebagai pilihan politiknya dalam temuan survey nasional Majalah Tempo periode Agustus 2026.
Bagi analis politik yang tekun dan intens mengamati dinamika dan peta elektoral PKB – temuan “Data Science” Majalah Tempo di atas bukan hal baru dan tidak mengagetkan tetapi tentu menarik untuk menyegarkan kembali variabel variabel daya tahan elektoral PKB.
Data science Majalah “Tempo” tentang PKB di atas semacam penegasan ulang atas temuan data survey harian “Kompas” tahun 2022, satu tahun sebelum pemilu 2024 bahwa 78% pemilih PKB tetap “setia” menjadikan PKB sebagai identitas pilihan politiknya pada pemilu 2024, paling kuat di antara partai partai peserta pemilu lainnya.
Konsistensi, soliditas dan kesetiaan pemilih PKB dalam temuan dua media nasional sangat “kredibel” di atas, yakni Majalah “Tempo” (2026) dan harian “Kompas” (2022), dengan rentang waktu yang berbeda makin membenarkan apa yang dulu menjadi temuan lembaga survey “SMRC” – “Saeful Mujani Research and Cunsulting” tahun 2018
PKB dalam temuan riset “SMRC” (2018) adalah partai paling kuat memiliki daya ikat “party id” dalam persepsi “konstituensi” politiknya. “Party id”, singkatan dari”party identification”, sebuah alat ukur derajat komponen psyikhologis untuk mengukur kesetiaan pemilih terhadap sebuah partai berdasarkan riset prilaku pemilih.
Dalam tafsir penulis temuan data “Tempo” (2026) di atas mengaffirmasi bahwa terpilihnya KH Miftahul Akhyar sebagai Rois Am dan Gus Kikin sebagai ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke 35 lalu yang dipersepsi publik duet “kubu istana”, yakni tidak mewakili irisan politik PKB – tidak akan memiliki dampak defisit elektoral terhadap PKB.
Dengan kata lain, meskipun PKB dilahirkan “resmi” oleh PBNU tapi trend elektoral PKB dalam konstruksi analisis penulis tidak tergantung dinamika pergantian kepemimpinan struktural PBNU. PKB dan NU diikat oleh ekosistem sosial di mana relasi historis, ideologis dan aspiratif antara keduanya “bult in”, melampaui entitas strukturalnya.
Pertanyaannya di mana basis sosial pemilih setia PKB, satu satunya partai yang lahir dari rahim NU, dalam varian varian yang disebut “warga NU” sebesar 57 % oleh temuan survey “Alvara Research Centre” tahun 2025?
Pertama, warga NU yang disebut lembaga survey “Alvara” dengan istilah “Cultural Nahdliyin” – NU kultural,, dalam temuan survey ini sebesar 29, 62%. Varian ini kelompok warga NU paling besar
Indikator ke NU an varian warga NU dalam kelompok ini justru dalam temuan “Alvara” jarang sekali mengikuti kegiatan organisasi NU kecuali praktek keagamaannya dekat dengan tradisi kultural NU seperti tahlilan, zarah kubur, dll tapi “longgar” secara syariat.
Dalam antropologi politik varian “warga NU” kelompok ini dulu (1956) dalam temuan riset prilaku pemilih Clifford Geerzt lebih dekat disebut “pemilih abangan”, pemilih tradisonal partai partai nasionalis pada pemilu 1955).
Artinya, yang disebut warga NU dalam kelompok ini bukan komunitas sosial santri,, sulit digarap menjadi bagian dari basis konstituensi pemilih PKB, kecuali besar ongkos minim hasil – juga bukan basis sosial pemilih partai partai Islam lainnya.
Kedua, warga NU yang disebut dalam survey “Alvara” dengan i”Engaged Nahdiyin”, sebesar 18%, yakni kelompok yang relatif aktif mengikuti pengajian atau kegiatan yang diinisiasi NU (Muslimat, Fatayat, Ansor, kelompok bimbingan haji/umroh, kegiatan sosial dan pendidikan jaringan NU.
Dalam pilihan politik warga NU dalam varian kelompok ini bersifat “cair” tergantung perorganisasian partai secara berlapis dan insentif program kegiatan. PKB memiliki peluang menambah insentif elektoralnya dalam varian kelompok warga NU ini dengan kepiawaian adaptasi taktis secara politik
Ketiga, lapisan sosial warga NU yang disebut “core Nahdiyin”. Proporsinya sebesar 9,4%. Kelompok ini adalah para penggerak utama NU, aktivis penggerak badan badan otonom NU, jaringan alumni pesantren NU dan subkultur pesantren sebagai ekosistem sosial NU.
Warga NU dalam varian kelompok ini adalah basis konstituensi PKB relatif paling setia pilihan politiknya terhadap PKB betapa pun era disrupsi sosial , trend “techno populism” dan “personalisasi” manuver caleg dalam sistem “open list” makin terstruktur, sistemik dan massif.
Paparan di atas untuk menjelaskan bahwa apa yang disebut “warga NU” dalam tiga varian di atas sebesar 57% jelas sangat besar sebagai basis sosial pemilih tetapi preferensi pilihan politik mereka bersifat “cair”.
Mereka tidak bisa didikte oleh struktural NU, tergantung intensitas pengorganisasian partai secara berlapis dan tentu saja masih menyisakan varian varian ekosistem sosial pemilih secara antropologi
politik (santri, abangan, Priyayi) meskipun sekat sekat ideologisnya mulai mencair.
Dalam konteks proyeksi pemilu 2029, PKB memiliki basis pemilih setia pada kelompok warga NU varian ketiga dan berpeluang besar menaikkan insentif elektoral pada lapis warga NU kelompok kedua.
Kombinasi sasaran fokus kerja politik PKB pada dua lapis warga NU di atas akan membuka ruang bagi PKB untuk masuk jajaran tiga besar teratas peserta pemilu 2029 dengan proyeksi 15%.
Itulah peluang sekaligus tantangan PKB.
Wassalam.
Indramayu, 15 September 2026
——-
![]()
