REFLEKSI HARI DEMOKRASI INTERNASIONAL: KETIKA SUARA RAKYAT DIBELI DAN NURANI DIGADAIKAN

Refleksi Hari Demokrasi Internasional: Ketika Suara Rakyat Dibeli dan Nurani Digadaikan

*Oleh: Ali Aminulloh*

Pernahkah Anda membayangkan masa depan bangsa selama lima tahun ke depan ternyata ditukar hanya dengan selembar uang lima puluh ribu atau sepaket sembako di pagi hari pencoblosan?

Bayangan getir itulah yang menampar wajah kita hari ini. Tepat 15 September, dunia memperingati Hari Demokrasi Internasional. Momen untuk merayakan kedaulatan di tangan rakyat. Namun jujur saja, ketika berdiri di bilik suara, apakah kita benar-benar merasa berdaulat, atau justru sedang menyelesaikan transaksi jual-beli?

Demokrasi kita sedang tidak baik-baik saja. Ia menginjak fase pembusukan yang memilukan. Sistem yang seharusnya melahirkan pemimpin terbaik, justru berubah menjadi pasar gelap.

Politik uang bukan lagi rahasia umum, melainkan dianggap sebagai biaya wajib untuk menang. Ketika suap terhadap rakyat dianggap wajar, di situlah korupsi bermetamorfosis paling berbahaya: dari kejahatan menjadi budaya.

Dampaknya sederhana. Pemimpin yang naik lewat modal besar dan suap tidak akan pernah fokus melayani rakyat. Pikiran pertamanya adalah bagaimana mengembalikan investasi kampanye. Maka jangan heran jika korupsi, kolusi, dan nepotisme terus lahir dari rahim proses politik yang sejak awal cacat moral.

Sebagai bangsa beriman, kita tahu manusia dihadirkan sebagai khalifah, pemegang amanah untuk menjaga kedamaian dan menegakkan keadilan. Ketika rela menerima suap untuk memilih pemimpin yang salah, kita sedang mengkhianati amanah itu.

Padahal kita punya kompas moral sempurna: Pancasila. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengingatkan setiap langkah politik berada di bawah pengawasan Tuhan. Jika rasa takut pada Tuhan itu ada, akan lahir Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, hingga Musyawarah yang bersih. Ujungnya adalah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Persoalannya, apakah kompas itu masih kita pegang, atau sudah kita lempar demi amplop di hari pemilihan?

Demokrasi tanpa kompas moral hanya akan jadi prosedur hampa yang melegalkan keserakahan. Kita tidak bisa terus menyalahkan politisi korup jika kita sendiri masih mau dibeli. Kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Jadi saat pemilihan tiba nanti, pilihannya kembali pada Anda: terus menjual muru’ah bangsa, atau berdiri tegak menjaga nurani?


Indramayu, 15 September 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!