MUSIM KERING DAN BANJIR JALAN PILIHAN BAGI KELEDAI YANG MALANG BERULANG

*Musim Kering dan Banjir Jalan Pilihan Bagi Keledai Yang Malang Berulang*

Oleh : Jacob Ereste

Runtuhnya gunung es di Himalaya sejak 26 Agustus 2026 menyebabkan bencana bagi Negeri Nepal, China dan India. Sisi Utara Gunung Langtang Lirung. Nepal itu telah mengguncang warga dunia sadar bahwa alam harus diperlakukan dengan baik, seperti Anak Gunung Krakatau yang ada di bagian Selat Sunda yang menandai bahwa bumi ini sama dengan makhluk hidup lainnya merasa gerah akibat iklim ekstrim global memanas. Jadi runtuhnya gunung es di Nepal dan menggeliatnya Anak Gunung Krakatau harus disadari akibat dari perlakuan manusia terhadap kehidupan alam yang mengisyaratkan ketidakseimbangan sedang terjadi hingga sangat mengancam hidup dan kehidupan yang ada di bumi.

Muntahan Anak Gunung Krakatau bisa dibayangkan akibat dari rasa mual perut bumi yang harus menanggung beban di luar kemampuan daya tahannya. Seperti ketegaran Gunung Es Langtang Lirung di, Nepal yang tak mampu menahan panas bumi hingga hidup lemas seperti Mas Sukijan di Tangerang, Banten yang merasa kegerahan sejak sebulan silam, sehingga sulit tidur meski sudah menggunakan alat pendingan yang serba salah, karena ancaman masuk angin, kendati sudah disetel cukup rendah, sebab udara yang pengap di luar rumah memaksanya untuk menenggak minuman hingga mengganggu nafsu dan selera makannya jadi terganggu.

Dahulu, pada saat kemarau panjang pada kisaran 60 tahun silam di kampung kami, kemarau panjang seingat saya tidak cuma sekali terjadi seperti yang terjadi sekarang begitu ekstrim dan terasa melampaui batas. Kendati ketika itu kipas angin dan air conditioner belum bisa dinikmati seperti sekarang, Ibu selalu mengajak untuk mengguyur bagian badan dan kepala dengan air yang ditampung dalam kendi maupun buah labu kayu atau buah pohon Majapahit yang disebut Crescentia Cujete dalam bahasa asingnyw dapat dikreasi sedemikian rupa hingga dapat dijadikan sebagai wadah pengangkut air yang didulang dari dari sumur yang dibuat jauh di dalam hutan yang berada pada aliran sungai yang sudah mulai mengering saat di musim kemarau panjang seperti sekarang.

Labu kayu atau buah Gernuk ya g dibuang isi dalamnya hingga dapat dijadikan wadah penampung air yang bisa ditenteng ke mana-mana — karena memang relatif ringan jika pun sudah berusi air cuma kisaran 4 sampai 5 kilogram saja beratnya, kini sudah tidak lagi digunakan karena dianggap terlalu primitif dan tidak efisien dibanding ember plastik yang juga relatif murah harganya.

Dalam suasana kemarau panjang seperti sekarang, wadah penampung air yang terbuat dari nyah labu kayu atau gernuk tadi itu yang melengkapi upaya keluarga kami dahulu untuk mencari air yang jauh tempatnya dari rumah. Betapa berbedanya setelah 60-an tahun berlalu hingga sekarang, ketika perlu air bersih untuk keperluan rumah tangga, abak-anak bisa ngelencer ke depo pengisian air, atau langsung bisa memboyong air kemasan pabrikan yang sudah tersedia dalam bentuk instan yang bisa dibeli berikut galon — wadahnya — yang sudah dikemas dalam tampilan yang lebih beradab.

Sebagai orang kampung yang sempat ngelencer ke berbagai negeri tetangga hingga Eropa, betapa irinya rasa hati ini ketika bisa menyaksikan fasilitas air minum gratis sekaligus menikmati secara bebas yang disediakan oleh pemerintah setempat di ruang publik setidaknya sejak 30 tahun silam misalnya seperti di Bandara Changi, Singapura ketika itu sudah menjadi bagian dari pelayanan untuk publik yang dilakukan oleh pemerintah.

Mimpi yang mampu diwujudkan oleh pemerintah serupa pelayanan publik yang menyenangkan inilah yang terus mengganggu dan menggoda ketika membayangkan negeri kita yang selalu disebut genah ripah loh jinawi semacam dongeng yang menina-bobokkan bahwa negeri kita sedang menuju kembali pada masa kejayaan seperti itu, kendati saat kemerdekaan sudah nyaris seabab dilampaui.

Lantaran perkara air saja saat musim kemarau menimbulkan masalah asap yang sangat mengganggu, sementara saat musin pengujan terus banjir di mana-mana — terutama di kota besar — yang selayaknya sudah memiliki peradaban lebih manusiawi. Toh, realitasnya soal bencana terus berulang, seperti perjalanan keledai yang sudah melewati jalan yang sama, kembali tersandung ulang di lubang yang sama. Padahal, negeri kita bukan habitatnya keledai. **


Banten, 5 September 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!