MERENUNGKAN HAKEKAT HIDUP DAN KEHIDUPAN SEBELUM MATI

*Merenungkan Hakikat Hidup dan Kehidupan Sebelum Mati*

Oleh : Jacob Ereste

Perenungan sebagai pintu masuk dimensi alam spiritual yang maha luas. Karena itu, seorang kawan selalu memanfaatkan waktunya saat berlama-lama jongkok di atas toilet sambil menikmati buang hajat yang acap dia anggap sangat menakjubkan, saat mengalami buang hajat yang sangat sulit san krusial, atau saat mengumbar hajat itu seperti sedang menguras vak sampah yang sangat disadari cukup berbahaya bagi kesehatan. Dalam suasana permenungan serupa itulah ia pernah mengaku bisa memasuki wilayah kekuasaan Tuhan. Mulai dari merinci sejumlah makanan yang dia kunyah hingga memenuhi rongga perutnya, ada kekuasaan yang tentang tubuh manusia yang tidak mampu dikuasai oleh manusia pemiliki tubuh itu sendiri, karena jelas ada kekuasaan yang teratur mekanisme kerjanya yang hanya dimiliki oleh kekuasan dan otoritas Tuhan semata.

Saat jongkok membuang hajat fi toilet itulah dia mulai merinci jenis makanan apa saja yang dia lahap kemarin hingga malam harinya. Padahal, makanan yang paling selalu menjadi pilihan kedukaannya adalah bahan pangan lokal yang khas, mulai dari rendang jengkol, sambel teri pete serta seekor ikan sekitar 3 ons beratnya yang fia lahap. Tapi, dalam proses yang tidak pernah mampu dia bayangkan cara dari mekanisme kerja tubuhnya sendiri itu, bentuk dari ampas makanan yang terpapar di toilet itu nyaris sama wujudnya — kecuali sesekali agak keras hingga mengingatkan bagi dirinya untuk merinci adakah makanan yang dia makan sebelumnya ada suatu yang ganjil atau salah ?

Itulah pokok masalah yang sering sekali menjadi bahan perenungan dirinya yang selalu menghantar kontemplasi diri mengingat dan memuliakan Tuhan yang selalu hadir pada setiap mengalami suatu masalah hidup dan kehidupan yang dia lakoni sehari-hari. Dari pengalam spiritual seorang kawan yang cukup karin dan akrab ini, sungguh menggugah kesadaran terhadap pemahaman spiritual itu justru bisa lebih dipahami dengan cara dan sikap yang paling sederhana, namun serius menyentuh esensi masalah untuk memahami diri sendiri yang lebih bersifat substantif, bahwa kesadaran dan pemahaman spiritual itu sesungguhnya perjalan memasuki ke kedalaman batin sendiri, tidak perlu melakukannya di luar, baik dalam arti yang sebenarnya maupun dalam bentuk simbolik, sebab semua yang berada di luar itu sekedar untuk memperkaya atau memperluas wilayah jelajah, atau bahkan semacam rekreasi untuk menyegarkan batin atau jiwa agar tidak meranggas.

Dalam konteks pemahaman dan keyakinan kepercayaan dan kebatinan yang tumbuh subur di Nusantara ini, keyakinan tentang kepercayaan dan kebatinan dapat dimengerti sebagai suatu pemahaman yang bertumbuh dari akar budaya dan tradisi suku bangsa Nusantara seperti Kapitayan , Sunda Wiwitan, Parmalim, Alok To Dolo, Tolotang, Kaharingan yang masih tetap diyakini oleh sebagian suku bangsa dari berbagai daerah tersebut. Intinya ialah kepercayaan terhadap adat, hukum agama dan moralitas sebagai pegangan hidup dan harga diri.

Agama dan kepercayaan tradisi suku bangsa Nusantara sungguh unik dan khas sangat kuat dengan sistem spiritual jauh sebelum agama-agama besar datang ke Nusantara telah yang melakukan melakukan upacara ritual, termasuk perenungan, kontemplasi untuk memahami dan menghayati kekuasaan Tuhan terhadap jagat raya dan seisinya, termasuk manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang terpilih dan paling mulia dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain, tidak kecuali dibanding dengan malaikat sebagai makhluk paling suci dan sangat taat kepada perintah dan hukum Tuhan.

Atas dasar itulah perenungan, permenungan dapat menjadi kunci pembuka pintu batin atau gerbang jiwa untuk dijelajahi panorama indahnya yang menakjubkan. Sehingga segenap kebesaran serta kekuasaan atas diri manusia yang paling hebat sekalipun sesungguhnya tetap berada di dalam kekuasaan Tuhan. Apalagi untuk mereka yang zalim, penindas, pemeras sekaligus otoriter dan korup yang cuma mementingkan dirinya. Sehingga perenungan dan permenungan tentang eksistensi diri perlu dikoreksi untuk memahami bahwa hidup dan kehidupan bukan miliki dari diri kita sendiri. Sebab Tuhan ada di dalam batin dan ruh setiap manusia yang pasti kelak akan mati.**


Banten, 1 September 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!