Dari Kota Yogyakarta untuk Al-Zaytun: Pendidikan, Perdamaian, dan Seni Pelunak Benci
Oleh : Ali Aminulloh
Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun memperingati hari jadinya yang ke-27 dengan menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, budayawan, rohaniawan, dan guru besar. Dari Yogyakarta, datang sebuah persembahan yang tidak biasa: lukisan yang dibuat dengan menggunakan kopi dari Al-Zaytun. Karya itu bukan sekadar hadiah, melainkan simbol bahwa pendidikan, kebudayaan, dan seni dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan perdamaian.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Haryadi Baskoro, M.Hum., pakar Keistimewaan Yogyakarta. Ia membuka sambutannya dengan pekik kebangsaan yang disambut penuh semangat oleh para hadirin.
“Merdeka! Sekali lagi merdeka! Sekali lagi merdeka!”
Haryadi hadir mewakili jaringan akademisi, budayawan, dan rohaniawan Yogyakarta yang sejak 2024 memberikan apresiasi dan dukungan kepada Al-Zaytun. Ia juga membawa salam hormat dari Prof. Jagal Waseso, Prof. Sutrisna Wibawa, Prof. Bramantyo, Pendeta Yusuf Langke, Onwin, Yopi, serta para sahabat Al-Zaytun di Yogyakarta.
“Sejak 2024, kami dari Jogja melihat ada terang Tuhan di tempat ini,” ungkapnya.
Pandangan tersebut melahirkan sejumlah kerja kebudayaan dan intelektual. Pada 2024, jaringan Yogyakarta mendukung pengembangan Ensiklopedia Digital Toleransi dan Perdamaian. Program tersebut dirancang tidak hanya untuk kemajuan Al-Zaytun, tetapi juga sebagai sumbangan pemikiran bagi Indonesia.
Setahun kemudian, pada 2025, mereka kembali datang membawa karya buku berjudul Menjadi Indonesia di Ma’had Al-Zaytun. Buku itu menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan nilai kebangsaan, kemajemukan, toleransi, dan perdamaian yang tumbuh dalam kehidupan Al-Zaytun.
Pada 2026, kerja intelektual tersebut dilanjutkan melalui penyusunan buku yang mengkaji Al-Zaytun sebagai pusat atau basis ketahanan nasional Republik Indonesia. Buku itu tengah dipersiapkan bersama Prof. Jagal Wiseso Marseno, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada yang juga pernah aktif di Lemhannas. Karya tersebut direncanakan diperkenalkan pada November, bertepatan dengan momentum Hari Toleransi Internasional.
Dalam peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun, Haryadi membawa tiga pesan utama dari kalangan akademisi, budayawan, pendidik, rohaniawan, dan seniman Yogyakarta.
Pesan pertama berkaitan dengan ketahanan bangsa. Haryadi mengingatkan bahwa Yogyakarta pernah menjadi benteng pertahanan Republik Indonesia. Pada 1946 hingga 1949, ketika keadaan negara berada dalam situasi genting, Yogyakarta tampil sebagai ibu kota Republik Indonesia. Karena peran historis itulah Yogyakarta dikenal sebagai Kota Republik.
Menurut Haryadi, Indonesia saat ini juga sedang menghadapi berbagai persoalan kebangsaan. Dalam situasi tersebut, Al-Zaytun diharapkan mengambil peran sebagai salah satu pusat penguatan republik melalui pendidikan, kebudayaan, toleransi, perdamaian, dan ketahanan nasional.
“Al-Zaytun akan menjadi pusat republik, benteng pertahanan Indonesia untuk seribu tahun,” tegasnya.
Benteng yang dimaksud bukan sekadar bangunan fisik. Benteng tersebut adalah manusia yang berilmu, berkarakter, mencintai bangsanya, menghormati perbedaan, serta memiliki kesiapan menghadapi perubahan zaman. Ketahanan negara, dalam pandangan ini, harus dimulai dari ketahanan manusia yang dibentuk melalui pendidikan.
Pesan kedua adalah pentingnya menjadikan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Haryadi menjelaskan bahwa para pendidik di Yogyakarta, bersama Sri Sultan, sedang mengembangkan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Pendidikan tersebut diarahkan untuk melahirkan manusia unggul yang memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akar kebudayaan yang kuat.
Ia berharap konsep pendidikan karakter berbasis nilai budaya lokal dapat dikembangkan di setiap daerah di Indonesia. Setiap daerah memiliki kekayaan tradisi, bahasa, seni, dan kebijaksanaan yang dapat menjadi sumber pembentukan karakter peserta didik.
Al-Zaytun dipandang sebagai tempat yang tepat untuk mengembangkan gagasan tersebut karena kehidupan Nusantara hadir di dalamnya. Para pelajar datang dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang beragam, tetapi dipersatukan dalam kehidupan pendidikan yang sama.
“Nusantara ada di Ma’had Al-Zaytun,” katanya.
Pesan ketiga datang dari kalangan seniman Yogyakarta. Haryadi mengapresiasi berkembangnya kegiatan seni di Al-Zaytun, mulai dari seni suara, angklung, hingga gamelan. Baginya, seni bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki kekuatan untuk menghaluskan perasaan dan mendekatkan manusia.
Ia kemudian mengingatkan kembali pesan Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak Raden Ajeng Kartini, yang pernah disampaikan kepada Bung Karno pada 1932.
“Bung, jangan sekali-kali meninggalkan seni, sebab seni itu pelunak rasa benci.”
Pesan tersebut terasa relevan di tengah kehidupan masyarakat yang mudah terpecah oleh perbedaan. Seni dapat mempertemukan manusia tanpa harus terlebih dahulu menanyakan agama, suku, golongan, ataupun pandangan politiknya. Melalui seni, ketegangan dapat dilunakkan dan rasa persaudaraan dapat ditumbuhkan.
Sebagai simbol dukungan itu, Haryadi bersama Andreas, kandidat profesor dari Universitas Kristen Duta Wacana, dan Hirman menyerahkan sebuah lukisan karya Rudi Winarso kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Lukisan tersebut dibuat dengan bahan yang sangat khas, yakni kopi yang berasal dari Al-Zaytun.
Kopi yang biasanya diseduh menjadi minuman, di tangan seorang seniman berubah menjadi warna dan garis yang menghadirkan makna. Persembahan itu meneguhkan pesan bahwa sesuatu yang sederhana dapat menjadi karya bernilai ketika disentuh kreativitas dan rasa kemanusiaan.
Lukisan dari kopi tersebut sekaligus menjadi lambang perjalanan Al-Zaytun. Sebagaimana butiran kopi dapat menjelma menjadi karya seni, pendidikan juga dapat mengubah keragaman menjadi kekuatan, perbedaan menjadi harmoni, dan tantangan menjadi jalan menuju kemajuan.
Peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun akhirnya bukan sekadar perayaan perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Momentum tersebut menjadi pertemuan antara sejarah republik, investasi pendidikan, penguatan karakter, kebudayaan Nusantara, dan seni yang menumbuhkan perdamaian.
Dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, pendidikan berkualitas harus terus diperbesar dan diperkuat. Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter, berbudaya, toleran, serta mampu merawat kehidupan bersama.
Pesan Haryadi Baskoro dari Yogyakarta tetap kuat: republik tidak hanya dipertahankan dengan kekuatan fisik, tetapi juga dengan pendidikan yang mencerdaskan, budaya yang mengakar, dan seni yang melunakkan rasa benci.
Indramayu, 30 Agustus 2026
![]()
