JADILAH SEPERTI MATAHARI: PESAN PETER BUDIONO PADA 27 TAHUN AL ZAYTUN

Jadilah Seperti Matahari: Pesan Peter Budiono pada 27 Tahun Al-Zaytun

Oleh Ali Aminulloh

Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun menyelenggarakan peringatan ulang tahun ke-27. Perhelatan itu bukan hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga mempertemukan sejumlah tokoh, akademisi, dan para guru besar yang turut menyemarakkan acara. Di antara berbagai sambutan yang disampaikan, pesan Kiai Peter Budiono Setiawan tampil seperti cahaya pagi: tenang, hangat, tetapi menjangkau jauh ke masa depan. “Jadilah seperti matahari,” pesannya.

Peter, sahabat Syaykh Al-Zaytun dari Kanada, berdiri di hadapan para pemimpin dan pendidik dengan kesadaran yang sangat personal. Hari itu usianya 73 tahun. Ia tidak membuka sambutan dengan rangkaian pujian seremonial. Ia justru menyampaikan pengalaman batinnya ketika berada di Al-Zaytun.

“Ini kehormatan besar buat saya. Di tempat ini saya merasakan ketenteraman dan kedamaian,” tuturnya.

Ketenteraman itu menjadi pintu masuk menuju renungan yang tidak biasa. Peter memulai kisahnya dari sebuah surat elektronik yang diterimanya dari Chan Zuckerberg Initiative, lembaga yang didirikan Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan. Dalam surat tersebut, ia membaca perkembangan penelitian protein sebagai bagian dari ikhtiar ilmu pengetahuan untuk memahami kehidupan dan menemukan jalan keluar bagi berbagai penyakit manusia.

Bagi Peter, kemajuan selalu berawal dari keberanian bertanya dan kesediaan untuk terus belajar. Rasa ingin tahu itulah yang kemudian membawanya menggunakan Grok, kecerdasan buatan yang ia jadikan sebagai teman bertanya. Mula-mula ia menelusuri keterkaitan biologis antara lalat buah dan manusia. Setelah itu, pertanyaannya beralih: bagaimana Ma’had Al-Zaytun dimulai?

Dalam hitungan detik, menurut ceritanya, layar menampilkan jawaban ringkas mengenai perjalanan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang dan lahirnya Al-Zaytun. Namun, kecepatan mesin bukanlah inti kisah yang hendak disampaikan Peter. Kecerdasan buatan memang dapat merangkum sejarah dalam beberapa baris, tetapi di balik baris-baris itu terdapat perjalanan manusia yang panjang, kerja keras yang sunyi, serta pengorbanan yang tidak selalu tercatat.

Peter menuturkan jejak perjalanan Syaykh dari Gresik, bekerja di Sabah, menabung, kemudian kembali ke tanah air untuk mewujudkan cita-citanya.

“Uang simpanan hasil tabungan itu tidak mungkin terbentuk tanpa daya upaya, kesabaran, dan disiplin. Tidak mungkin,” tegasnya.

Sepulang ke Indonesia, pembangunan dimulai dari tanah rawa yang, menurut penuturan Peter, ketika itu dibeli dengan harga yangvsangat murah. Orang lain mungkin hanya melihat lumpur, genangan, dan keterbatasan. Namun, sebuah visi mampu melihat kemungkinan. Di situlah Peter menemukan kecerdasan pembangunan: keberanian membaca nilai masa depan dari sesuatu yang pada mulanya dipandang tidak bernilai.

Dengan dukungan para ahli, ilmuwan, dan yayasan, lahan tersebut perlahan berubah menjadi ruang peradaban. Berdiri Masjid Rahmatan lil ‘Alamin sebagai pusat peribadatan, gedung-gedung pendidikan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi, asrama, penginapan, serta lapangan olahraga. Kini, pembangunan pendidikan vokasi melalui politeknik juga terus disiapkan.

Yang tumbuh bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah ekosistem untuk belajar, hidup bersama, berdisiplin, dan menatap dunia. Perubahan dari rawa menjadi kampus pendidikan merupakan metafora paling terang dari perjalanan Al-Zaytun. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah vonis.

Ketika visi dipertemukan dengan kerja tekun, tanah yang sunyi dapat menjadi tempat tumbuhnya ilmu. Tabungan yang dikumpulkan dengan disiplin dapat menjelma menjadi lembaga. Mimpi yang semula dianggap terlalu jauh pun dapat menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata.

Peter tidak menutup mata terhadap berbagai rintangan. Ia menyadari bahwa kawasan yang dahulu berupa rawa dan belantara tidak mungkin dibangun tanpa menghadapi masalah. Namun, ia mengajarkan sikap yang lebih penting daripada sekadar mengeluhkan kesulitan.

“Itulah hidup. Mengalir terus. Jangan bilang tidak ada kendala, pasti ada. Tapi pasti ada solusinya,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tetapi memuat etos sebuah perjuangan: masalah harus dihadapi, dipahami, dan diselesaikan sambil terus bergerak. Sebab, kehidupan tidak pernah berhenti hanya karena manusia berhadapan dengan hambatan.

Dari sejarah perjalanan Al-Zaytun, Peter kemudian mengajak hadirin memandang masa depan. Ia menyinggung kemajuan teknologi ruang angkasa, jaringan satelit Starlink, serta ambisi manusia untuk terus memperluas batas pengetahuan. Ia menangkap sebuah jawaban pendek mengenai masa depan: “You will see”: kita akan melihatnya.

Pesannya bukan semata-mata tentang satelit atau kemungkinan manusia hidup di planet lain, melainkan tentang keberanian membayangkan sesuatu yang hari ini belum terlihat. Pendidikan, dalam pandangannya, harus menyiapkan manusia untuk menghadapi dunia yang terus berubah.

Lalu datanglah pesan yang paling membekas.

“Jadilah seperti matahari.”

Matahari, ujarnya, hadir setiap pagi. Cahayanya membuat kehidupan bergerak, bunga-bunga bermekaran, dan burung-burung berkicau. Ia juga menggambarkan jantung yang bekerja tanpa henti memompa darah setiap hari. Matahari dan jantung tidak mencari tepuk tangan. Keduanya menjalankan peran dengan setia agar kehidupan terus berlangsung.

Di situlah pendidikan menemukan etika terdalamnya: bekerja secara konsisten, memberi manfaat, dan menghidupkan lingkungan tanpa sibuk menagih pengakuan. Matahari tidak pernah memilih siapa yang boleh menerima cahayanya. Pesan tersebut sejalan dengan nilai cinta dan toleransi yang, menurut Peter, diajarkan sekaligus diperlihatkan dalam kehidupan Al-Zaytun.

Kepada komunitas Al-Zaytun, Peter menyampaikan penghargaan sekaligus tanggung jawab.

“Kalian adalah satu komunitas yang sangat beruntung, dapat merasakan, menikmati, dan menyaksikan perjuangan seseorang yang tanpa pamrih,” katanya.

Keberuntungan itu tidak seharusnya menjadikan mereka sekadar penonton. Mereka adalah penerus yang ditantang mengubah keteladanan menjadi karya. Mereka harus melanjutkan perjuangan dengan pengetahuan, keterampilan, kedisiplinan, serta keberanian menghadapi perubahan zaman.

Peter menaruh harapan besar kepada generasi yang tumbuh di Al-Zaytun. Ia meyakini akan lahir insan yang mampu membawa Indonesia ke gelanggang persaingan dunia: dalam perdagangan, olahraga, dan inovasi, sekaligus menguatkan negeri ini sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Harapan itu bukan ramalan yang membuat orang cukup menunggu. Ia merupakan panggilan untuk menyiapkan pengetahuan, watak, keterampilan, dan keberanian sejak sekarang.

Menjelang akhir sambutannya, suara syukur terasa semakin kuat. Karena cinta dan toleransi yang dirasakannya, Peter menyampaikan keinginan untuk bersujud syukur. Ia bahkan mengatakan bahwa kesempatan berbicara di hadapan para pemimpin dan pendidik itu mungkin menjadi kesempatan terakhirnya.

Ia menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih berulang kali. Ungkapan sederhana dari seseorang yang merasa telah menerima kehormatan besar.

Ulang tahun ke-27 Al-Zaytun akhirnya bukan sekadar penanda perjalanan waktu. Ia menjadi pengingat bahwa rawa dapat diubah menjadi ruang belajar, tabungan menjadi lembaga, rintangan menjadi jalan, dan rasa syukur menjadi energi pengabdian.

Dari Peter Budiono, tersisa sebuah pesan sederhana, tetapi bermakna besar: jadilah seperti matahari. Terus bekerja, terus memberi, dan terus menyalakan masa depan.

Jika cahaya itu terus dirawat, perjalanan Al-Zaytun tidak akan berhenti pada usia 27 tahun. Ia akan hidup dalam setiap insan yang membawa cinta, toleransi, ilmu pengetahuan, dan keberanian Indonesia ke pentas dunia.**


Indramayu, 29 Agustus 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!