Dari Menjual Pisang hingga Menembus Omzet Rp12,7 Miliar


Dari Menjual Pisang hingga Menembus Omzet Rp12,7 Miliar

( Kisah Alumni Al-Zaytun Membangun Handeuleum Farm dari Kampung )

Oleh : Ali Aminulloh

Rabu, 12 Agustus 2026. Malam turun perlahan di kaki Gunung Handeuleum. Udara Cibungbulang terasa sejuk, membawa aroma rerumputan, tanah, dan kandang ternak. Dari kejauhan terdengar suara kambing dan domba bersahutan. Di tempat inilah saya berkesempatan menginap: bukan sekadar untuk beristirahat, melainkan untuk menyaksikan sebuah ikhtiar besar yang tumbuh dari keberanian, ketekunan, dan kecintaan kepada kampung halaman.

Namanya Handeuleum Farm, sebuah kawasan pertanian dan peternakan yang berada di Blok Sindangsari, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Kawasan seluas kurang lebih 8,5 hektare ini dikelola oleh Husnul Muttakien, alumni Al-Zaytun angkatan kedua.

Nama Handeuleum diambil dari nama gunung dan kampung tempat usaha itu tumbuh. Dalam bahasa Sunda, handeuleum merujuk pada warna hitam atau gelap. Namun, di balik warna gelapnya, tanaman handeuleum justru dikenal memiliki khasiat sebagai obat.

Filosofi itulah yang seolah menggambarkan perjalanan Husnul. Masa-masa gelap tidak selalu berarti akhir. Jika dihadapi dengan ketekunan, pengetahuan, dan keberanian, kesulitan justru dapat berubah menjadi kekuatan yang menyembuhkan dan menghidupkan harapan.

Dari Ruang Kelas Menuju Lahan Pertanian

Husnul bukanlah orang yang sejak awal meniti jalan sebagai pengusaha peternakan. Setelah lulus dari Al-Zaytun pada 2006, ia melanjutkan perjalanan pengabdian di bidang pendidikan. Ia pernah menjadi guru di Al Zaytun selama lima tahun, kepala Pendidikan Anak Usia Dini selama dua tahun, serta kepala SMA Nurul Falah selama lima tahun di Tasikmalaya.

Latar belakangnya sebagai pendidik membentuk cara berpikirnya dalam mengelola usaha. Baginya, pertanian dan peternakan bukan hanya urusan menanam, memelihara, lalu menjual. Semuanya membutuhkan pengetahuan, kedisiplinan, kesabaran, dan proses pembelajaran yang tidak pernah berhenti.

Pada 2013, Husnul mulai menggarap lahan sekitar dua hektare. Dari luas tersebut, kurang lebih 6.000 meter persegi merupakan lahan milik sendiri, sedangkan sebagian lainnya diperoleh melalui sistem gadai. Ia menanam nanas, jeruk, pepaya, cabai, dan beberapa tanaman lainnya.

Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Sebagian lahan keluarga pernah tergadai untuk memenuhi kebutuhan persalinan. Keadaan tersebut tidak membuat Husnul menyerah. Ia justru bekerja lebih keras agar tanah itu dapat kembali kepada keluarga.

Tahun 2021 menjadi titik penting. Lahan yang sebelumnya tergadai akhirnya berhasil dibebaskan. Pada 14 Maret 2021, Handeuleum Farm mulai dibangun dan dikelola secara lebih serius. Pada masa awal, Husnul bekerja bersama orang tuanya. Mereka memulai usaha dari sesuatu yang sangat sederhana: menjual pisang.

Tidak ada kantor besar. Tidak ada modal berlimpah. Yang ada hanyalah lahan, tenaga, keberanian mengambil risiko, dan keyakinan bahwa hasil bumi akan memberikan kehidupan kepada mereka yang bersedia merawatnya.

Menjaga Keanekaragaman Hayati

Kini, Handeuleum Farm berkembang menjadi kawasan usaha terpadu. Di dalamnya terdapat kebun buah, lahan hortikultura, hamparan rumput pakan, serta kandang sapi, kambing, domba, dan ayam petelur.

Kebunnya ditanami sekitar 100 pohon durian, 15 pohon manggis, serta beragam tanaman buah lokal seperti kupa, alkesa, kemang, jamblang, namnam, sukun, jengkol, leci, pepaya, cempedak, pisang tanduk, dan pisang raja bulu.

Pilihan menanam beragam jenis buah memperlihatkan bahwa kebun ini tidak hanya diarahkan untuk mengejar hasil ekonomi jangka pendek. Ada upaya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus melestarikan buah-buahan lokal yang mulai jarang ditemukan.

Pada sektor hortikultura, Handeuleum Farm mengembangkan jagung, kacang-kacangan, mentimun, padi, dan berbagai komoditas pertanian lainnya. Rumput pakan juga ditanam untuk mendukung kebutuhan ternak agar usaha peternakan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar.

Dari Lima Kambing Menjadi Ribuan Ternak

Peternakan Handeuleum Farm berawal dari lima ekor kambing jawa. Dari jumlah yang sangat kecil itu, populasi ternak terus berkembang. Kini kawasan tersebut memiliki tiga kandang sapi dengan kapasitas sekitar 50 ekor, 22 kandang domba, kandang kambing, serta unit pemeliharaan ayam petelur.

Pada 2024, Husnul telah memiliki sekitar 86 induk domba Garut. Setahun kemudian, pengembangan usaha semakin diarahkan pada pembiakan atau breeding domba Garut. Langkah ini penting karena usaha peternakan tidak hanya bergantung pada jual beli ternak, tetapi juga memiliki kemampuan menghasilkan bibit sendiri.

Kesehatan ternak menjadi perhatian utama. Semua ternak memperoleh vaksinasi dan vitamin secara berkala. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh dilakukan setiap tiga bulan dengan melibatkan tim kesehatan ternak.

Di balik seluruh kegiatan tersebut terdapat sedikitnya 25 orang karyawan. Mereka bekerja pada berbagai bidang, mulai dari pemeliharaan kebun, penyediaan pakan, perawatan kandang, kesehatan ternak, hingga distribusi dan pemasaran.

Manajemen usaha juga telah dibagi ke dalam sejumlah wilayah. Terdapat lima manajer area yang mengelola jaringan usaha di Tasikmalaya, Cibungbulang, Pamijahan I, Pamijahan II, dan Gunung Bunder. Dari sebuah usaha keluarga, Handeuleum Farm perlahan tumbuh menjadi jaringan agribisnis yang terorganisasi.

Lima Pasar, Lima Jalan Kebermanfaatan

Keberhasilan usaha peternakan bukan hanya ditentukan oleh banyaknya ternak, tetapi juga oleh kepastian pasar. Husnul memahami bahwa peternak akan sulit berkembang jika hanya mampu memelihara, tetapi tidak mengetahui ke mana hasil ternaknya akan dijual.

Karena itu, Handeuleum Farm membangun sedikitnya lima jalur pemasaran.

Pasar pertama adalah petani atau peternak yang membeli ternak untuk dipelihara dan dikembangbiakkan. Pasar kedua adalah kebutuhan akikah, dengan permintaan berkisar lima hingga sepuluh ekor per hari.

Pasar ketiga adalah pasar ternak potong di Jatiasih, Bekasi. Ke pasar ini, rata-rata sekitar 100 ekor ternak dipasarkan setiap pekan.

Pasar keempat adalah kebutuhan Iduladha. Pada 2026, jaringan Handeuleum Farm mencatat pemasaran sekitar 4.200 ekor kambing dan domba serta 318 ekor sapi. Ternak tersebut didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia. Handeuleum Farm juga dipercaya menjadi vendor atau mitra penyedia hewan kurban bagi lembaga-lembaga nasional, antara lain Bank Mandiri Pusat, Dompet Dhuafa, dan Badan Amil Zakat Nasional.

Hubungan dengan lembaga filantropi sesungguhnya telah dirintis sejak 2014. Saat itu, Husnul memenuhi kebutuhan hewan kurban melalui pola perdagangan dengan menghimpun ternak dari para peternak. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun jaringan pemasaran yang lebih luas.

Pasar kelima berkaitan dengan program ketahanan pangan desa. Handeuleum Farm terlibat dalam pengadaan kambing dan domba bagi masyarakat di lima kecamatan di Kabupaten Bogor, mencakup 12 desa. Kegiatannya tidak berhenti pada penjualan indukan. Tim Handeuleum Farm juga memberikan pendampingan pemeliharaan dan membantu pemasaran hasil ternak masyarakat.

Kini, populasi ternak yang dikembangkan bersama masyarakat pada 12 desa tersebut telah mencapai sekitar 850 ekor. Pola ini menjadikan Handeuleum Farm bukan hanya sebagai perusahaan penjual ternak, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat perdesaan.

Menumbuhkan Usaha, Menghidupkan Desa

Perjalanan bisnis Husnul sebenarnya telah dirintis jauh sebelum Handeuleum Farm berdiri. Melalui PT Agroe Jaya Satria, ia pernah mengembangkan perdagangan dan ekspor jahe pada 2014. Pengalaman itu mengajarkannya tentang pentingnya membaca kebutuhan pasar, menjaga kualitas komoditas, dan membangun kepercayaan dengan mitra.

Kini, seluruh unit usaha yang dikembangkan mencatat omzet sekitar Rp12,7 miliar per tahun (2026). Angka itu tentu membanggakan. Namun, nilai terbesar Handeuleum Farm bukan semata-mata terdapat pada besarnya omzet atau banyaknya ternak.

Nilai terbesarnya terletak pada lapangan kerja yang tercipta, para peternak yang memperoleh kepastian pasar, desa-desa yang mendapatkan pendampingan, serta tumbuhnya keyakinan bahwa usaha besar dapat dibangun dari kampung.

Husnul membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu berujung di balik meja. Ilmu dapat dibawa ke kebun, kandang, pasar, dan tengah masyarakat. Pengalamannya sebagai guru tetap hidup dalam cara ia mendampingi para peternak. Bedanya, ruang kelasnya kini jauh lebih luas: hamparan kebun, kandang-kandang ternak, dan desa-desa yang sedang belajar mencapai kemandirian.

Handeuleum Farm juga memperlihatkan bahwa regenerasi petani dan peternak tidak cukup dilakukan dengan ajakan. Generasi muda memerlukan contoh nyata bahwa sektor pertanian dapat dikelola secara modern, profesional, sehat, dan menguntungkan.

Ketika banyak anak muda meninggalkan desa untuk mencari kehidupan di kota, Husnul justru kembali ke kampung dan membangun masa depan dari tanahnya sendiri. Ia tidak hanya menciptakan pekerjaan bagi dirinya, tetapi juga membuka penghidupan bagi orang lain.

Malam semakin larut di Handeuleum Farm. Suara ternak masih sesekali terdengar dari kandang. Di tempat yang namanya berarti gelap itu, saya justru melihat cahaya: cahaya keberanian untuk memulai, keteguhan untuk bangkit, dan keyakinan bahwa kemandirian pangan Indonesia dapat ditumbuhkan dari desa.

Semuanya bermula dari langkah kecil: mengolah sebidang tanah, memelihara lima ekor kambing, dan menjual setandan pisang. Namun, ketika langkah kecil itu dijalani dengan ilmu, kerja keras, dan keberanian, ia dapat berkembang menjadi gerakan ekonomi yang menghidupkan ribuan harapan.**

Indramayu, 13 Agustus 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!