*Menuju Kedewasaan Umat Manusia di Tengah Carut Marut Tatanan Kehidupan*
Oleh: [Wari Wicatman]
Redaktur Jayanews.com
Dunia hari ini sedang sakit. Bukan karena kurang teknologi. Bukan karena kurang pintar. Kita punya AI, roket ke Mars, dan obat untuk penyakit yang dulu mematikan. Tapi di saat yang sama, kita masih gagal menyelesaikan hal paling dasar: hidup rukun.
Perang masih ada. Kemiskinan masih ada. Hoaks lebih cepat dari fakta. Kepercayaan pada pemimpin, lembaga, bahkan pada sesama manusia terus runtuh. Rasanya seperti kita hidup di tengah pasar yang gaduh, semua teriak, tapi tidak ada yang benar-benar mendengar.
Mungkin ini saatnya kita bertanya: sudah dewasakah umat manusia?
Kedewasaan bukan soal tahun. Peradaban kita sudah ribuan tahun, tapi pola pikirnya masih seperti remaja. Remaja itu egois, emosional, maunya menang sendiri, dan belum mau memikul tanggung jawab. Buktinya? Kita masih sibuk menyalahkan “mereka” ketika “kita” juga ikut andil dalam masalah.
Kedewasaan kolektif hanya bisa lahir dari 3 hal.
*Pertama, lepas dari prasangka.*
Manusia dewasa sadar bahwa tidak ada “mereka”. Yang ada hanya “kita”. Nasib petani di Indramayu, buruh di pabrik, nelayan di Karangsong, dan pengusaha di Jakarta, semua ada di satu perahu. Jika satu bocor, semua tenggelam. Prasangka agama, ras, dan bangsa adalah mainan anak-anak yang harus kita tinggalkan.
*Kedua, menyatukan ilmu dan nurani.*
Sains tanpa hati melahirkan bom dan eksploitasi. Agama tanpa akal melahirkan fanatisme. Ekonomi tanpa keadilan melahirkan jurang. Manusia dewasa adalah yang berani memakai akal untuk berpikir, dan hati untuk merasakan.
*Ketiga, bergeser dari menuntut hak ke memikul kewajiban.*
Remaja bertanya “apa yang saya dapat?”. Orang dewasa bertanya “apa yang bisa saya berikan?”. Saat setiap kita mulai dari rumah, RT, desa, untuk melayani bukan menguasai, maka tatanan akan berubah dari bawah.
Carut marut hari ini bukanlah akhir. Ia adalah “rasa sakit melahirkan”. Sama seperti anak yang mau lahir pasti membuat ibunya kesakitan dulu. Krisis iklim, perang informasi, runtuhnya moral, semua ini memaksa kita memilih: tetap bertengkar seperti anak kecil, atau duduk bersama seperti orang dewasa.
Kedewasaan tidak akan turun dari langit. Ia dibangun setiap hari. Dari guru yang mengajarkan toleransi. Dari pemimpin yang jujur. Dari kita yang memilih memadamkan kebencian di kolom komentar, bukan menyulutnya.
Mungkin kita tidak akan melihat “dunia baru” itu selesai di masa hidup kita. Tapi anak cucu kita akan mewarisinya. Dan karena itulah, kita wajib memulai prosesnya sekarang.
Karena matahari pasti terbit setelah malam paling gelap. Dan kedewasaan umat manusia, adalah fajar itu.
Indramayu, Minggu 9 Agustus 2026.
——–
![]()
