*MENGUKUR PELUANG GUS YAHYA JIKA KETUA UMUM PBNU DIPILIH LANGSUNG*
Oleh : Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.
Jika sistem pemilihan Ketua Umum PBNU tetap “dipilih langsung”, artinya dipilih ketua PWNU & PCNU – seberapa besar peluang Gus Yahya terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 35 Agustus 2026 mendatang ?
Dalam tradisi Muktamar NU sependek ingatan penulis, posisi “incumbent” sejak KH Idham Kholid, Gus Dur, KH Hasyim Muzadi dan KH Said Aqil Siradj – selalu terpilih untuk kedua kalinya, bahkan hingga tiga kali.
Tapi dalam konteks Gus Yahya tampaknya ia sulit terpilih kembali dalam Muktamar NU ke 35 setidaknya dibaca dari beberapa faktor terkait pergeseran peta dan simpul berikut ini :
Pertama, Gus Yahya kehilangan “faktor” Gus Yaqut, adik kandungnya yang dipasang Jokowi (Presiden saat itu) sebagai Menteri Agama. Ia efektif mengendalikan “mesin tombol” suara PWNU dan PCNU dari unsur ASN kemenag Ri tak kurang dari 150 suara, lewat relasi kuasa politik.
Kini “kemewahan” simpul elektoral tersebut tidak dimiliki lagi oleh Gus Yahya dalam konteks gelaran Muktamar NU ke 35. Gus Yaqut sudah purna tugas, bahkan berakhir relatif “tidak baik baik” saja. Inilah yang disebut dalam khazanah politik moderen sebagai pergeseran “faktor krusial”.
Kedua, faktor Gus Ipul dan Nusron Wahid, dua nama penting dalam variabel sukses terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 34 di Lampung tahun 2021, lima tahun silam. Keduanya semacam duet “kompatriot”, komandan lapangan terpilihnya Gus Yahya – kini telah mengambil jalan “oposisional” terhadap Gus Yahya.
Keduanya, suka tidak suka, piawai memainkan irama konsolidasi dan orkestrasi politik di beberapa kali panggung Muktamar NU. Karena itu, tanpa faktor keduanya Gus Yahya kehilangan “operator sistem” dalam pusaran dinamika suksesi kepemimpinan PBNU dalam Muktamar NU ke 35.
Ketiga, Faktor Gus Muhaimin penting dibaca. Meskipun ia bukan elite struktural PBNU tapi PKB, partai yang dipimpinnya, satu satu nya Partai di Indonesia yang memiliki relasi ekosistem sosial dengan NU di daerah daerah. PKB dan NU ibarat satu atap rumah – hanya beda “kamar”.
Dalam konteks itulah, pengaruh Gus Muhaimin bekerja dalam dinamika Muktamar NU ke 35. Ia hampir pasti tidak berpihak ke faksi Gus Yahya. Di era Gus Yahya relasi PBNU dan PKB, partai yang dipimpin Gus Muhaimin, bukan saja “disharmonis”, bahkan hendak dilemahkan pengaruh politik dan trend elektoralnya.
Aliansi taktis Gus Muhaimin, Gus Ipul dan Nusron Wahid dengan “subsidi” kekuatan baru Profesor Nazarudin Umar sebagai menteri agama – keempatnya diikat dalam satu kabinet pemerintahan Prabowo – tentu sangat dahsyat menyatukan “kelebihan” masing masing dalam kekuatan bersama.
Artinya, bersatunya keempat “the real factor” di atas akan menyulitkan ruang gerak Gus Yahya untuk terpilih kedua kalinya sebagai Ketua Umum PBNU meskipun ia intens konsolidasi ke daerah daerah dan diback up “tim digital” secara canggih.
Gus Ipul sebagai ketua “panitia” yang menghandel tiga agenda besar PBNU (Munas, Konbes dan Muktamar) dalam satu paket bukan perkara “adhoc” dan teknis tapi “operator sistem” dalam pusaran dinamika suksesi dalam Muktamar NU ke 35.
Gus Muhaimin memiliki infrastruktur politik lengkap se Indonesia lewat PKB, partai yang dipimpinnya, untuk meratakan jalan konsolidasi di mana ekosistem sosial NU dan PKB dalam satu atap rumah ke NU an.
Prof Nazarudin Umar sebagai Menteri agama memiliki lumbung suara dari faksi “NU kemenag” lebih dari 150 pemilik suara di Muktamar, sementara Nusron Wahid sudah terlatih dan teruji memainkan irama konsolidasi dan orkestrasi politik di beberapa kali panggung Muktamar NU.
Itulah konstruksi kekuatan empat “the real factor” yang akan menyulitkan Gus Yahya terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU dalam konteks Muktamar NU ke 35.
Problemnya keempat “the real factor” di atas hingga pelaksanaan Munas & Konbes NU di Ploso Kediri (20 -21 Juni 2026) belum sampai pada titik temu kesepakatan tentang “siapa” calon Rois Am dan calon Ketua Umum PBNU yang hendak diusung bersama.
Ini memang tidak sederhana terutama karena Gus Muhaimin, Gus Ipul dan Nusron Wahid adalah politisi, sama sama piawai tapi sekaligus rumit mempertemukan kalkulasi politik di antara mereka.
Di sinilah “tersisa” peluang Gus Yahya bisa terpilih kembali ketika Gus Yahya berhasil memecah aliansi keempat “the real factor” di atas, sayangnya, tim “inner circle” Gus Yahya lebih banyak diisi akademisi, minim pengalaman negosiasi politik kecuali bermain media sosial.
Mari kita tunggu dinamika NU hingga puncak Muktamar NU ke 35 dengan kemungkinan kejutannya, sebuah ruang probabilitas dan kemungkinan yang acapkali sulit diduga ending dan hasil akhirnya.
Wassalam.
——-
![]()
